Analogi Tirai Jendela & Tanggul

Ditulis Oleh: Irse Wilis


Kamarku memiliki sebuah jendela yang akan selalu mendapat sinar matahari ketika pagi hari telah menyapa. Jika cuaca sedang terik, biasanya cahaya matahari akan memasuki ruangan kamarku, tentunya setelah tirai jendelanya di buka. Jika tidak dibuka, maka sinar matahari tidak akan mampu menembus ruangan kamarku karena terhalang oleh tirai tersebut.

Demikian juga sebuah hati yang tertutupi begitu banyak sampah. Entah itu sampah kebencian, kemarahan, kesedihan, kekecewaan, dan luka batin lainnya yang hanya berbentuk seperti kain pembatas/tirai yang menghalangi sinar kemuliaan Tuhan utk memasuki hati dan hidup kita.

Sebenarnya, kehidupan ini sarat dengan masalah dan cobaan bukanlah tanpa arti. Sama seperti emas yang membutuhkan api untuk memurnikan dirinya, demikianlah masalah atau cobaan menerpa manusia adalah untuk memurnikan cinta manusia kepada Tuhan, apakah manusia sungguh tergantung pada Tuhan? Atau malah cenderung tergantung pada kemampuan diri sendiri? Semua masalah dan cobaan tersebut adalah proses yang harus dihadapi untuk meraih mahkota surgawi.

Kain pembatas jendela di kamarku berwarna kuning keemasan, warna yang sangat ceria sebanding dengan paparan sinar matahari yang selalu menyentuhnya di setiap harinya. Kain pembatas jendela adalah alat yang berguna agar segala sesuatu yang terdapat di dalam ruangan, tidak dapat dilihat dari luar ruangan. Bisa dibayangkan bukan, jika harta karun seseorang dapat dilihat dengan jelas dari luar? maka akan menimbulkan keinginan pihak lain untuk memilikinya juga. Jadi, kain pembatas jendela tidak selalu berarti buruk, sama seperti hati seseorang yang tertutup karena sesuatu alasan, hal ini tidak dapat diartikan 100% salah/buruk, karena terkadang keadaan seseorang mengharuskan dia menutup diri dulu untuk mencegah kerusakan hati dan perasaan yang lebih parah.

Kain pembatas jendela tersebut juga mirip seperti sebuah tanggul. Ketika hati seseorang tertutup maka hal itu diperlukan untuk mencegah banjir, entah itu banjir amarah, banjir air mati, banjir kekecewaan, banjir sakit hati dan banjir bandang lainnya. Tanggul itu diperlukan untuk mencegah meluapnya banjir tersebut dan mencegah rembesan air kotor kemana-mana. 

Sama seperti sebuah tanggul yang tidak diperlukan setiap hari, karena tanggul lebih efektif dibutuhkan saat banjir/musim penghujan, demikianlah hati yang tertutup tidak diperlukan terus menerus. Ada saatnya, hati tersebut harus dibuka lebar untuk dapat merasakan rahmat Tuhan, untuk dapat dipulihkan dari luka batin, agar mampu mengalami kedewasaan iman. Tanpa pembukaan diri dan hati, maka mustahil kesembuhan akan diperoleh, mustahil mengalami perubahan ke arah yang lebih baik yang mampu mendekatkan seseorang dengan sumber kebahagiaan sejati.

Untuk itu, marilah pahami keadaan diri kita masing-masing, dan terlebih-lebih mereka yang sedang mengalami banjir bandang, agar selaku sesama saudara dalam iman, kita mampu mengingatkan sesama kita kapan perlu memakai tanggul, kapan perlu membuka tirai jendela dan kapan perlu menutupnya, karena kehidupan ini sungguh dinamis dan memerlukan penyesuaian diri yang terus menerus agar mampu bertahan sampai pertandingan akhir.

Cerita Tentang Ban yang Bocor

Ditulis Oleh: Irse Wilis


Kendaraan beroda dua, tiga atau empat tidak akan asing dengan kehadiran ban yang berada di sisi bawah sebuah kendaraan. Jika melihat sebuah ban, yang terlintas dalam pikiran adalah tentang sebuah karet yang berbentuk bulat dan menjadi salah satu sarana penting untuk mengerakkan suatu kendaraan. Tanpa kehadiran ban, maka kendaraan apapun akan teronggok diam dan merupakan pajangan semata.

Siang itu, ketika berjalan menuju tempat usaha bosku, ban motorku mendadak kempes. “Duh bakal telat nih untuk sampai ke toko bos” pikirku dalam hati. Sambil ngos-ngosan melawan panas terik di siang itu, aku mendorong motorku ke arah tukang tambal ban yang berada di seputaran Jl.Gajah Mada yang sedang ku lewati. Sesampainya di tempat tambal ban tersebut, aku pun duduk di dekat motorku, menunggu montir yang bekerja untuk menambal ban tersebut.

Selama di pinggir jalan raya tersebut, aku sibuk memperhatikan orang-orang yang lalu lalang dengan tidak sabaran. Terlihat juga beberapa pedagang buah yang sibuk berinteraksi dengan beberapa pembeli buah dipinggir jalan gajah mada tersebut. Teringat olehku akan penghasilanku yang tidak kunjung bertambah, ada rasa marah, kecewa dan kesal kepada bos di tempat aku bekerja saat ini. “Mengapa ya..orang kaya cenderung kikir dan menahan berkat buat sesama? Padahal karyawan juga merupakan asset yang harus dijaga perusahaan?” Demikian secuil isi pikiran yang menemaniku di siang itu.

Ban motorku yang sedang aku pandangi, memberi gambaran tentang kehidupan di dunia ini yang harus seimbang. Jika kehidupan seseorang diibaratkan dengan ban motor, maka jika ban tersebut terlalu penuh dengan angin maka motor tersebut akan gampang bocor akibat tekanan yang diterima dari luar begitu kuat, dan tekanan dari dalam juga begitu kuat menolak sehingga, sisi bagian dalam dari ban dalam akan menipis dan menjadi semakin menipis akibat perbedaan tekanan tersebut; yang pada akhirnya akan menimbulkan kebocoran dan kerusakan pada ban dalam tersebut.

Begitu juga dalam kehidupan ini, jika sesuatu masalah dipandang terlalu logis maka akan mengikis rasa percaya akan pertolongan Tuhan yang sungguh nyata lewat mukjizat yang tidak terduga; demikian sebaliknya jika suatu masalah terlalu dipandang dari sisi agama, maka akan menyurutkan semangat untuk maju yang di dukung oleh peningkatan ilmu pengetahuan dan motivasi untuk meraih kesuksesan. Masalah gaji di atas adalah sebuah contoh kecil yang kerap dialami karyawan yang sering menjadi bumerang bagi diri sendiri. Jika, seseorang terlalu logis menyikapi masalah tersebut maka, pintu untuk korupsi akan terbuka lebar, persaingan tidak sehatpun menjadi terbentuk, manusia mungkin bisa jadi, membenci Tuhan yang tidak adil dalam berkat yang diterimanya yang akhirnya menjauhkan manusia dari hakikatnya sebagai makhluk yang secitra dengan Allah. Sebaliknya, jika masalah gaji tersebut dipandang dari sisi agama maka seseorang tersebut akan cenderung pasrah dan tidak berusaha untuk mencari tempat kerja lain yang bisa mendukung peningkatan jenjang karirnya. Rasa syukur yang dibaluti dengan pasrah tapi tidak meningkatkan kemampuan diri sendiri adalah tindakan salah yang tidak rasional yang akan menjadikan seseorang tersebut menjadi pribadi pasif yang tidak kreatif dan dinamis.

Perlu keseimbangan antara intelektual dan rohani, agar tubuh, jiwa dan roh manusia berkembang dengan baik seturut dengan kehendak Allah. Tanpa keseimbangan diantaranya, maka kehidupan manusia sama seperti ban yang bisa rusak akibat tekanan berlebihan dari dalam atau luar ban tersebut.

Dalam kehidupan ini, jalan yang dilalui tidak selalu mulus, perlu tekanan angin yang pas agar ban dalam tidak gampang bocor; perlu keseimbangan intelektual dan rohani agar seorang manusia tahan terhadap berbagai guncangan yang mungkin akan timbul seiring berjalannya waktu.

Begitulah, hasil refleksi yang ku dapat dari tempat tambal ban di siang itu, yang menambah wawasan dan imanku tentang menjalani kehidupan ini.

Anak adalah Investasi

Ditulis Oleh: Irse Wilis 



Kalimat di atas adalah salah satu bagian dari topik obrolan kami di siang itu, tepatnya dengan istri abang sepupuku. Aku tidak ingat topik obrolan kami di siang itu tentang apa, tapi kalimat tersebut mengalir begitu saja dari mulut kakakku. Kalimat itu sungguh mengusik pikiranku ketika salah seorang teman baruku, tidak setuju dengan kalimat tersebut; berbanding terbalik dengan aku yang menganggap kalimat tersebut adalah hal yang masih masuk akal dan tidak berarti jelek.

Jika melihat background keluarga kami yang mayoritas pedagang dan sering berkutat dengan barang, uang dan perekonomian, adalah hal yang wajar untuk membicarakan suatu investasi. Namun, ketika anak dijadikan investasi, kalimatku itu sungguh mengusik teman baruku di grup WA yang baru aku ikuti, dimana dia tidak menyetujui kalimatku tersebut. Aku bisa mengerti ketidaksetujuannya, namun dalam hati dan pikiran terdalamanku, ketidaksetujuannya tersebut membuat suatu gejolak dalam batinku; ibarat gelombang air laut yang perlahan menghempas di dasar sanubariku.

Melihat defenisi investasi tersebut yang sangat identik dengan nilai ekonomi yang berhubungan dengan uang, hal ini dianggap sebagai suatu ajang mendukung penjualan manusia dimana manusia tersebut dilahirkan untuk dijadikan harta, yang kemudian di atur dan dikelola sedemikian rupa sehingga meningkatkan keuntungan bagi orangtua yang memiliki harta tersebut; dimana harta yang dimaksud adalah kehadiran anak dalam keluarga. Pikiran seperti inilah; yang mungkin muncul dalam benak teman baruku tersebut sehingga, dia tidak menyetujui kalimat aku diatas.

Hasil permenunganku tentang kalimat di atas menyadarkan aku betapa kompleksnya pengertian manusia terhadap satu kalimat. Karena pengertian seseorang terhadap suatu hal akan dipengaruhi oleh backgroundnya juga, misalnya: latar belakang pendidikan, agama, suku, kebudayaan dan lain-lain. Hal inilah yang memicu perbedaan pandangan di antara sesama manusia. Perbedaan tersebut adalah hal yang wajar, tidak untuk dipertentangkan, namun cukup dijadikan tambahan pengertian sehingga membuat pengertian kita terhadap sesuatu hal semakin kaya karena berasal dari sudut pandang yang berbeda-beda.

Bagi aku sendiri, anak adalah investasi artinya bahwa kehadiran anak merupakan suatu penanaman modal dalam kehidupan ini. Menanam modal sebagai tanggung jawab terhadap panggilan hidup berkeluarga yang harus menghasilkan buah. Anak adalah investasi juga dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk meningkatkan makna/nilai kehadiran anak dalam keluarga tersebut; yang membuat anak tersebut menjadi sangat berarti, sangat bernilai, sangat istimewa berbeda dengan jenis investasi lainnya. Sekalipun investasi ini unik, namun prinsipnya adalah sama dengan jenis investasi pada umumnya, yang harus dijaga dan dikelola dengan baik, untuk meningkatkan nilai dari harta tersebut. Hal ini TIDAK berarti untuk menjadikan anak sebagai barang atau robot yang harus di setting sedemikian rupa; karena jaga dan kelola yang aku maksud adalah membentuk anak menjadi pribadi yang mengenal penciptaNya yang merupakan sumber kekayaan sejati. Misalnya, menjaga perilaku anak sejak usia dini, dimana asupan hal positif sangat diperlukan agar si anak bertumbuh menjadi manusia seutuhnya. Ibarat tanaman yang harus dipupuk dengan rajin, diberi tanah yang baik dan gembur, serta disiram dengan rajin dan teratur, demikianlah maksud menjaga anak.

Sementara mengelola yang aku maksud adalah mengarahkan anak kepada sumber kehidupan sejati yang akan menjadikan anak sebagai manusia seutuhnya yang sadar akan panggilannya sebagai seorang manusia, sebagai laki-laki atau perempuan. Jadi menjaga dan mengelola bukan merupakan sistem pingitan yang membatasi ruang gerak anak, namun lebih kepada mendidik anak untuk menjadikan nilai kemanusiaannya semakin meningkat; yang pada akhirnya akan menguntungkan orangtua artinya membuat orang tua bangga dan bahagia.

Anak adalah investasi merupakan suatu bentuk realisasi tanggung jawab dari orang tua terhadap kehidupan pernikahannya; dimana masing-masing orangtua terpanggil untuk menjaga dan mengelola harta (anaknya) agar nilai dari harta tersebut semakin tinggi dan pada akhirnya akan menguntungkan orangtua juga. Sebagaimana investasi harus dijaga agar tidak sampai turun nilainya, demikian juga kehadiran anak dalam keluarga agar tidak menjadi beban, tidak menjadi masalah dalam kehidupan pernikahan sehingga orangtua sadar akan peranan dan tanggungjawab masing-masing sebagai seorang bapak atau ibu.

Namun, penting untuk mengingat bahwa anak adalah titipan Ilahi, hasil dari anugerah Tuhan dari pernikahan kedua orangtua sehingga orangtua TIDAK boleh seperti kacang yang lupa akan kulitnya, lupa akan Tuhan yang menciptakan manusia baru tersebut (anak). Jika, manusia tersebut ingat akan Tuhannya, maka tidak ada alasan bagi orangtua untuk mengekang buah hatinya sebagai harta yang harus dikuasai dan dikelola sendiri tanpa campur tangan Tuhan. Karena jika hal ini terjadi, maka kehidupan di keluarga tersebut dapat dipastikan tidak sehat dan akan membentuk anak-anak yang miskin cinta Tuhan, karena cinta yang diperoleh dari orang tua adalah miskin cinta Tuhan. Karena cinta Tuhan adalah cinta yang bebas, setia, total dan berbuah, dimana keempat prinsip ini harus ada dan menjadi satu kesatuan.

Bagi aku, anak adalah investasi adalah bagian dari perjalanan hidup ini dimana dalam kehidupan ini kita harus menghasilkan buah, dimana buah tersebut nampak dari hasil akhir investasi kita tersebut yang harus menghasilkan sesuatu yang baik bagi diri kita sendiri terlebih bagi lingkungan di sekitar kita. Jika buah pelayanan kita belum terlihat ke lingkungan luar, minimal buah tersebut dapat terlihat dari anggota keluarga kita yang semakin cinta Tuhan.

Mengapa cinta Tuhan merupakan tolak ukur kesuksesan investasi di dunia? Jawabnya, karena tanpa Tuhan dalam kehidupan ini, maka kehidupan ini tidak akan pernah ada artinya baik bagi diri sendiri atau bagi orang lain.

Yohanes 15:5 "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa"







Analogi Charger

Ditulis Oleh: Irse Wilis
Jika memperhatikan sebuah charger, apa yang terlintas di benak Anda? Charger adalah sebuah perantara untuk mengantarkan arus listrik ke dalam tempat penyimpanan daya listrik yang disebut baterai. Tanpa Charger, mustahil sebuah baterai akan terisi daya listrik. Itulah sebabnya antara charger dan baterai adalah dua hal yang tak terpisahkan dan saling membutuhkan. Charger tanpa baterai ibarat barang rongsokan yang tidak ada fungsinya.

Jika diri kita dianalogikakan sebagai sebuah charger dan manusia lain sebagai baterai, maka kehidupan kita tidak akan ada artinya jika tidak bermanfaat/mendatangkan hal baik bagi sesama. Jika Tuhan dianalogikakan sebagai arus listrik, maka bagi charger (diri kita) atau baterai(orang lain) sangat membutuhkan arus listrik (Tuhan) tersebut agar dapat berfungsi dengan baik/mendatangkan kebaikan bagi sesama.

Jika baterai tidak mengandung arus listrik, apakah fungsinya bagi perangkat lain? Jika manusia tanpa Tuhan di dalam dirinya, bagaimana manusia tersebut dapat mendatangkan kebaikan bagi alam sekitarnya? Demikian juga jika charger, tidak melekat pada arus listrik, apa yang akan dialirkan charger tersebut? Manusia tanpa hubungan akrab dengan Tuhan/tidak terhubung dengan sumber arus listrik, tidak akan sanggup mengisi kebaikan dalam hidup orang lain artinya tidak akan sanggup membagikan cinta Tuhan karena dia sendiri tidak memiliki daya listrik(cinta Tuhan) dalam dirinya.
Sebagai charger yang adalah alat penyalur cinta Tuhan, setiap manusia hendaknya bertindak TIDAK berdasarkan kepentingannya. Dalam pelayanan di lingkungan gerejapun hendaknya selalu berdasarkan kehendak Tuhan, agar hasilnya nampak nyata dalam kehidupan yang lebih baik dari orang-orang yang ada di sekeliling yang menerima arus listrik (Cinta Tuhan) tersebut. Jika lingkungan sekitar tidak mengalami perubahan, maka perlu dipertanyakan apakah pelayanan tersebut murni karena kehendak Tuhan atau karena kepentingan pribadi seseorang?!.

Karena jika charger bertugas untuk menyalurkan daya listrik, maka daya baterai akan bertambah; sama seperti jika kita melakukan suatu misi dari Tuhan maka orang-orang di sekitar akan mengalami perubahan. Perubahan tersebut memakan waktu dan proses yang tidak cepat, sama seperti baterai ketika di cash dengan charger tidak akan langsung 100% terisi dayanya, begitu juga dengan sebuah perubahan positif yang tidak akan seinstant makanan cepat saji, yang jika diseduh dengan air panas akan langsung berubah menjadi sebuah makanan.

Jika, charger telah berfungsi dengan baik, telah tersambung dengan arus yang tepat, tapi kapasitas baterai tidak bisa full, mungkin baterai tersebut tidak layak pakai alias sudah rusak; sama seperti suatu pelayanan yang tidak berhasil bukan karena kesalahan dari penyampai kabar baik, melainkan karena penerima berita baik tersebut adalah bukan berasal dari orang-orang pilihan Allah/bukan kawanan domba Allah. Dalam hal ini, kita tidak perlu berkecil hati dan teruslah berseru kepada Tuhan agar mencurahkan kerahimanNya pada orang yang bersangkutan; namun jika masih tidak berhasil juga maka segeralah beralih ke baterai lain yang siap untuk diisi dayanya.

Demikianlah, antara charger, listrik dan baterai adalah tiga hal yang saling berkaitan dan tak dapat dipisahkan untuk menghasilkan manfaat bagi perangkat lain, bagi dunia dimana kita berada saat ini.

Dunia Suka Dibohongi, tapi Saya Tidak!

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Apa sih pentingnya penampilan?
Apa sih pentingnya berpakaian mewah, rapi dan cantik?

Pengalaman hari ini mengajarkanku betapa pentingnya suatu penampilan. Hari ini aku mengalami dua kejadian yang sangat membuatku jengkel. Manusia yang ku jumpai beneran tidak seperti manusia seutuhnya dan cenderung melihat sesamanya secara objektif. Hal ini sungguh membuatku jengkel, karena respon "dia" terhadapku sangat tidak bersahabat, tidak profesional dan tidak manusiawi sekali.

Aku yang terbiasa dengan pakaian casual cenderung sepele dengan penampilan, tidak makeup, tidak pakai sepatu bermerek, dan tidak mengendarai mobil yang mewah. Malah mirip seorang sales dengan kaos oblong, celana jeans dan sandal gunung lengkap dengan jaket gombrong kesukaanku. Sales Counter di toko jam yang ku kunjungi siang ini sungguh tidak profesional dan menganggap sepele kehadiranku. Saat aku bertanya ini dan itu dengan ciri khas para penggila diskon yang suka barang murah, hal itu membuat "dia "semakin menyepelekanku. Jam telah menunjukkan hampir jam 12 siang dan hal itu membuat cacingku berdemo ria sehingga membuat emosiku menjadi tidak stabil.

Adapun percakapan kami di siang tadi, sebagai berikut:
 "Kak, jam yang lagi promo di deal medan, barangnya apa ada di sini?", tanyaku. Dengan sedikit malas kakak itu menuju counter jam POLICE incaranku. "Yang mana kak jam yang kamu maksud?" dia balik bertanya padaku. "Aduh, sebentar ya aku buka hp dulu karena aku lupa-lupa ingat bentuk dan model jamnya" sambil berusaha membuka hp. Tiba-tiba seorang rekannya datang dan mencari sesuatu. "Dia" bertanya ke rekannya tersebut dan kemudian dia paham akan jam yang ku maksud. "Dia" menunjukkan jam tersebut padaku. Lantas aku bilang "keluarin dong, aku kan mau lihat barangnya, kalo aku suka jamnya; hari ini langsung ku beli" seruku masih dengan antusias. Disaat itu, ekspresi wajahnya sudah berubah entah karena lapar atau karena malas atau entah lah.

Aku memperhatikan dengan detail jam tersebut, sepertinya barang pajangan dan aku mau yang lebih baru lagi. Lantas aku bertanya "Apa ada barang lainnya?" tanpa menjelaskan maksud pertanyaanku. "Dia" mulai gusar dan menjawab dengan ketus "barangnya cuman itu kak" jawabnya dengan nada tinggi. "Kalo yang ini, aku gak mau" jawabku. "Masa kalian cuman punya satu stok aja? sementara ini lagi promo loh, dan pasti banyak peminatnya" sambungku. " Tidak ada kak" jawabnya dengan malas dan masih dengan nada tinggi. "Selain jam ini, ada lagi gak? jam police yang promonya mirip dengan jam police yang ada di deal medan?" tanyaku berusaha mencari tau manatau ada jam police tipe lain yang lebih kece dan murah. "Kakak lihat sendiri kan di website deal medan kan hanya satu jenis ini yang promo, yang lain tidak ada" jawabnya ketus. Dalam hitungan detik, tensiku langsung naik dan mengembalikan jam yang hampir ku beli itu sambil berkata "cara ngomongmu gak enak kali, ini lah jamnya, gak jadi ku beli" jawabku dengan suara yang bergetar. Bergetar karena aku menjaga supaya tidak lepas kendali; karena kalau lepas kendali, nanti pasti bisa heboh karena aku bisa ngomong sekasar-kasarnya yang bisa melukai harga dirinya. Makanya, aku coba redam amarahku dan berlalu pergi dan segera menyelesaikan transaksiku di deal medan yang kantornya terletak di  situ juga.

Pembicaraan kami tadi, tidak sesingkat seperti yang ku tuliskan di tulisanku ini. Ada kata-kata dan bahasa tubuhnya yang menganggap aku hanya pembeli bohongan. Mungkin karena penampilanku yang biasa-biasa ini , dia menyepelekan kemampuan daya beliku. Dan sebagai balasannya, aku tidak memaki "dia", aku tidak melaporkan "dia" ke bosnya, cukuplah aku tidak belanja di tempat "dia" yang tidak menghormatiku sebagai calon pembeli.

Dalam dunia bisnis, penampilan selalu nomor satu. Tak peduli, apakah yang wah itu belanja dengan kartu kredit atas namanya sendiri atau dengan kartu kredit atas nama orang lain. Sebenarnya tidak salah jika memperhatikan seseorang dari penampilan; yang salah adalah ketika kita menjudge seseorang dari penampilannya. Karena seseorang yang mampu tidak selalu berpakaian wah dan seseorang yang wah tidak selalu mampu membeli dengan kemampuannya sendiri. Dunia penuh dengan kebohongan dan manusia suka sekali dibohongi terutama di bohongi oleh penampilan. Ini pelajaran berharga buatku, untuk tidak menjadi seperti "dia" agar bisnis apapun yang ku jalani menjadi berkat bagi orang lain, alias berdampak baik bagi sesama dan bukan malah memperburuk keadaan/suasana hati orang lain.

Aku membalas tindakan buruk "dia" dengan belanja di tempat lain yang lebih profesional melayani calon pembeli; sekalipun calon pembelinya bertampang gembel seperti aku. Kalau mereka jeli sedikit memperhatikan barang-barang yang ku pakai; itu tidak semurah pikiran mereka dan aku selalu membeli dengan tunai dan tanpa kredit. Bukan untuk pamer, tapi cukuplah "dia" yang mirip dengan siapapun di dunia maya yang luas ini berhenti untuk menjudge seseorang dari penampilan dan belajarnya menjadi ramah, menjadi manusiawi yang penuh cinta, damai dan toleransi dengan manusia dalam bentuk apapun.

Kejadian kedua adalah Bank yang tidak perlu ku sebutkan namanya, dimana prosedur dalam bank itu terkesan bertele-tele dan tidak masuk akal dan sungguh memancingku untuk berbohong soal identitas, namun dasar orang jujur yang gak pandai nipu, dengan polosnya aku jawab rekening tujuan tempat duit setoranku siang ini adalah bukan milikku; dan dengan tegasnya mereka menyuruh mengisi formulir dan macam-macam deh. Niat baikku untuk membantu temanku untuk setor duit nyaris luntur, namun ku pertahankan demi pencapaian misi di siang ini. Bela-belain deh ngisi formulir, tidak cetak buku tabungan, dan bayar parkir mahal walau duit yang disetor cuman sejuta doang.

Inilah efek pencucian uang yang berimbas ke orang kecil seperti aku, yang dicurigai maksud dan setoran duitnya di siang ini. Kadang peraturan yang dibuat manusia sungguh tidak efektif dan efisien sehingga membuat orang-orang kecil khususnya aku, jadi malas nabung di bank yang punya segudang peraturan yang memusingkan seperti bank yang ku kunjungi di siang ini.

Peraturan ada untuk dilanggar, itu terjadi jika peraturan tersebut tidak tepat sasaran; seperti yang ku rasakan siang ini yang nyaris membuat aku menjadi pembohong, tapi untunglah suara hatiku lebih kuat dibanding logikaku. 

Kejadian hari ini, sungguh merupakan gambaran dunia yang sudah sangat jahat dengan pola perilaku yang menyusahkan orang lain; semoga semakin banyak manusia, jujur, bijak dan pemberani seperti Gubernur DKI Ahok, yang bisa menjadi contoh dan teladan nyata dalam dunia di zaman sekarang ini.

Don't judge by cover &
Buatlah peraturan yang tepat sasaran

Itulah dua pesan yang ku dapat lewat kejadian yang ku alami di siang ini.



Sosok Kartini yang Nyata Dalam Kehidupanku

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Ada sebuah lagu yang selalu berhasil membuat aku menangis. Karena di lagu ini, aku masih mendengar suara almh mamaku dengan sangat jelas, dengan suara yang pas-pasan tapi ekspresinya begitu tenang, begitu indah sebagai seorang perempuan dengan beban yang tidak biasa. Lagunya adalah: Ku mau cinta Yesus, selamanya... Ku mau cinta Yesus selamanya... meskipun badai silih berganti dalam hidupku, ku tetap cinta Yesus selamanya.

Seperti siang ini, disaat aku yang begitu mencintai kesunyian tiba-tiba memutar musik dari hpku dan mendengar lagu tersebut, dan bisa ditebak! aku menangis lagi..! Aku merasa begitu rindu dengan sosok beliau, "duh beginikah cara orang meninggal menyampaikan salam rindunya dengan cara yang tiba-tiba?!" pikirku dalam hati. Aku hanya bisa berdoa untuk beliau semoga tenang dan damai bersama Yesus yang dicintainya.

Di hari Kartini ini, sebenarnya tidak ada yang begitu spesial sampai lagu itu memberikan kesan spesial di hati dan pikiranku. Teringat sosok perempuan yang mengajariku banyak hal tentang iman dan tentang kehidupan ini. Mama seorang yang tidak tamat SD tapi mampu mengejar mimpinya menjadi orang  yang sukses. Darinya aku belajar tentang keteguhan dan kesetiaan serta tanggung jawab dan tentang Tuhan yang dia sembah.

Tak bisa dipungkiri, kalau sejarah kehidupan imanku dimulai dari baptisan bayi saat aku belum mengerti apa-apa. Namun, seiring berjalannya waktu; cerita tentang Yesus yang ku dengar di sekolah minggu, dan di gereja serta yang ku baca dari buku cerita Alkitab anak yang diberikan papa; terjelma nyata lewat sosok yang begitu penuh kasih, murah hati dan ramah, dia adalah mamaku. Mamaku begitu mengimani Yesus, dia menjadi teladanku dalam menjalani hidup ini. Salah satu contoh teladan sederhana yang diajarkannya adalah membiasakan diri berdoa, sebelum memulai aktivitas dan setelah mengakhiri hari sebagai ritual kebersamaan kami berdua. Ya, cuman kami berdua yang sangat mencintai rutinitas sebagai sesuatu yang menghidupkan, sama seperti makan yang merupakan rutinitas untuk tetap bertahan dalam menjalani kehidupan yang tidak gampang ini.

Apakah iman hanya rutinitas belaka? Perjalanan hidup menunjukkan betapa rutinitas itu membuat dia mampu melewati setiap masalah dengan kacamata iman, dengan berdoa, dengan sharing bersama kakak rohaninya, dengan mempersembahkan penderitaannya lewat persembahan kasih dan pelayanan. Dari rutinitas tersebut, timbul kebiasaan yang baik, yang perlahan menimbulkan kecintaan dan akhirnya pengharapan dalam penantian akan keselamatan yang dijanjikan oleh Dia; yang memberi harapan keselamatan kekal bagi yang percaya padaNya.

Mamaku adalah sosok Kartini yang nyata dalam kehidupanku karena dia, memberi contoh tentang keteguhan sekalipun badai yang dilaluinya sangat menguras tenaga, hati, pikiran dan tubuhnya. Hanya iman, kasih dan harapan pada Yesus yang mampu membuat dia bertahan pada pernikahannya; yang membuat dia sadar akan perannya sebagai istri sampai akhir perjalanannya di dunia ini. Darinya, aku belajar tentang pelangi setelah hujan, tentang Tuhan yang tidak terlihat namun dapat dirasakan kehadiranNya, tentang perjuangan sebagai manusia yang harus mandiri dan tidak menjadi beban bagi orang lain, dan masih banyak hal lainnya yang tidak mungkin ku sebutkan satu per satu. Mama, telah memulai pendidikan dasar kehidupan dan iman sejak aku masih anak-anak. Dan itu, sungguh membekaliku dalam perjalanan kehidupan ini, sekalipun tanpa kehadiran fisik yang nyata darinya.

Mama sama seperti perempuan lainnya yang memiliki fisik yang lemah dan terbatas, tapi merupakan pejuang yang tangguh dalam kehidupan ini. Banyak kisah perempuan tangguh lainnya yang bisa digoogling sendiri sebagai pembuktian akan ketangguhan para perempuan; yang tujuannya bukan untuk merendahkan lelaki tapi, sekedar mengingatkan kembali bahwa perempuan adalah bagian dari lelaki yang harus dijaga dan dikasihi.

Semoga para perempuan menyadari akan kodratnya dan berusaha tetap setia dan teguh pada perannya, entah sebagai ibu rumah tangga, mama mertua, mama kandung, kakak, saudari, adik dan lain-lain. Kalian adalah sumber inspirasi bagi mereka yang mengagumi kalian secara diam-diam, sama seperti aku yang begitu mengagumi ibu yang telah melahirkanku di dunia ini.

Sekalipun tubuh tak dapat bertemu, tapi aku percaya jiwa kami dapat bertemu dalam doa pada Tuhan yang kami imani bersama.

Terimakasih mama, terimasih atas segala cintamu padaku

Selamat Hari Kartini bagi para perempuan di seluruh dunia, tetaplah menjadi perempuan seutuhnya dan tetaplah kuat

Modesty/Kesopanan

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Ketika trend fashion sudah semakin trendy, hal ini ikut mempengaruhi kebiasaan berpakaian manusia di zaman sekarang ini yang lebih menyukai pakaian yang lebih terbuka. Bagi kebanyakan manusia yang hidup di zaman ini, memperlihatkan sebagian dari bagian tubuh adalah hal yang indah dan termasuk dalam seni atau trend fashion yang harus diikuti. Namun, menurut gereja Katolik hal berbusana seperti ini adalah tidak pantas dan tidak layak. Alasannya:

Katekismus Gereja Katolik : 2521,2522
2521 : Kemurnian menuntut sikap yang sopan. Ini adalah bagian hakiki dari pengekangan diri. Sikap yang sopan memelihara hal-hal pribadi manusia. Ia menolak membuka apa yang harus disembunyikan. Ia diarahkan kepada kemurnian yang perasaan halusnya ia nyatakan. Ia mengatur pandangan dan gerakan sesuai dengan martabat manusia dan hubungan di antara mereka.
2522 : Sikap sopan melindungi rahasia pribadi dan cinta kasihnya. Ia mengundang untuk bersabar dan mengekang diri dalam hubungan cinta kasih; ia menuntut, bahwa prasyarat-prasyarat untuk ikatan definitif dan penyerahan timbal balik dari suami dan isteri dipenuhi. Dalam sikap sopan itu termasuk pula kerendahan hati. Ia mempengaruhi pemilihan busana. Di mana ia mengira bahwa ada bahaya sikap ingin tahu yang tidak sehat, di sana ia berdiam diri dan bersikap hati-hati. Ia menjaga keintiman orang lain.

Ada sebuah opini yang pernah saya dengar tentang: “Pemerkosaan terjadi karena kesalahan pria dalam memandang pakaian wanita” Statement tersebut terkesan menghakimi kaum pria tanpa pernah berpikir realistis bahwa, siapapun itu akan dapat tergoda dan terangsang jika melihat sesuatu yang pribadi (sebagian dari bagian tubuh) di perlihatkan di hadapan publik. Jika tidak memiliki gejolak batin seperti itu, maka yang bersangkutan dapat dipertanyakan kenormalannya sebagai manusia, yang memang tercipta dengan gejolak birahi yang bisa timbul ketika melihat sesuatu yang pribadi seperti itu. Ingat kembali kisah Adam dan Hawa setelah diusir dari Taman Eden, disaat itulah manusia mulai memandang sesamanya dengan objektif. Jadi, pakaian yang dikenakan seseorang sangat menentukan respek manusia lainnya terhadap dia (dia yang berpakaian).

Jika masing-masing orang mengejar kemurnian dalam mencintai Tuhan, maka sudah seharusnya setiap orang menjaga kesopanan dalam berbusana. Karena martabat seseorang dapat dilihat dari penampilannya (pakaian yang di kenakannya) sehari-hari. Pakaian yang dikenakan seseorang menunjukkan betapa pentingnya melindungi bagian pribadi yang tidak seharusnya di pamer di hadapan publik; karena apabila sering dipamer seperti itu; dimana letak berharganya?

Manusia memiliki bagian-bagian pribadi yang sudah seharusnya dijaga dan dirawat dengan baik; sebagai bukti syukur kepada Pencipta yang telah menciptakannya dengan begitu sempurna. Berbusana yang sopan akan menghadirkan respek yang baik dari lawan jenis karena mereka mampu melihat kodrat dan martabat seseorang dari cara berbusana yang sopan.

Jadi, jika kita hendak mengurangi tingkat kejahatan maka sudah seharusnya setiap orang memilih untuk berpakaian yang sopan  agar masing-masing orang memancarkan nilai berharga yang dimilikinya lewat penampilannya setiap hari.

Berpakaian sopan tidak harus mengenakan pakaian branded, pakaian mewah dan mahal. Cukup kenakan pakaian yang nyaman dipakai dan sesuai dengan kodratnya serta tidak menonjolkan bagian tubuh yang pribadi; dengan demikian maka kesopanan dapat terpenuhi.