Tampilkan postingan dengan label Analogi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Analogi. Tampilkan semua postingan

Analogi Tirai Jendela & Tanggul

Ditulis Oleh: Irse Wilis


Kamarku memiliki sebuah jendela yang akan selalu mendapat sinar matahari ketika pagi hari telah menyapa. Jika cuaca sedang terik, biasanya cahaya matahari akan memasuki ruangan kamarku, tentunya setelah tirai jendelanya di buka. Jika tidak dibuka, maka sinar matahari tidak akan mampu menembus ruangan kamarku karena terhalang oleh tirai tersebut.

Demikian juga sebuah hati yang tertutupi begitu banyak sampah. Entah itu sampah kebencian, kemarahan, kesedihan, kekecewaan, dan luka batin lainnya yang hanya berbentuk seperti kain pembatas/tirai yang menghalangi sinar kemuliaan Tuhan utk memasuki hati dan hidup kita.

Sebenarnya, kehidupan ini sarat dengan masalah dan cobaan bukanlah tanpa arti. Sama seperti emas yang membutuhkan api untuk memurnikan dirinya, demikianlah masalah atau cobaan menerpa manusia adalah untuk memurnikan cinta manusia kepada Tuhan, apakah manusia sungguh tergantung pada Tuhan? Atau malah cenderung tergantung pada kemampuan diri sendiri? Semua masalah dan cobaan tersebut adalah proses yang harus dihadapi untuk meraih mahkota surgawi.

Kain pembatas jendela di kamarku berwarna kuning keemasan, warna yang sangat ceria sebanding dengan paparan sinar matahari yang selalu menyentuhnya di setiap harinya. Kain pembatas jendela adalah alat yang berguna agar segala sesuatu yang terdapat di dalam ruangan, tidak dapat dilihat dari luar ruangan. Bisa dibayangkan bukan, jika harta karun seseorang dapat dilihat dengan jelas dari luar? maka akan menimbulkan keinginan pihak lain untuk memilikinya juga. Jadi, kain pembatas jendela tidak selalu berarti buruk, sama seperti hati seseorang yang tertutup karena sesuatu alasan, hal ini tidak dapat diartikan 100% salah/buruk, karena terkadang keadaan seseorang mengharuskan dia menutup diri dulu untuk mencegah kerusakan hati dan perasaan yang lebih parah.

Kain pembatas jendela tersebut juga mirip seperti sebuah tanggul. Ketika hati seseorang tertutup maka hal itu diperlukan untuk mencegah banjir, entah itu banjir amarah, banjir air mati, banjir kekecewaan, banjir sakit hati dan banjir bandang lainnya. Tanggul itu diperlukan untuk mencegah meluapnya banjir tersebut dan mencegah rembesan air kotor kemana-mana. 

Sama seperti sebuah tanggul yang tidak diperlukan setiap hari, karena tanggul lebih efektif dibutuhkan saat banjir/musim penghujan, demikianlah hati yang tertutup tidak diperlukan terus menerus. Ada saatnya, hati tersebut harus dibuka lebar untuk dapat merasakan rahmat Tuhan, untuk dapat dipulihkan dari luka batin, agar mampu mengalami kedewasaan iman. Tanpa pembukaan diri dan hati, maka mustahil kesembuhan akan diperoleh, mustahil mengalami perubahan ke arah yang lebih baik yang mampu mendekatkan seseorang dengan sumber kebahagiaan sejati.

Untuk itu, marilah pahami keadaan diri kita masing-masing, dan terlebih-lebih mereka yang sedang mengalami banjir bandang, agar selaku sesama saudara dalam iman, kita mampu mengingatkan sesama kita kapan perlu memakai tanggul, kapan perlu membuka tirai jendela dan kapan perlu menutupnya, karena kehidupan ini sungguh dinamis dan memerlukan penyesuaian diri yang terus menerus agar mampu bertahan sampai pertandingan akhir.

Analogi Charger

Ditulis Oleh: Irse Wilis
Jika memperhatikan sebuah charger, apa yang terlintas di benak Anda? Charger adalah sebuah perantara untuk mengantarkan arus listrik ke dalam tempat penyimpanan daya listrik yang disebut baterai. Tanpa Charger, mustahil sebuah baterai akan terisi daya listrik. Itulah sebabnya antara charger dan baterai adalah dua hal yang tak terpisahkan dan saling membutuhkan. Charger tanpa baterai ibarat barang rongsokan yang tidak ada fungsinya.

Jika diri kita dianalogikakan sebagai sebuah charger dan manusia lain sebagai baterai, maka kehidupan kita tidak akan ada artinya jika tidak bermanfaat/mendatangkan hal baik bagi sesama. Jika Tuhan dianalogikakan sebagai arus listrik, maka bagi charger (diri kita) atau baterai(orang lain) sangat membutuhkan arus listrik (Tuhan) tersebut agar dapat berfungsi dengan baik/mendatangkan kebaikan bagi sesama.

Jika baterai tidak mengandung arus listrik, apakah fungsinya bagi perangkat lain? Jika manusia tanpa Tuhan di dalam dirinya, bagaimana manusia tersebut dapat mendatangkan kebaikan bagi alam sekitarnya? Demikian juga jika charger, tidak melekat pada arus listrik, apa yang akan dialirkan charger tersebut? Manusia tanpa hubungan akrab dengan Tuhan/tidak terhubung dengan sumber arus listrik, tidak akan sanggup mengisi kebaikan dalam hidup orang lain artinya tidak akan sanggup membagikan cinta Tuhan karena dia sendiri tidak memiliki daya listrik(cinta Tuhan) dalam dirinya.
Sebagai charger yang adalah alat penyalur cinta Tuhan, setiap manusia hendaknya bertindak TIDAK berdasarkan kepentingannya. Dalam pelayanan di lingkungan gerejapun hendaknya selalu berdasarkan kehendak Tuhan, agar hasilnya nampak nyata dalam kehidupan yang lebih baik dari orang-orang yang ada di sekeliling yang menerima arus listrik (Cinta Tuhan) tersebut. Jika lingkungan sekitar tidak mengalami perubahan, maka perlu dipertanyakan apakah pelayanan tersebut murni karena kehendak Tuhan atau karena kepentingan pribadi seseorang?!.

Karena jika charger bertugas untuk menyalurkan daya listrik, maka daya baterai akan bertambah; sama seperti jika kita melakukan suatu misi dari Tuhan maka orang-orang di sekitar akan mengalami perubahan. Perubahan tersebut memakan waktu dan proses yang tidak cepat, sama seperti baterai ketika di cash dengan charger tidak akan langsung 100% terisi dayanya, begitu juga dengan sebuah perubahan positif yang tidak akan seinstant makanan cepat saji, yang jika diseduh dengan air panas akan langsung berubah menjadi sebuah makanan.

Jika, charger telah berfungsi dengan baik, telah tersambung dengan arus yang tepat, tapi kapasitas baterai tidak bisa full, mungkin baterai tersebut tidak layak pakai alias sudah rusak; sama seperti suatu pelayanan yang tidak berhasil bukan karena kesalahan dari penyampai kabar baik, melainkan karena penerima berita baik tersebut adalah bukan berasal dari orang-orang pilihan Allah/bukan kawanan domba Allah. Dalam hal ini, kita tidak perlu berkecil hati dan teruslah berseru kepada Tuhan agar mencurahkan kerahimanNya pada orang yang bersangkutan; namun jika masih tidak berhasil juga maka segeralah beralih ke baterai lain yang siap untuk diisi dayanya.

Demikianlah, antara charger, listrik dan baterai adalah tiga hal yang saling berkaitan dan tak dapat dipisahkan untuk menghasilkan manfaat bagi perangkat lain, bagi dunia dimana kita berada saat ini.

Analogi Rujak Dalam Kehidupan Manusia

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Rujak adalah makanan yang pas jika dikonsumsi disaat hari terasa terik dan gerah. Rujak banyak jenisnya, namun jenis yang sangat familiar adalah rujak manis, dimana bumbunya terdiri dari kacang goreng, gula merah, buah sirsak, dan cabe rawit. Walaupun rujak banyak jenisnya, namun satu hal yang sama diantara semua jenis rujak ini adalah memiliki berbagai jenis buahan. Ada yang manis, seperti jambu, pepaya, semangka, melon dan ada yang asam seperti nenas, mangga, kendondong, belimbing, dan lain sebagainya.

Melihat seporsi rujak mengingatkan saya kepada sosok manusia yang memiliki banyak mood, perasaan, sikap dan sifat. Manusia tidak pernah sama, tidak pernah ada yang abadi dalam diri manusia karena semua yang ada dalam diri manusia cenderung dinamis dan berubah-ubah. Semenit bisa tertawa, menit berikutnya bisa marah dan menit berikutnya bisa bahagia lagi. Banyak kejadian yang terjadi dan bisa mengubah kondisi kejiwaan/perasaan seseorang.

Jika seorang manusia diibaratkan seperti sepiring rujak, berarti seorang manusia sudah seharusnya terdiri dari berbagai jenis sifat, sikap dan perilaku; dan hendaknya kita sebagai sesama manusia, mampu menikmati rujak tersebut (lebih toleran terhadap perbedaan yang ada). Karena, sama seperti sepiring rujak yang tidak akan enak jika terdiri dari satu jenis buah doang (misalkan buah manis doang), begitu juga seorang manusia yang tidak akan pernah manis (sikap/tindakan) selamanya. Ada saatnya, manusia menjadi sedih, gelisah, semangat, putus asa, bahagia, marah, kecewa, dan lain-lain. Sebagai bagian dalam masyarakat yang majemuk hendaknya perilaku orang lain, tidak menjadi bensin yang membakar habis semua kebaikan dalam diri kita.

Jangan biarkan keburukan orang lain mengotori niat baik kita untuk berteman dan bersosialisasi dengan siapapun. Marilah lebih toleran terhadap perbedaan sikap, sifat dan perilaku manusia lainnya; sebagai sebuah warna warni yang indah di dalam kehidupan ini.

Marilah menikmati sepiring rujak dengan berbagai rasa buah yang terkandung di dalamnya yang pastinya akan menambah kenikmatan, ketika bumbu rujaknya (kasih dalam diri kita) melimpah ruah dan menenggelamkan berbagai jenis rasa asam, manis, dan asin tersebut.

Cerita Tentang Kain Luntur

 Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Pagi ini aku sebal sekali lantaran melihat kenyataan bahwa aku lupa memisahkan antara kain luntur dan kain lainnya. Hasilnya, kainku yang lain terkena lunturan celana hitam tersebut. Biasanya, sebelum merendam kain, aku memisahkan antara kain luntur dan kain biasa. Mungkin karena semalam lagi ngantuk berat dan otakpun tidak bisa diajak kompromi, jadilah, celana hitam tersebut bercampur dengan kain lainnya.

Sebal sekali melihat kenyataan bahwa karena satu celana hitam, kain lainnya ikut terkena dampaknya. Tiba-tiba terlintas dalam benakku perihal sifat seseorang yang sensitif jika bercampur dengan teman lainnya, yang sering menimbulkan konflik yang dapat merusak persahabatan. Aku ingat seorang teman yang memiliki kelompok pertemanan yang beranggotakan lima orang. Mereka berteman sudah cukup lama, sekitar tiga tahunan. Salah satu diantara mereka memiliki karakter yang sensitif yang sering membawa perasaan segala sesuatunya. Sampai suatu ketika, sifat sensitif tersebut berhasil merusak hubungannya dengan salah satu anggota dan berdampak besar pada kelompok pertemanan mereka tersebut. Akibat permusuhan tersebut, mereka saling tidak cakapan dan sampai hari ini tidak dapat berteman seakrab dulu lagi.

Sifat sensitif mirip seperti celana hitamku yang luntur dan mengotori kain lainnya. Sifat yang merusak dan meninggalkan kesan buruk bagi orang lain. Hal ini, bukan berarti kita harus menjauhkan diri dari mereka yang sensitif; melainkan kita harus memberitahukan mereka perihal sifat buruk mereka tersebut. Harusnya, sebagai sesama teman akan mudah untuk memulai komunikasi ke arah ini, sehingga si sensitif tau menempatkan diri dan memisahkan diri ketika obrolan di grup bisa berdampak ke perasaannya; sama seperti celana hitamku yang harus dipisahkan di tempat tersendiri.

Dalam pertemanan akan banyak sifat-sifat manusia yang kita jumpai, ada yang friendly, ada yang easy going, ada yang ramah, ada yang baik hati dan ada juga yang urakan, jahil, pemarah ataupun sensitif. Sama seperti kain yang bercampur dalam satu tempat yang sama, demikianlah keragaman yang ada bersatu dalam kelompok pertemanan tertentu misalnya komunitas, organisasi, perkumpulan, dll. Beranekaragam sifat bisa bercampur karena manusia itu unik dan bisa saling menyesuaikan diri dengan sifat orang lain. Namun, jika si sensitif bertemu dengan manusia lainnya maka, perasaan sensitifnya mampu menjadi bumerang yang bisa menghancurkan dirinya sendiri.

Sebenarnya, sensitif itu baik adanya jika berada dalam lingkup yang wajar. Namun, akan sangat mengganggu jika kadarnya berlebihan dan menjadikan seseorang over pekah terhadap sifat atau sikap orang lain. Kitapun, harusnya bisa pekah melihat si sensitif ini agar tidak merusak pertemanan yang ada, dengan cara lebih toleran dan sabar dalam berteman dengan si sensitif tersebut.

Bagaimanapun, seperti kain yang beranekaragam bercampur dalam ember yang sama, hendaknya segala sifat dan sikap manusia mampu berbaur dengan komunitas manusia secara universal, karena kalo tidak maka manusia tidak akan dikatakan manusia; karena hakikat manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa sendiri, sama seperti kain; kalo kain dicuci satu per satu maka hanya akan membuang air dan membuat tagihan air meningkat. Sama seperti jika berdiri sendiri tanpa teman-teman lainnya, yang hanya merugikan diri kita sendiri akibat kurang sosialisasi.

Celana hitam yang luntur pagi ini, mengingatkanku betapa pentingnya memilah milah sifat dan sikap ketika berada dalam suatu komunitas pertemanan, jangan sampai sifat dan sikap burukku merusak persahabatan yang sudah terjalin lama.

Cerita dan Analogi Pohon di Suatu Taman

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Di suatu desa, yang masih sangat asri dan hijau terdapat banyak pepohonan dan tanaman rindang lainnya. Tampak dari jauh, sebuah pohon cendana yang telah dipagari. Di sekelilingnya terdapat pagar yang membuat jarak pemisah antar pengunjung taman itu dengan pohon tersebut. Pohon tersebut begitu rindang dan sangat indah sehingga banyak sekali yang ingin mendekati pohon tersebut atau hanya sekedar untuk berfoto di pohon indah tersebut.

Di suatu siang yang terik, pohon tersebut menggerutu kepada langit yang ada di atasnya. Diam-diam, ternyata pohon cendana tersebut menyimpan amarah kepada pemilik yang telah memeliharanya sampai saat ini.

Dalam desiran bayu yang menggerakkan daun-daunnya..si pohon cendana berteriak, "Aku benci keadaanku ini!, aku tidak dapat disentuh dan menyentuh mereka yang ada di sekeliling ku, pagar ini membatasi ruang gerakku!"

Langit yang diatasnya cuman tersenyum dan semakin membiru akibat pantulan biasan sinar matahari di siang itu.

Samar-samar terdengar dan terasa oleh si pohon cendana, seorang anak kecil yang memeluknya dari bawah.

Anak tersebut begitu nakal, dan berusaha memanjati pohon cendana yang begitu tinggi menjulang.
Di tengah peristrahatannya sambil memeluk si pohon cendana,  si anak kecil berkomentar. .katanya:
"Hai pohon cendana..kamu sangat indah dan begitu besar, aku ngak mampu menggapaimu, aku ingin ke atas..ke rantingmu untuk melihat dunia yang ada di sekitarku..aku iri padamu..karena kamu begitu besar..begitu kuat..dan begitu indah, seandainya kamu bisa mengerti perkataan ku..ketahuilah aku iri.." dengan suara kecilnya dia berteriak seolah menjadi tarzan hutan yang perkasa.

Si pohon cendana membalas omongannya dengan gemerisik dedaunan yang dihembus sang bayu di siang yang terik itu.

Perlahan..si anak kecil tersebut mencapai dahan pertama dan duduk bersandar di batang pohon yang telah menguras seluruh energinya di siang itu.

"Wahh..pemandangan sangat indah ya.. di atas sini..! Aku ngak pernah menyangka dunia ternyata sangat luas..! Selama ini yang ku tau hanyalah..rumah dan sekolah..tempatku mondar mandir di setiap harinya" celoteh bibir mungil anak kecil tersebut.

Dalam diam, pohon cendana, kembali berkeluh kesah dalam hatinya:" aku iri padamu bocah! Kamu bisa kesana kemari, sementara aku teronggok diam di tanah ini.., malah dibatasi oleh pagar yang membatasi ruang gerak ku. Aku ngak bisa bersosialisasi dengan tanaman dan pepohonan yang ada di taman ini"

Anak kecil yang seakan mendengar suara hati si pohon cendana tersebut kembali berceloteh sendiri.."aku iri padamu pohon cendana! pemilik taman ini begitu menyayangi mu..memelihara mu dengan baik..memberi pupuk sehingga daunmu rindang dan buahmu banyak.. aku iri karna selama ini, aku tidak pernah dipelihara dengan baik karena kedua orangtua telah pergi meninggalkanku! Kamu dipagari..supaya kamu tidak rusak..oleh tangan-tangan usil yang bisa saja menyayat batangmu..karena kami iri dengan keperkasaan mu! Sudah sepatutnya nya kamu berbahagia..pohon!".

Dalam kemarahannya yang semakin menjadi-jadi..pohon tersebut berbisik lagi dalam hatinya:" aku jenuh dengan keadaan ku ini, yang bagai di sangkar emas. Segala sesuatu begitu terlihat sempurna, padahal aku sangat buruk! Kulit ku berkerut tidak seperti batang pohon pisang yang halus, tidak ada satupun yang sungguh menyayangiku, mereka cuman memanfaatkan aku, menggunakan buahku untuk memperkaya diri mereka, dan menjadikan aku pajangan di balik pagar ini, di taman ini".

Si anak kecil dalam sorot mata yang penuh semangat, mulai mendekati buah pohon cendana. .menciumnya dan menikmati aromanya..wuah..sangat wangi..tidak ada loh...pohon yang menghasilkan buah sewangi ini. Batangmu sangat nyaman..membuatku gampang untuk memanjatimu..coba seandainya batangmu seperti pohon pisang..aku ngak kan sampai sejauh ini.. Kamu indah banget, pohon cendana... !Si anak kecil memeluk pohon tersebut dalam dekapan tangannya yang kecil, seolah-olah menemukan tempat dan teman yang nyaman di siang itu.

Percakapan yang terjadi di siang itu, seolah dua arah, yang saling sahut menyahut sampai senja memisahkan mereka, dan si anak kecil masih terus bermain di taman itu sampai sekarang. Dalam keheningan bersama antara si anak kecil dan pohon cendana terselip perasaan damai yang tidak pernah mereka sadari, baik oleh pohon ataupun oleh anak kecil tersebut ketika dia bermain bersama teman yang lain. Dan si pohon cendana pun mulai menyadari bahwa, dia ngak pernah sendiri; karena kelakuan dan omongan si anak kecil perlahan membuka pikirannya dan menyadarkan dia, bahwa selama ini, hatinya beku sehingga tidak mampu membuka matanya untuk melihat dan menyadari bahwa dia terlalu indah, dan punya banyak teman yang senantiasa berkunjung ke dahan maupun rantingnya; termasuk anak kecil yang bawel ini.

-end-

Manusia itu ibarat pohon, Orang tua adalah pihak yang menabur benih pohon tersebut, yang bertugas untuk menjaga, memelihara dan merawat benih tersebut. Setiap hari benih tersebut di siram dan dipupuk supaya tumbuh subur.

Tidak gampang untuk memelihara sebuah benih sampai bisa tumbuh besar dan subur. Perlu ketekunan, ketabahan dan kekuatan untuk merawatnya.

Kadang dalam perjalanan pertumbuhan benih tersebut, banyak hal yang dianggap buruk oleh benih tersebut.  Contoh, siraman pestisida yang mematikan hama yang dapat menimbulkan penyakit. Seperti omongan kasar, penuh amarah ketika anak berbuat salah. Kadang omongan seperti ini dipandang ngak layak untuk diucapkan.  Mengingat resiko jika larangan tersebut tidak diutarakan, maka omongan kasar tetap dianggap penyelamat, yang mampu membatasi kelakuan anak supaya tidak semakin liar dan brutal. Ada orang yang dari sananya memiliki tutur kata yang lembut, sopan dan bersahaja, dan ada pula yang sebaliknya.  Jika kita mengenal orang tua  kita dengan baik, sudah sepantasnya kita dapat memaklumi perlakuan kasar seperti itu.

Namun, mungkin kita berbantah dan mengatakan, sampai kapan manusia bisa tahan jika dikasari terus?
Nah..kalo ngak tahan dengan omongan kasar tersebut, silahkan diomongkan dengan orangtua karena jika tidak ngomong, maka ngak bakal ada yang tau bahwa kamu terusik dengan kelakuan mereka. Banyak solusi yang tercipta jika komunikasi terjadi secara dua arah.  Jika hal ini masih tidak memungkinkan, mungkin kamu perlu pihak ketiga sebagai penengah atau perantara yang menyampaikan perasaanmu tersebut.

Contoh hal buruk lainnya yang dipandang oleh benih, adalah: pagar yang mengelilingi pohon tersebut.  Dalam cerita pohon cendana di atas, pagar sering dipandang sebagai batasan yang tidak perlu. Anak terkadang tidak sadar betapa liarnya kelakuan mereka, yang dapat membahayakan diri mereka sendiri. Sudah selayaknya orangtua memagari anaknya, agar tidak masuk dalam pergaulan yang salah.

Pagar yang memagari tersebut bukanlah penghalang untuk bersosialisasi. Karena, akan ada pihak-pihak yang mampu menembus pagar itu dan meraih apa yang tersembunyi di balik pagar tersebut. Pihak tersebut adalah teman, sahabat, saudara, saudari atau pasangan hidup.
Sekalipun pagar tersebut mengelilingi pohon cendana; jangan lupa, bahwa pohon tumbuh ke atas bukan ke samping, jadi, dia akan tetap mampu meraih dahan ataupun ranting pohon yang berseberangan atau berdampingan dengan dia, yang artinya bahwa pribadi yang terkekang tetap dapat menjadi seseorang yang berhasil dan mampu meraih kebahagiaan jika dia mau, untuk memulai dan mencoba sesuatu yang mendukung perkembangannya menjadi pribadi yang dewasa secara jasmani dan rohani.

Dan yang terakhir, jangan pernah melupakan, bahwa pertumbuhan itu adalah hak dan kuasa Tuhan. Berserulah selalu kepada Tuhan agar pertumbuhanmu, menghasilkan buah yang baik bagimu dan orang-orang di sekitarmu.

Analogi Rumah Dalam Konteks Kehidupan Manusia

 Ditulis Oleh: Irse Wilis

Ketika memasuki dunia ini, kita seperti sedang berjalan masuk ke dalam sebuah rumah; dimana rumah tersebut memiliki ruangan-ruangan khusus sesuai fungsinya. Ada rumah mewah, ada rumah sederhana dan ada rumah yang sangat sederhana. Beranekaragam bentuk rumah menggambarkan keluarga tempat kita dilahirkan apakah keluarga kaya, menengah atau miskin. Kita tidak dapat memilih mau memasuki rumah yang mana karena semua sudah diatur oleh Sang Pencipta, yang mengutus kita untuk masuk ke tiap-tiap rumah sesuai dengan kehendakNya.

Hal ini, bukan berarti bahwa Allah tidak adil dengan menganugerahkan kesempatan berbeda bagi tiap manusia. Allah adil, termasuk saat Dia menempatkan kita di dalam rumah yang sangat sederhana. Kita hanya perlu tau, apa maksud Tuhan dalam kehidupan ini di dalam rumah ini. Pengetahuan tersebut hanya akan terpenuhi jika kita bergaul akrab dengan Dia sumber pengetahuan dan kebijaksanaan. TuntunanNya, akan mampu menjadikan kita sebagai mutiara yang berharga di suatu keluarga/komunitas tertentu.

Keberagaman di dunia ini adalah akibat dari manusia yang memilih untuk berjuang sendiri tanpa Allah (Ingat kembali kisah pengusiran Adam dan Hawa dari Taman Eden; dimana saat itu manusia telah memberontak pada Allah dan mulai hidup seperti Allah yang tau akan apa yang baik dan yang jahat). Pemberontakan manusia terhadap Allah adalah langkah awal manusia yang memilih untuk berjuang sendiri dalam mengarungi kehidupan ini. Dosalah (dosa asal), yang membentuk perbedaan-perbedaan dalam kehidupan manusia; antara orang kaya, orang miskin, dan orang berkecukupan.

Rumah tempat kita berada saat ini ibarat sebuah kehidupan yang memiliki tempat-tempat khusus. Ada lorong yang menghubungkan antar ruangan dan ada tangga untuk mencapai bagian rumah/ bagian kehidupan yang lebih tinggi; dimana semakin tinggi kita melangkah ibarat seperti mencapai lantai atas dari sebuah gedung tinggi, dimana langit dapat dipandang dengan luas (mampu merasakan Allah lebih dekat dan nyata).


Di sebuah rumah terdapat banyak ruangan; ada ruangan keluarga tempat dimana rasa bahagia, kebersamaan, keakraban terjadi dan terbentuk. Seperti suatu sisi kehidupan dimana kita berada di tempat yang menerima kita sebagai sebuah pribadi dan menyayangi kita dengan kasih yang tulus. Selanjutnya, ada ruangan untuk memasak, dimana aktivitas untuk mematangkan sesuatu terjadi di ruangan ini, sama seperti suatu fase dalam hidup dimana kita diuji dengan berbagai permasalahaan dan penderitaan yang bertujuan untuk mendewasakan kita dalam hidup ini. Ruangan lainnya adalah ruang tamu tempat kita berkumpul bersama tamu-tamu yang datang dalam rumah kita, seperti sebuah fase kehidupan dimana kita bertemu banyak orang dan bergaul dengan mereka dalam komunitas/ hubungan khusus lainnya. Di ruang tamu ini terdapat banyak sukacita dan kadang dukacita terutama jika tamu yang datang tidak menciptakan keharmonisan melainkan, menjadi seteru dalam dunia sosial kita. Tempat lainnya dalam sebuah rumah adalah kamar mandi, dimana kita membersihkan segala kekotoran kita dengan air yang segar dan sabun yang wangi; sama seperti suatu fase dalam hidup ini dimana kita membutuhkan pengampunan dosa, untuk membersihkan diri kita dari sedosa-dosa, sehingga menciptakan kesegaran baru dan pertumbuhan iman yang lebih dewasa. Ruang tidur adalah tempat dimana kita mengistrahatkan diri kita sejenak dari segala aktivitas dunia, sama seperti retret/rekoleksi yang kita ikuti yang bertujuan untuk memulihkan kembali bagian rohani kita yang mungkin mengalami kekeringan atau keletihan.

Lorong-lorong di setiap rumah ibarat seperti waktu dan kesempatan untuk merasakan sesuatu sesuai dengan ruangan yang kita tuju; dimana tujuan kita hendaknya selalu mengarah ke lantai atas untuk lebih dekat dengan pemandangan langit; yang tentunya lebih indah dan tenang, sama seperti suatu fase kehidupan yang telah mengalami kedewasaan iman dan kebijaksanaan; sehingga mampu mengolah setiap persoalan/permasalahan dari sudut pandang kacamata rohani.

Tangga yang menghubungkan lantai bawah dan lantai atas ibarat tempat dimana kita dididik untuk lebih mengenal Dia; seperti komunitas doa, atau kelompok kategorial lainnya dimana tempat itu merupakan wadah dan perantara kita, untuk masuk dalam tahapan pertumbuhan iman yang lebih dewasa.

Begitulah, bagian-bagian dari sebuah rumah yang beranekaragam bentuk dan warna yang menciptakan sebuah keindahan dalam dunia ini. Seseorang perlu mampu memahami arti dirinya sendiri, agar mampu bertahan hidup dalam sebuah rumah dalam setiap lorong dan ruangan yang akan dilewatinya.

Semoga kita semua hidup semakin mengarah ke atas dan jangan stuck di tempat yang nyaman terus menerus; karena hal itu tidak baik bagi diri kita sendiri. Sama seperti jika kita terus berada di dalam kamar mandi, kita tidak akan mampu menikmati bagian rumah lainnya dan tidak akan lebih sehat; karena berada di dalam kamar mandi dalam jangka waktu yang lama, bisa membuat badan menggigil kedinginan; sama seperti manusia yang terlalu religius yang dapat berujung pada fanatisme dan jauh dari logika.

Nikmatilah rumah dimana kita berada, dalam setiap ruangan yang harus kita lewati dan tempati, dan percayalah bahwa kita akan menemukan sesuatu yang berharga di setiap sudut dalam rumah tersebut. Semoga Tuhan menyertai langkah kita selalu dan memberikan pengertian akan arti kehidupan bagi kita pribadi lepas pribadi.Semoga...Amin.

Analogi Resleting-2 dalam Hubungan antar manusia

 Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Resleting memiliki banyak bentuk dan warna yang berbeda-beda, ada yang berwarna merah, biru, hitam, kuning, dll. Ada yang ukurannya pendek, ada yang ukurannya sedang dan ada yang ukurannya panjang. Ada yang berbahan keras seperti besi, dan ada yang berbahan lembek seperti kain.

Seperti juga hubungan keluarga; ada keluarga besar, ada keluarga mini, ada keluarga orang kaya, ada keluarga sederhana, dan ada juga keluarga miskin, banyak jenis hubungan di dunia ini yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Apabila separoh dari resleting kain, digabungkan dengan separoh resleting tas.. apakah itu menjadi paduan yang pas? Bisakah kepala tesleting menutup dengan mudah? Saya pikir tidak!  Dan bentuknya pun akan menjadi aneh.

Sama seperti seseorang Katolik yang berusaha masuk ke lingkungan hidup orang beragama lain. Pasti TIDAK akan selaras! Pola pikir dan perbuatannya pasti bertentangan. Memang keberagaman itu indah. Tapi tidak untuk mencampuradukkannya. Setiap orang, berdiri dengan keyakinan yang dia anut. Tanpa berusaha memaksa untuk mengubah orang lain menjadi seperti dirinya.  Sama seperti resleting tadi, kalo resleting kain, pasti akan ideal jika ketemu kain yang pas. Bukan malah dipasangkan ke celana jeans atau tas ransel. Itu tidak akan berfungsi dan mungkin malah memperburuk penampilan.

Jadi, jika seseorang mirip seperti resleting kain, janganlah sesekali berusaha masuk ke celana jeans atau koper. Itu tidak akan pas karena bukan pasangan yang pas. Hal ini TIDAK berarti bahwa kita tidak boleh berteman dengan orang lain. Karena sama seperti resleting yang punya bentuk dan warna yang berbeda-beda tapi masing-masing punya peranan tersendiri dan punya tempat tersendiri. Resleting yang berwarna merah, akan apik jika dipasangkan dengan celana yang berbahan dasar merah. Sama seperti seorang Katolik, akan sangat ideal jika dia berkumpul bersama kawanan seiman, sevisi dan semisi yang sama,agar semakin bertumbuh dalam iman.

Apakah resleting biru dan resleting warna lainnya tidak boleh bertemu? Bersama dalam tempat yang sama?

Coba perhatikan toko benang/kancing..  di stelengnya pasti telah tersusun aneka warna dan jenis resleting. Semuanya bisa bersentuhan tapi pemakaiannya harus sesuai pada tempatnya. Seperti kita yang beranekaragam ini, boleh berteman, boleh bersahabat, tapi tidak untuk bersatu (bersatu dalam ikatan pernikahan).

Ingatlah quote yang berbunyi: air dan minyak tidak akan pernah bersatu demikianlah resleting kain tidak akan bisa bersatu dengan segala sesuatu yang berbahan dasar keras seperti koper atau jeans yang tidak sesuai dengan bahan dasar resleting tersebut.

Menjadi Seorang Katolik Yang Mengenal dan Memahami Katolik

 Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Mengenal hukum gereja katolik dan kekatolikan secara umum tidak melulu memisahkan saya dan kamu. Kamu yang saya maksud adalah mereka yang suka berpikir dan berpendapat bahwa saya lebih religius dibandingkan dengan mereka, sehingga saya bisa dikategorikan sebagai selibat religius alias suster.

Jika dianalogikakan dengan kewarganegaraan, menjadi seorang Katolik sama seperti menjadi warga negara Indonesia. Menjadi warga negara Indonesia, sudah pasti saya dan kamu semua, mengenal Indonesia tuh apa, hukumnya apa, budayanya seperti apa, orang-orangnya gimana. Apakah itu berarti kita harus mendalami hukum negara Indonesia barulah dikatakan sebagai orang Indonesia? Apakah kita harus menjadi antropolog barulah bisa dikatakan bahwa kita adalah orang Indonesia yang mengenal kebudayaan dan karakter manusia Indonesia? Apakah jika kita belajar PPKN/PMP waktu di sekolah dasar dulu, lantas kita sudah bisa dikategorikan ahli hukum/budaya Indonesia?

Menjadi seorang warga negara Indonesia pastilah sudah tau dasar-dasar negara kita tuh apa. Pancasila itu apa, minimal tau lah kapan Indonesia merdeka dan mengapa ada pemasangan bendera sewaktu tanggal 17 Agustus. Demikian juga menjadi seorang Katolik, minimal bisa menjawab mengapa Katolik itu ada tanda salib, mengapa setiap minggu menyantap Tubuh dan Darah Kristus, apa itu sakramen tobat, dll.

Jika seorang warga negara Indonesia lebih mengetahui sistem perpajakan di Indonesia lantaran pernah dibahas di salah satu mata kuliah sewaktu kuliah di jurusan Akuntansi, apakah seseorang tersebut layak disebut sebagai ahli pajak? Dan apakah keinginannya untuk mengetahui perpajakan itu TIDAK NORMAL lantaran tidak seperti orang Indonesia lainnya yang tidak mengerti pajak (khususnya mereka yang tinggal di perkampungan)?

Pertanyaan di atas jika dikaitkan dalam kehidupan sebagai jemaat di sebuah gereja khususnya Katolik, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa lebih mengenal gereja Katolik dan hukum Katolik secara umum adalah hal yang WAJAR dan sepatutnya diteladani, karena ada pepatah, tak kenal maka tak sayang, maka setiap orang Katolik harusnya mengenal tempat dimana dia berada, supaya bisa mencintai tempat dimana dia tinggal saat ini, dan kalo kita bayangkan, bagaimana seandainya jika setiap umat Katolik hanya sebagai Katolik KTP, sama seperti orang Indonesia tercatat di KTP tapi sama sekali buta soal Indonesia..? Bisa-bisa saat 17-Agustus tidak akan ada lagi perayaan apa-apa, karena setiap orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, atau setiap orang akan sembarangan dalam bertindak seolah-olah tidak ada hukum yang mengaturnya.

Mengenal dan mengerti kekatolikan bukan berarti menjadi seorang teolog atau filsuf. Inti dari kekatolikanlah yang perlu dipahami agar tidak mudah terseret oleh arus dunia yang sangat menggoda. Menjadi Katolik sejati BUKAN berarti menjadi fanatik dan menjadikan setiap orang menjadi katolik. Tuhan yang diimani oleh gereja Katolik adalah Tuhan yang pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setiaNya (Mazmur 145:8: “TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya”), dimana hal-hal ekstrim yang tidak memancarkan kasih sudah bisa dipastikan adalah TIDAK SESUAI dengan ajaran dan ciri khas katolik.

Tuhan itu akan terpancar dengan sendirinya ketika seseorang mengimani ajaran yang dianutnya. Tidak perlu berdebat sana sini hanya untuk mempromosikan sesuatu, atau menghujat sana sini dengan sistem menghakimi yang subjektif,cintailah manusia dengan kasih yang tulus, murni dan mesra maka semuanya akan jadi persembahan yang berkenan bagi Allah.

Pertanyaan lain dari kamu yang sangat menggelitik pikiranku adalah: Apakah jika mengenal hukum, kenal dan memahami segala sesuatunya lantas menjadi jaminan bahwa aku tidak akan menyimpang dan tersesat?! Jawabku: coba analogikakan, kita berada dalam sebuah perahu dan tidak punya apa-apa, terdampar di laut yang luas dan tak terselami, tanpa kompas apakah kita bisa sampai pada tujuan? Tanpa memahami cara kerja kompas, apakah kompas itu akan berfungsi? Demikian juga dengan katolik dengan ajaran, hukum dan tradisinya sama seperti kompas tersebut.

Jadi, apabila dalam mengarungi samudera kehidupan yang luas ini tidak berpegang pada tuntunan yang ada, dapat dipastikan seseorang tersebut tidak akan sampai kepada tujuan. Mengetahui cara kerja kompas tidak menjadi jaminan keselamatan bagi orang tersebut KARENA keputusan dan tindakannyalah yang menentukan dia bisa sampai ke tujuan atau tidak.

Akhir kata, sebagai seorang manusia yang sama-sama berada dalam lingkungan gereja Katolik hendaknya saling mengingatkan, karena dengan sharing iman akan saling menambah pengetahuan dan iman, tanpa pengenalan akan Tuhan yang kita imani maka semua yang kita wartakan ibarat gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing, jadi percuma berbuat baik kalo baik yang kita lakukan tidak berdasarkan hukum tempat kita berada, karena kebaikan menurut pemikiran kita belum tentu baik yang sebenarnya.

Hidup adalah peperangan melawan yang jahat, maka sudah seharusnya kita memperlengkapi diri kita dengan senjata iman/perlengkapan senjata Allah (baca efesus Efesus 6:11-17,klik). Jangan mengandalkan diri sendiri dan kepandaian sebagai manusia karena, sebagai manusia kita adalah makhluk yang sangat terbatas, Allahlah yang memampukan kita mengarungi samudera kehidupan ini dengan dasar iman dan kekuatan dari Nya.

Sekali lagi, tak kenal maka tak sayang, begitu juga dalam kehidupan iman menjadi seorang katolik. Berusahalah untuk menjadi orang Katolik yang benar-benar tau akan Kekatolikan, sehingga kita tidak menjadi abu-abu.

Analogi Resleting dalam Hubungan antar Manusia

 Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Jika kita memperhatikan bentuk resleting, sebenarnya bentuknya adalah SATU tetapi terdiri dari dua buah sisi yang berbeda, yang di satukan oleh kepala resleting. Sama seperti dua insan yang berlainan jenis yang dipersatukan dalam satu rel yaitu agama yang sama dalam sakramen perkawinan kudus, dimana Kristuslah yang mengepalai bahtera rumah tangga tersebut.

Tanpa kepala resleting..apakah resleting akan berfungsi? Tanpa Yesus yang menjadi fokus utama dalam sebuah perkawinan;  hubungan tersebut akan sia-sia karena masing-masing insan melupakan Tuhannya dan lebih egois dalam mengapresiasikan cinta, mungkin dalam bentuk pengekangan terhadap pasangan, cinta objektif pada pasangan (menganggap pasangan sebagai pelampiasan nafsu/lust) atau dengan mengutamakan pasangan dibandingkan Tuhannya (pokoknya berdua saja… dan melupakan kebiasaan rohani yang menumbuhkan iman seperti doa bersama,  misa bersama, atau pelayanan bersama)

Begitupula jika resleting tersebut dipandang sebagai sebuah hubungan persahabatan. Dua insan yang dipersatukan dalam hubungan persahabatan, jika tanpa Yesus; maka persahabatan itu akan sia-sia; hanya hura-hura, hanya menikmati kesenangan dunia dan melupakan tangan kasih Tuhan yang telah mempertemukan mereka.

Apakah ini berarti bahwa, kita tidak boleh menjalin persahabatan dengan teman yang beda agama? Menurut saya sah-sah aja kalo kita bersahabat dengan teman yang beragama lain. Tapi hubungan persahabatan tersebut tidak akan menumbuhkan iman kita, persahabatan tersebut tidak akan maksimal; malah semakin membuat kita abu-abu karena minyak dan air tidak akan pernah bersatu.

Jika dalam hidup ini kita mencari Tuhan..maka kita akan berusaha membangun hubungan yang akan menumbuhkan iman kita kepada Allah yang SATU; untuk itu sudah seharusnya pertemanan dimulai dengan teman-teman seiman yang sama-sama saling belajar untuk lebih mencintai Tuhan yang kita kasihi.

Kembali ke resleting.. yang terdiri dari rel yang menyatukan, dengan kepala yang satu, begitu pula hidup kita yang  berbeda ini (ada pelajar, karyawan, guru, mahasiswa, dll) disatukan dalam gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik, menjadi sebuah keluarga kerajaan Allah dimana Kristuslah yang menjadi kepalanya.

Sebuah komunitas adalah wujud nyata keluarga kerajaan Allah yang berusaha membangun karakter yang semakin menyerupai Kristus. Lebih fokus kepada mencintai tubuh sendiri dan orang lain sebagai wujud nyata kasih kepada Allah.

Resleting yang berfungsi baik akan mendatangkan manfaat bagi pengguna resleting tersebut, demikian pula sebuah hubungan akan terasa maknanya jika telah berfungsi sesuai dengan hakikatnya. Untuk itu, perlu melihat ke dalam hubungan masing-masing apakah sungguh-sungguh menghadirkan Kristus dalam setiap harinya, ataukah malah berjalan masing-masing tanpa arah yang jelas, ibarat resleting yang memiliki kepala dan berfungsi sebagai resleting atau malah sebagai resleting yang tidak mempunyai kepala dan hanya merupakan hiasan demi kesenangan, gengsi atau topeng untuk menutupi sesuatu hal.

Marilah kita renungkan bersama.

Tangki Cinta dalam Analogi Gelas dan Air

Seseorang yang bahagia adalah ibarat gelas yang berisi penuh dengan air; dimana gelas tersebut memiliki isi yang bisa dibagikan kepada mereka yang membutuhkan air. Manusia memiliki kehendak yang kuat untuk dicintai dan mencintai karena pada awal penciptaan manusia, selalu didasarkan cinta. Sama seperti Adam dan Hawa yang diciptakan Tuhan untuk dicintai dengan kata lain menerima cinta Tuhan. Dan Tuhan sendiri sebagai sumber cinta yang memberi cintaNya kepada makhluk ciptaanNya. Dasar inilah yang membuat manusia memiliki tangki cinta yang bisa diibaratkan dengan sebuah gelas dan cinta itu diibaratkan dengan air.

Manusia dengan sesamanya memiliki rasa ingin dicintai dan mencintai karena dasar pokok pembentukkannya adalah cinta, sehingga setiap manusia selalu ingin mencari..mencari dan terus mencari cinta supaya tangki cintanya penuh. Jika tidak menemukan cinta maka tangki cintanya kosong dan menyebabkan manusia tersebut jatuh ke dalam tindakan jahat untuk mencari cinta dengan cara yang salah. Contoh: seorang remaja wanita yang terjun kedalam dunia prostitusi karena kekurangan kasih sayang dari keluarga, seorang remaja pria yang terikat pornografi karena mencari cinta yang tidak ditemukannya di dunia nyata, mungkin karena tidak pede, pendiam, pemalu yang membuatnya menutup diri dan melampiaskannya ke hal-hal yang berbau pornografi, seorang suami yang mencari hiburan di luar rumah karena keadaan dalam rumahnya tidak terasa cinta, dan lain lain.

Karakter manusia yang siap dicintai dan mencintai nampak dari kadar kebahagiaan yang dia miliki. Ibarat sebuah gelas; jika belum berisi air tentunya gelas tersebut tidak akan sanggup untuk berbagi air dengan yang lain, sama seperti manusia yang masih bermasalah (sakit hati,galau,kecewa, sedih, dll) tidak akan bisa menjalin hubungan dengan yang lain karena dia sendiri belum memiliki air (cinta) di dalam dirinya.

Inilah masalah pokok yang sering mengakhiri hubungan cinta para pasangan di zaman sekarang ini, ketika seseorang yang kosong ketemu dengan seseorang lain yang kosong dan hanya berusaha mengisi kekosongan, bagaimana mau berhasil mengisi kekosongan, kalau gelasnya belum ada airnya?!

Untuk itu, perlu terlebih dahulu untuk membahagiakan diri sendiri dengan cara, menghubungi sumber cinta yang akan mengisi kekosongan tangki cinta manusia. Hanya Tuhan yang punya stok cinta yang tidak pernah habis, dari dulu sampai sekarang; Dia sangat setia mencintai manusia yang mencari dan mencintai Dia. Tuhan tidak pernah menolak cinta manusia tapi justru manusia yang suka menolak cinta Tuhan karena terlalu egois dan merasa hebat dan tidak mengandalkan Tuhan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Hanya mereka yang mengisi tangki cinta dengan cinta Tuhan yang tidak akan pernah lelah dalam mencintai sesama manusia yang mencari dan membutuhkan cinta. Kenapa tidak lelah? Karena stok cinta mereka banyak, karena mereka selalu terhubung dengan cinta Ilahi yang memampukan mereka bertahan ketika tersakiti, tersenyum ketika kecewa, berbesar hati ketika kesalahpahaman terjadi. Tuhanlah yang membuat manusia mampu untuk bertahan karena Tuhan melimpahi cintaNya ke dalam pribadi yang mengandalkan dan mencintai Dia. (Bdk 1 Yohanes 4: 7-10)

Jadi, sebelum memulai sebuah hubungan cinta usahakan anda bahagia dulu, ibarat gelas yang berisi air, ketika gelas sudah penuh maka airpun (cintapun) siap untuk dibagikan kepada dia yang pantas untuk menerimanya.


Analogi Lampu

Kita ambil sebuah contoh bola lampu pijar seperti gambar di samping. Bila diperhatikan ada 3 komponen penting dalam sebuah bola lampu yaitu: bola lampu, gas pengisi dan kaki lampu. Bola lampu adalah bentuk dari sebuah lampu ada yang berbentuk bola, jamur, lilin atau lustre dan terdiri dari berbagai warna, ada merah, hijau, kuning, dll. Jika diibaratkan manusia, maka bola lampu ini adalah fisik manusia yang beranekaragam, ada yang gemuk, kurus, tinggi, pendek, hitam, putih, sawo matang,dll

Bagian penting kedua dari sebuah lampu adalah gas pengisi untuk mengisi bola lampu tersebut, biasanya gas bertekanan rendah seperti argon, neon, kripton dan xenon atau gas yang tidak bersifat reaktif seperti nitrogen. Ibarat manusia yang memiliki karakter kejiwaan yang beda-beda. Kejiwaan yang dimaksud adalah sifat, perilaku, kepribadian termasuk kecerdasan. Dalam hal ini, ada yang berjiwa sosial tinggi, ada yang aktif, yang pasif, yang cerdas, yang mandiri, dsb.

Bagian penting ketiga dari sebuah lampu adalah kaki lampu, yang berbentuk ulir (Kode huruf e=Edison) dan kaki lampu berbentuk bayonet (kode B) . Ibarat Roh manusia yang  satu dan kudus yang berasal dari Allah. Namun pada kenyataan saat ini, manusia yang be-roh itu terdiri dari dua, manusia yang masih mengakui Allah sebagai pemilik Roh yang bersemayam didalam tubuhnya (manusia yang berTuhan) dan manusia yang tidak mengakui Allah sehingga tampak seperti manusia yang tidak memiliki roh.

Manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh (1 Tesalonika 5:23: “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.”). Ketiganya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan. Jika kehilangan salah satu unsur penting ini, manusia tidak menjadi manusia seutuhnya. Contoh tubuh tanpa jiwa ibarat pasien yang berada di rumah sakit jiwa, tubuh tanpa roh ibarat teroris atau mayat, jiwa dan roh yang tidak memiliki tubuh ibarat hantu yang ada di film horor. hahahaha :D

Ketiga unsur yang membentuk manusia sama seperti Trinitas Maha Kudus, yang saling berhubungan, yang berkaitan, tidak dapat dipisahkan dan ketiganya adalah SATU.

Jadi, sebenarnya manusia itu baik adanya karena ada ROH ALLAH yang bersemayam di dalam tubuhnya. Namun, manusia sering sekali TIDAK SADAR, LUPA ATAU PURA-PURA TIDAK TAU, bahwa dia memiliki Tuhan yang berkuasa atas tubuhnya. Manusia kehilangan arti sesungguhnya dari dirinya sebagai makhluk yang mulia.

Manusia perlu terus menerus terhubung dengan Tuhan agar tetap hidup, sama seperti LAMPU kalau tidak terhubung dengan listrik apakah dia akan berfungsi sesuai fungsinya untuk menerangi ruangan?

Begitu juga saya dan anda semua, diciptakan BUKAN tanpa tujuan. Kita semua diciptakan untuk MENERIMA CINTA TUHAN dan untuk menciptakan kerajaan Allah di dunia ini, kerajaan damai, kerajaan cinta, kerajaan sejahtera yang telah dirancang Tuhan jauh sebelum dunia ini diciptakan.

Bagaimana mewujudkannya?

Dengan menjaga kemurnian diri untuk mencapai kekudusan sehingga mampu menampilkan yang tidak kelihatan (TUHAN) dalam tubuh kita yang kelihatan ini.

Untuk itu, Tetaplah terhubung dengan sumber cahaya, agar cahaya yang kita pancarkan terus menyala...menerangi sekitar kita...memberi kehangatan bagi manusia yang telah kehilangan cinta dalam dirinya.