Tampilkan postingan dengan label hasil dari refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hasil dari refleksi. Tampilkan semua postingan

"Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?" (Matius 12:48)

Ditulis Oleh: Irse Wilis


Kita dilahirkan di dunia ini tentunya memiliki anggota keluarga, entah itu ayah, ibu atau saudara-saudari kandung dan kerabat keluarga lainnya dari pihak bapak atau pihak ibu. Keluarga yang dimaksud adalah mereka yang memiliki hubungan darah dengan diri kita. Sewaktu hidup di dunia, Yesus juga memiliki anggota keluarga kandung dan kerabat keluarga lainnya. Tetapi mengapa pada Matius 12:46-50 perikop “Yesus dan sanak saudaraNya”; Yesus menampilkan kesan tidak sopan seolah-olah tidak menghargai kedatangan anggota keluargaNya yang berusaha menemui Dia? (Matius 12:46).

Setelah merenungkan perikop ini, saya menemukan hal menarik dalam perjalanan iman mengikuti Yesus. Dimana yang menjadi anggota keluarga Allah adalah lebih menekankan IMAN dan PERBUATAN yang sesuai dengan ajaran Yesus dibandingkan hubungan darah dengan anggota keluarga di dunia. Tuhan Yesus TIDAK mengajarkan untuk menjadi anak durhaka yang lupa akan keluarga, orangtua dan sanak saudara, karena Yesus sendiri sangat mengasihi keluargaNya, misalnya sewaktu mengadakan mukjizat pada pesta perkawinan di Kana dimana Yesus mengikuti kehendak ibu kandungNya.

Yang Tuhan Yesus inginkan adalah iman yang melebihi hubungan keluarga; dimaksudkan agar setiap insan lebih mengutamakan Tuhan dibandingkan kepentingan diri/atau keluarga yang bersangkutan. Contohnya: ketika seseorang ditugaskan untuk menjadi pemazmur pada perayaan Ekaristi, dan pada saat yang bersamaan ibunya meminta dia untuk mengantarkannya ke rumah saudara, maka “dia” haruslah lebih bijak dalam memilih hal terpenting bagi sesama.

Perlu dikaji, apakah ibu tersebut mengunjungi saudara hanya untuk ngobrol biasa atau ada tujuan penting lainnya? Apakah rencana tersebut tidak bisa digeser ke waktu lain sehingga jam pelayanan “dia” di gereja tidak terganggu? Apakah ada pihak yang menggantikan posisi pemazmur tersebut semisalnya “dia” tidak bertugas. Dan pertimbangan lainnya. Yang dalam hal ini tentunya harus lebih memilih kepentingan umat Tuhan dibandingkan kepentingan diri sendiri/keluarga.

Tuhan menginginkan setiap manusia menjadi beriman adalah bukan hanya sekedar menjadi pengagum yang tidak melaksanakan ajaran dan kehendakNya dalam hidup ini. Karena di zaman sekarang ini, santapan rohani sudah sangat berlimpah sementara pekerja di ladang Tuhan atau yang berbuat sesuai kehendakNya sangat sedikit bahkan nyaris habis. Dimanakah generasi penerus gereja? Yang harus meneruskan karya pelayanan Yesus bagi dunia ini? agar dunia selamat?

Renungkanlah perkataan Yesus tentang Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?" maka diharapkan setiap orang percaya pada Yesus kembali menjadi pelaku Firman dan menyadari perannya dalam tugas pewartaan kerajaan Allah dengan terlibat aktif dalam kegiatan yang ada di gereja paroki masing-masing.

Hal lainnya yang saya temukan dalam perkataan Yesus ini adalah: bahwa menjadi keluarga Allah adalah terbuka bagi semua orang dan tidak dibatasi oleh hubungan darah/ ras/ suku tertentu. Tuhan tidak terbatas sehingga tidak membatasi setiap insan untuk mendekat kepadaNya. Semua manusia diundang untuk menjadi warga kerajaan Allah namun hanya sedikit yang terpilih; karena untuk memasuki kerajaan Allah itu harus melalui pintu yang sempit dan sesak. (Matius 17:13: Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; Matius 17:14 karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya).

Setiap manusia terpanggil untuk memperoleh keselamatan, namun hanya sedikit yang memperolehnya karena hanya sedikit yang bertahan dalam iman dan pengharapan. Apakah Anda termasuk yang sedikit itu?

Kesimpulan: Menjadi pengikut Yesus adalah menjadi pelaku firman, meneladan hidup Yesus, bersahabat akrab dengan Yesus sehingga kita layak menjadi saudara-saudariNya dan layak menjadi ahli waris kerajaan Allah.

Analogi Tirai Jendela & Tanggul

Ditulis Oleh: Irse Wilis


Kamarku memiliki sebuah jendela yang akan selalu mendapat sinar matahari ketika pagi hari telah menyapa. Jika cuaca sedang terik, biasanya cahaya matahari akan memasuki ruangan kamarku, tentunya setelah tirai jendelanya di buka. Jika tidak dibuka, maka sinar matahari tidak akan mampu menembus ruangan kamarku karena terhalang oleh tirai tersebut.

Demikian juga sebuah hati yang tertutupi begitu banyak sampah. Entah itu sampah kebencian, kemarahan, kesedihan, kekecewaan, dan luka batin lainnya yang hanya berbentuk seperti kain pembatas/tirai yang menghalangi sinar kemuliaan Tuhan utk memasuki hati dan hidup kita.

Sebenarnya, kehidupan ini sarat dengan masalah dan cobaan bukanlah tanpa arti. Sama seperti emas yang membutuhkan api untuk memurnikan dirinya, demikianlah masalah atau cobaan menerpa manusia adalah untuk memurnikan cinta manusia kepada Tuhan, apakah manusia sungguh tergantung pada Tuhan? Atau malah cenderung tergantung pada kemampuan diri sendiri? Semua masalah dan cobaan tersebut adalah proses yang harus dihadapi untuk meraih mahkota surgawi.

Kain pembatas jendela di kamarku berwarna kuning keemasan, warna yang sangat ceria sebanding dengan paparan sinar matahari yang selalu menyentuhnya di setiap harinya. Kain pembatas jendela adalah alat yang berguna agar segala sesuatu yang terdapat di dalam ruangan, tidak dapat dilihat dari luar ruangan. Bisa dibayangkan bukan, jika harta karun seseorang dapat dilihat dengan jelas dari luar? maka akan menimbulkan keinginan pihak lain untuk memilikinya juga. Jadi, kain pembatas jendela tidak selalu berarti buruk, sama seperti hati seseorang yang tertutup karena sesuatu alasan, hal ini tidak dapat diartikan 100% salah/buruk, karena terkadang keadaan seseorang mengharuskan dia menutup diri dulu untuk mencegah kerusakan hati dan perasaan yang lebih parah.

Kain pembatas jendela tersebut juga mirip seperti sebuah tanggul. Ketika hati seseorang tertutup maka hal itu diperlukan untuk mencegah banjir, entah itu banjir amarah, banjir air mati, banjir kekecewaan, banjir sakit hati dan banjir bandang lainnya. Tanggul itu diperlukan untuk mencegah meluapnya banjir tersebut dan mencegah rembesan air kotor kemana-mana. 

Sama seperti sebuah tanggul yang tidak diperlukan setiap hari, karena tanggul lebih efektif dibutuhkan saat banjir/musim penghujan, demikianlah hati yang tertutup tidak diperlukan terus menerus. Ada saatnya, hati tersebut harus dibuka lebar untuk dapat merasakan rahmat Tuhan, untuk dapat dipulihkan dari luka batin, agar mampu mengalami kedewasaan iman. Tanpa pembukaan diri dan hati, maka mustahil kesembuhan akan diperoleh, mustahil mengalami perubahan ke arah yang lebih baik yang mampu mendekatkan seseorang dengan sumber kebahagiaan sejati.

Untuk itu, marilah pahami keadaan diri kita masing-masing, dan terlebih-lebih mereka yang sedang mengalami banjir bandang, agar selaku sesama saudara dalam iman, kita mampu mengingatkan sesama kita kapan perlu memakai tanggul, kapan perlu membuka tirai jendela dan kapan perlu menutupnya, karena kehidupan ini sungguh dinamis dan memerlukan penyesuaian diri yang terus menerus agar mampu bertahan sampai pertandingan akhir.

Cerita Tentang Ban yang Bocor

Ditulis Oleh: Irse Wilis


Kendaraan beroda dua, tiga atau empat tidak akan asing dengan kehadiran ban yang berada di sisi bawah sebuah kendaraan. Jika melihat sebuah ban, yang terlintas dalam pikiran adalah tentang sebuah karet yang berbentuk bulat dan menjadi salah satu sarana penting untuk mengerakkan suatu kendaraan. Tanpa kehadiran ban, maka kendaraan apapun akan teronggok diam dan merupakan pajangan semata.

Siang itu, ketika berjalan menuju tempat usaha bosku, ban motorku mendadak kempes. “Duh bakal telat nih untuk sampai ke toko bos” pikirku dalam hati. Sambil ngos-ngosan melawan panas terik di siang itu, aku mendorong motorku ke arah tukang tambal ban yang berada di seputaran Jl.Gajah Mada yang sedang ku lewati. Sesampainya di tempat tambal ban tersebut, aku pun duduk di dekat motorku, menunggu montir yang bekerja untuk menambal ban tersebut.

Selama di pinggir jalan raya tersebut, aku sibuk memperhatikan orang-orang yang lalu lalang dengan tidak sabaran. Terlihat juga beberapa pedagang buah yang sibuk berinteraksi dengan beberapa pembeli buah dipinggir jalan gajah mada tersebut. Teringat olehku akan penghasilanku yang tidak kunjung bertambah, ada rasa marah, kecewa dan kesal kepada bos di tempat aku bekerja saat ini. “Mengapa ya..orang kaya cenderung kikir dan menahan berkat buat sesama? Padahal karyawan juga merupakan asset yang harus dijaga perusahaan?” Demikian secuil isi pikiran yang menemaniku di siang itu.

Ban motorku yang sedang aku pandangi, memberi gambaran tentang kehidupan di dunia ini yang harus seimbang. Jika kehidupan seseorang diibaratkan dengan ban motor, maka jika ban tersebut terlalu penuh dengan angin maka motor tersebut akan gampang bocor akibat tekanan yang diterima dari luar begitu kuat, dan tekanan dari dalam juga begitu kuat menolak sehingga, sisi bagian dalam dari ban dalam akan menipis dan menjadi semakin menipis akibat perbedaan tekanan tersebut; yang pada akhirnya akan menimbulkan kebocoran dan kerusakan pada ban dalam tersebut.

Begitu juga dalam kehidupan ini, jika sesuatu masalah dipandang terlalu logis maka akan mengikis rasa percaya akan pertolongan Tuhan yang sungguh nyata lewat mukjizat yang tidak terduga; demikian sebaliknya jika suatu masalah terlalu dipandang dari sisi agama, maka akan menyurutkan semangat untuk maju yang di dukung oleh peningkatan ilmu pengetahuan dan motivasi untuk meraih kesuksesan. Masalah gaji di atas adalah sebuah contoh kecil yang kerap dialami karyawan yang sering menjadi bumerang bagi diri sendiri. Jika, seseorang terlalu logis menyikapi masalah tersebut maka, pintu untuk korupsi akan terbuka lebar, persaingan tidak sehatpun menjadi terbentuk, manusia mungkin bisa jadi, membenci Tuhan yang tidak adil dalam berkat yang diterimanya yang akhirnya menjauhkan manusia dari hakikatnya sebagai makhluk yang secitra dengan Allah. Sebaliknya, jika masalah gaji tersebut dipandang dari sisi agama maka seseorang tersebut akan cenderung pasrah dan tidak berusaha untuk mencari tempat kerja lain yang bisa mendukung peningkatan jenjang karirnya. Rasa syukur yang dibaluti dengan pasrah tapi tidak meningkatkan kemampuan diri sendiri adalah tindakan salah yang tidak rasional yang akan menjadikan seseorang tersebut menjadi pribadi pasif yang tidak kreatif dan dinamis.

Perlu keseimbangan antara intelektual dan rohani, agar tubuh, jiwa dan roh manusia berkembang dengan baik seturut dengan kehendak Allah. Tanpa keseimbangan diantaranya, maka kehidupan manusia sama seperti ban yang bisa rusak akibat tekanan berlebihan dari dalam atau luar ban tersebut.

Dalam kehidupan ini, jalan yang dilalui tidak selalu mulus, perlu tekanan angin yang pas agar ban dalam tidak gampang bocor; perlu keseimbangan intelektual dan rohani agar seorang manusia tahan terhadap berbagai guncangan yang mungkin akan timbul seiring berjalannya waktu.

Begitulah, hasil refleksi yang ku dapat dari tempat tambal ban di siang itu, yang menambah wawasan dan imanku tentang menjalani kehidupan ini.

Anak adalah Investasi

Ditulis Oleh: Irse Wilis 



Kalimat di atas adalah salah satu bagian dari topik obrolan kami di siang itu, tepatnya dengan istri abang sepupuku. Aku tidak ingat topik obrolan kami di siang itu tentang apa, tapi kalimat tersebut mengalir begitu saja dari mulut kakakku. Kalimat itu sungguh mengusik pikiranku ketika salah seorang teman baruku, tidak setuju dengan kalimat tersebut; berbanding terbalik dengan aku yang menganggap kalimat tersebut adalah hal yang masih masuk akal dan tidak berarti jelek.

Jika melihat background keluarga kami yang mayoritas pedagang dan sering berkutat dengan barang, uang dan perekonomian, adalah hal yang wajar untuk membicarakan suatu investasi. Namun, ketika anak dijadikan investasi, kalimatku itu sungguh mengusik teman baruku di grup WA yang baru aku ikuti, dimana dia tidak menyetujui kalimatku tersebut. Aku bisa mengerti ketidaksetujuannya, namun dalam hati dan pikiran terdalamanku, ketidaksetujuannya tersebut membuat suatu gejolak dalam batinku; ibarat gelombang air laut yang perlahan menghempas di dasar sanubariku.

Melihat defenisi investasi tersebut yang sangat identik dengan nilai ekonomi yang berhubungan dengan uang, hal ini dianggap sebagai suatu ajang mendukung penjualan manusia dimana manusia tersebut dilahirkan untuk dijadikan harta, yang kemudian di atur dan dikelola sedemikian rupa sehingga meningkatkan keuntungan bagi orangtua yang memiliki harta tersebut; dimana harta yang dimaksud adalah kehadiran anak dalam keluarga. Pikiran seperti inilah; yang mungkin muncul dalam benak teman baruku tersebut sehingga, dia tidak menyetujui kalimat aku diatas.

Hasil permenunganku tentang kalimat di atas menyadarkan aku betapa kompleksnya pengertian manusia terhadap satu kalimat. Karena pengertian seseorang terhadap suatu hal akan dipengaruhi oleh backgroundnya juga, misalnya: latar belakang pendidikan, agama, suku, kebudayaan dan lain-lain. Hal inilah yang memicu perbedaan pandangan di antara sesama manusia. Perbedaan tersebut adalah hal yang wajar, tidak untuk dipertentangkan, namun cukup dijadikan tambahan pengertian sehingga membuat pengertian kita terhadap sesuatu hal semakin kaya karena berasal dari sudut pandang yang berbeda-beda.

Bagi aku sendiri, anak adalah investasi artinya bahwa kehadiran anak merupakan suatu penanaman modal dalam kehidupan ini. Menanam modal sebagai tanggung jawab terhadap panggilan hidup berkeluarga yang harus menghasilkan buah. Anak adalah investasi juga dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk meningkatkan makna/nilai kehadiran anak dalam keluarga tersebut; yang membuat anak tersebut menjadi sangat berarti, sangat bernilai, sangat istimewa berbeda dengan jenis investasi lainnya. Sekalipun investasi ini unik, namun prinsipnya adalah sama dengan jenis investasi pada umumnya, yang harus dijaga dan dikelola dengan baik, untuk meningkatkan nilai dari harta tersebut. Hal ini TIDAK berarti untuk menjadikan anak sebagai barang atau robot yang harus di setting sedemikian rupa; karena jaga dan kelola yang aku maksud adalah membentuk anak menjadi pribadi yang mengenal penciptaNya yang merupakan sumber kekayaan sejati. Misalnya, menjaga perilaku anak sejak usia dini, dimana asupan hal positif sangat diperlukan agar si anak bertumbuh menjadi manusia seutuhnya. Ibarat tanaman yang harus dipupuk dengan rajin, diberi tanah yang baik dan gembur, serta disiram dengan rajin dan teratur, demikianlah maksud menjaga anak.

Sementara mengelola yang aku maksud adalah mengarahkan anak kepada sumber kehidupan sejati yang akan menjadikan anak sebagai manusia seutuhnya yang sadar akan panggilannya sebagai seorang manusia, sebagai laki-laki atau perempuan. Jadi menjaga dan mengelola bukan merupakan sistem pingitan yang membatasi ruang gerak anak, namun lebih kepada mendidik anak untuk menjadikan nilai kemanusiaannya semakin meningkat; yang pada akhirnya akan menguntungkan orangtua artinya membuat orang tua bangga dan bahagia.

Anak adalah investasi merupakan suatu bentuk realisasi tanggung jawab dari orang tua terhadap kehidupan pernikahannya; dimana masing-masing orangtua terpanggil untuk menjaga dan mengelola harta (anaknya) agar nilai dari harta tersebut semakin tinggi dan pada akhirnya akan menguntungkan orangtua juga. Sebagaimana investasi harus dijaga agar tidak sampai turun nilainya, demikian juga kehadiran anak dalam keluarga agar tidak menjadi beban, tidak menjadi masalah dalam kehidupan pernikahan sehingga orangtua sadar akan peranan dan tanggungjawab masing-masing sebagai seorang bapak atau ibu.

Namun, penting untuk mengingat bahwa anak adalah titipan Ilahi, hasil dari anugerah Tuhan dari pernikahan kedua orangtua sehingga orangtua TIDAK boleh seperti kacang yang lupa akan kulitnya, lupa akan Tuhan yang menciptakan manusia baru tersebut (anak). Jika, manusia tersebut ingat akan Tuhannya, maka tidak ada alasan bagi orangtua untuk mengekang buah hatinya sebagai harta yang harus dikuasai dan dikelola sendiri tanpa campur tangan Tuhan. Karena jika hal ini terjadi, maka kehidupan di keluarga tersebut dapat dipastikan tidak sehat dan akan membentuk anak-anak yang miskin cinta Tuhan, karena cinta yang diperoleh dari orang tua adalah miskin cinta Tuhan. Karena cinta Tuhan adalah cinta yang bebas, setia, total dan berbuah, dimana keempat prinsip ini harus ada dan menjadi satu kesatuan.

Bagi aku, anak adalah investasi adalah bagian dari perjalanan hidup ini dimana dalam kehidupan ini kita harus menghasilkan buah, dimana buah tersebut nampak dari hasil akhir investasi kita tersebut yang harus menghasilkan sesuatu yang baik bagi diri kita sendiri terlebih bagi lingkungan di sekitar kita. Jika buah pelayanan kita belum terlihat ke lingkungan luar, minimal buah tersebut dapat terlihat dari anggota keluarga kita yang semakin cinta Tuhan.

Mengapa cinta Tuhan merupakan tolak ukur kesuksesan investasi di dunia? Jawabnya, karena tanpa Tuhan dalam kehidupan ini, maka kehidupan ini tidak akan pernah ada artinya baik bagi diri sendiri atau bagi orang lain.

Yohanes 15:5 "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa"







Allah Berbelas Kasih Namun Tidak Meniadakan Hukuman

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Pagi ini, satu topik dari sebuah gambar yang dipostkan di sebuah grup dunia maya yang aku ikuti, menggelitik pikiranku. Kejadian nyata yang terjadi di Paroki Santo Antonius, Jl Hayam Wuruk Medan. Dimana beberapa pelaku adalah oknum dalam gereja yang melakukan tindakan yang salah tersebut. Ada beberapa komentar teman yang membela, ada yang menjudge, dan ada yang menceritakan kisah serupa yang terjadi di gereja dan paroki lainnya. 

Satu pendapat yang sungguh menggelitik pikiranku adalah tidak setuju jika pelaku menerima hukuman dari kepolisian setempat. Dari kejadian ini, dalam benakku timbul bayangan Allah yang berbelas kasih; dan hati serta pikiranku bertanya: "apakah kasih Allah tersebut akan meniadakan hukuman atas setiap dosa yang diperbuat manusia?" Menurut Kisah Ananias dan Safira dalam Kitab Suci, pada Kisah Para Rasul 5:1-11, kedua jemaat tersebut adalah bagian dalam persekutuan jemaat pada awal mulanya, tapi mereka melakukan dosa yang melawan kehendak Allah dengan berbohong atas penjualan tanah yang telah mereka lakukan, jika Allah berbelas kasih, mengapa mereka tidak dibiarkan hidup? Dan memulai hidup baru dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama?

Beberapa tokoh di Alkitab juga mengalami hukuman dari Allah namun tidak sampai kehilangan nyawanya, contohnya Raja Daud. Raja Daud adalah orang yang sangat dikasihi Tuhan namun karena dosa mengambil istri saudaranya, Daud mengalami hukuman dari Allah, mulai dari kematian akan anak yang dikandung Batsyeba sampai kepada hidup dalam pelarian karena dikejar oleh musuh-musuhnya. Allah berbelas kasih dengan tidak mengambil nyawa Daud, dan menuntun Daud dan menguatkan Daud sehingga Daud dapat bermazmur bagi Tuhan, sekalipun dalam keadaan takut dan menderita.

Jadi, jangan salah kaprah dengan belas kasih dari Tuhan yang TIDAK berarti bahwa Tuhan meniadakan hukuman atas setiap perbuatan jahat yang telah dilakukan oleh manusia. Hukuman tetap diperlukan sebagai suatu sarana untuk mendewasakan kehidupan rohani manusia karena tanpa hukuman, manusia seperti anak manja yang tidak pernah merasa bersalah dan tidak pernah kapok ketika berbuat hal yang jahat, yang merugikan orang lain dan berdampak tidak baik bagi kesehatan jiwa dan rohaninya. Allah sungguh melimpahi kasihNya bagi manusia namun tidak meniadakan hukuman ketika manusia telah melakukan dosa.

Mungkin saja, hukuman itu terjadi untuk menyadarkan si pendosa untuk kembali ke jalan Allah, seperti hukuman yang dialami oleh Daud yang membuat dia kembali sadar akan dosanya, dan juga hukuman atas Ananias dan Safira yang menjadi pelajaran bagi jemaat yang lainnya untuk tidak melakukan tindakan dosa yang bertentangan dengan kehendak Allah. Demikianlah belas kasih Tuhan nampak dalam bentuk hukuman yang mendatangkan keselamatan bagi jiwa-jiwa umat lainnya yang mungkin sedang tergoda untuk melakukan hal yang jahat.

Tuhan maha pengampun dan tak pernah mengingat-ingat kesalahan kita dengan catatan, kehidupan baru telah kita mulai dan telah kita jalani. Jika hari ini tobat, besok kumat (tobat kumat=tomat) maka sesungguhnya hal itu sedang mempermainkan rahmat pengampunan dan belas kasih Tuhan yang pasti akan mendatangkan hukuman dan dosa yang lebih besar lagi.

Demikianlah menurut permenungan saya bahwa belas kasih Tuhan tidak meniadakan hukuman bagi para pendosa; mengenai kapan dan bagaimana bentuk hukumannya, hanya Tuhanlah yang mampu menjawabnya, biarlah yang salah tetap menjalani hukuman yang sudah sepatutnya dia terima, marilah mewujudkan belas kasih Tuhan dengan tidak menghina atau menyebar fitnah dan kebencian pada orang yang bersangkutan (pendosa).

Saya percaya, Tuhan akan mengampuninya dengan catatan kehidupan baru harus dimulai dan dijalani dengan taat dan setia.

Analogi Rujak Dalam Kehidupan Manusia

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Rujak adalah makanan yang pas jika dikonsumsi disaat hari terasa terik dan gerah. Rujak banyak jenisnya, namun jenis yang sangat familiar adalah rujak manis, dimana bumbunya terdiri dari kacang goreng, gula merah, buah sirsak, dan cabe rawit. Walaupun rujak banyak jenisnya, namun satu hal yang sama diantara semua jenis rujak ini adalah memiliki berbagai jenis buahan. Ada yang manis, seperti jambu, pepaya, semangka, melon dan ada yang asam seperti nenas, mangga, kendondong, belimbing, dan lain sebagainya.

Melihat seporsi rujak mengingatkan saya kepada sosok manusia yang memiliki banyak mood, perasaan, sikap dan sifat. Manusia tidak pernah sama, tidak pernah ada yang abadi dalam diri manusia karena semua yang ada dalam diri manusia cenderung dinamis dan berubah-ubah. Semenit bisa tertawa, menit berikutnya bisa marah dan menit berikutnya bisa bahagia lagi. Banyak kejadian yang terjadi dan bisa mengubah kondisi kejiwaan/perasaan seseorang.

Jika seorang manusia diibaratkan seperti sepiring rujak, berarti seorang manusia sudah seharusnya terdiri dari berbagai jenis sifat, sikap dan perilaku; dan hendaknya kita sebagai sesama manusia, mampu menikmati rujak tersebut (lebih toleran terhadap perbedaan yang ada). Karena, sama seperti sepiring rujak yang tidak akan enak jika terdiri dari satu jenis buah doang (misalkan buah manis doang), begitu juga seorang manusia yang tidak akan pernah manis (sikap/tindakan) selamanya. Ada saatnya, manusia menjadi sedih, gelisah, semangat, putus asa, bahagia, marah, kecewa, dan lain-lain. Sebagai bagian dalam masyarakat yang majemuk hendaknya perilaku orang lain, tidak menjadi bensin yang membakar habis semua kebaikan dalam diri kita.

Jangan biarkan keburukan orang lain mengotori niat baik kita untuk berteman dan bersosialisasi dengan siapapun. Marilah lebih toleran terhadap perbedaan sikap, sifat dan perilaku manusia lainnya; sebagai sebuah warna warni yang indah di dalam kehidupan ini.

Marilah menikmati sepiring rujak dengan berbagai rasa buah yang terkandung di dalamnya yang pastinya akan menambah kenikmatan, ketika bumbu rujaknya (kasih dalam diri kita) melimpah ruah dan menenggelamkan berbagai jenis rasa asam, manis, dan asin tersebut.

Beberapa Godaan Setan yang Sering Berkamuflase

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Di zaman sekarang ini, kebanyakan godaan setan tidak dalam bentuk yang menakutkan seperti mitos dan film horor yang sering terlihat di tv. Godaan setan cenderung hadir dalam hal-hal yang tidak kita sadari, yang jelas merupakan penolakan kita terhadap undangan Allah.

Banyak orang yang sukses dan rajin menyumbang di dalam suatu lingkungan gereja bahkan, mereka rutin menyumbang sebagai ucapan syukur atas kemurahan Tuhan yang telah memberinya rezeki berlimpah. Tapi, ketika gereja memerlukan dana untuk suatu kegiatan tertentu misalnya bantuan dana untuk retret, seminar, pembangunan gereja, renovasi gereja, mereka pada umumnya sering lupa, kalaupun ada niat mau nyumbang; terselip juga keinginan untuk mendapat balasan seperti membeli kupon bazaar dimana, sebagian dana bazar tersebut akan disumbangkan untuk kegiatan tertentu. Hal ini, mengingatkan saya pada Markus 10:25 :"Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah"; hal ini dapat diartikan betapa terikatnya manusia tersebut kepada hartanya; yang menjadikannya hamba dari harta tersebut yang membuat dia, begitu menyayangi harta tersebut sehingga membuat dia sukar masuk ke dalam kerajaan surga.

Godaan lainnya adalah ketika seseorang telah menjadwalkan untuk mengikuti kegiatan ibadah namun pada hari h tiba-tiba yang bersangkutan kebanjiran job sehingga, dia lebih memilih menikmati berkat Tuhan dibandingkan mengucap syukur kepada si Pemberi berkat tersebut. Tuhan telah ditukar keberadaannya dengan segala aktivitas, kenikmatan atau kemewahan dunia.

Tanpa sadar manusia berulang kali menolak undangan Tuhan dalam bentuk undangan untuk doa bersama, doa lingkungan, perayaan Ekaristi/Misa, kegiatan krk, retret, seminar yang bertujuan untuk mendekatkan manusia dengan Sang Pencipta. Manusia lebih memilih kegiatan duniawi dibanding, berada dekat Tuhan dan menimba air kehidupan dari sumber Air kehidupan sejati.

Kepandaian manusia malah membuat manusia jatuh ke dalam kesombongan yang seolah-olah mampu membedakan panggilan surgawi dan panggilan duniawi, yang justru sering menjatuhkan manusia ke dalam tipu muslihat si jahat yang menyulap kegiatan duniawi seakan-akan menjadi kegiatan surgawi. Contohnya, ketika seorang anak sibuk dengan gadget ketika misa berlangsung, dengan tujuan agar update status untuk menegaskan yang bersangkutan sedang beribadah kepada Tuhan, dengan harapan orang muda lainnya dapat tergerak untuk misa bareng, atau mengikuti jejaknya yang teratur/rajin beribadah. Mungkin bagi dirinya, kegiatan promosi iman tersebut adalah baik adanya, karena bertujuan untuk mengajak rekan muda lainnya untuk ikut aktif dalam kegiatan gerejani namun, dia lupa bahwa dia sedang berada di rumah Tuhan yang kudus dan seharusnya jauh dari gadget yang dapat mengganggu kekhusyukan misa.

Contoh lainnya adalah, ketika seseorang sibuk mengadakan acara sosial untuk menjamu anak yatim atau orang kurang mampu lainnya. Bagi dia, kegiatan sosial ini adalah untuk kemuliaan Tuhan, namun disatu sisi dia enggan untuk terlibat dalam kegiatan gerejani yang juga membutuhkan tambahan dana dari umat yang berkecukupan. Disini, timbul tanda tanya yang besar apakah niat sesungguhnya dari kegiatan amal yang dilakukannya apakah murni untuk kemuliaan Tuhan, atau sekedar pamer bahwa yang bersangkutan peduli dengan kemanusiaan yang juga membutuhkan bantuan dana.
 
Godaan dari si jahat di zaman sekarang ini sungguh sangat cerdik dan menggoda. Kita sering tidak mampu membedakan yang mana yang merupakan kehendak Tuhan dan yang mana yang merupakan kehendak si jahat. Manusia sering jatuh ke dalam pencobaan lantaran terlalu mengandalkan diri sendiri dan lupa untuk menjalin persahabatan yang intim dengan Tuhan yang merupakan sumber kebijaksanaan. Akibatnya, manusia sering jatuh ke dalam kehendak setan/dunia dibandingkan dengan kehendak Tuhan.

Seperti nelayan yang sudah berteman akrab dengan keadaan laut, angin, kondisi kapal dan cuaca; hendaknya setiap manusia pekah terhadap tanda-tanda kehadiran Allah yang sering tersembunyi dalam diri orang miskin, rendah dan hina. Hendaknya, setiap orang percaya senantiasa menimba kasih Tuhan setiap harinya lewat ibadah harian, guna meningkatkan kepekaan hati nurani terhadap kehendak Tuhan sehingga, kita tidak gampang terkecoh dengan kehendak setan yang sungguh ingin memisahkan kita dari kasih Bapa di surga.

Terburu-Buru Menjalani Kehidupan - Part 2

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Aktivitas selama masa sekolah selalu ngangenin. Dulu, sewaktu masih duduk di bangku sekolah, rasanya ingin sekali untuk cepat-cepat tamat dan menjadi seorang mahasiswa; karena dalam pikiranku: “menjadi seorang mahasiswa pasti menyenangkan karena sangat santai, tidak harus bangun pagi dan ngak perlu hafal satu buku untuk menjawab soal-soal ujian".

Sesampainya di bangku kuliah, rasanya penelitian ilmiah dan tugas akhir bagaikan batu berat yang harus di pikul untuk menyelesaikan studi di bangku kuliah. Rasanya seperti mayat hidup ketika harus menghadapi dosen penguji sewaktu meja hijau. Grogi yang dirasakan, nyaris bisa membuat lupa tentang tugas akhir yang disusun sendiri.

Dalam benakku, belajar adalah sesuatu yang membosankan, buku itu seperti sesuatu yang memuakkan yang enggan untuk di buka dan dipelajari kembali.

Kemalasan dan budaya terburu-buru pernah aku alami yang membuatku tak pernah sabaran dalam menunggu sebuah proses. Hal ini terus berlangsung bahkan di saat aku sudah dewasa dan memasuki dunia kerja. Aku ingin segala sesuatunya instan dan terjadi seperti kehendakku dan inilah yang menjadi batu sandungan buatku, sehingga aku harus ketinggalan kereta menuju kesuksesan seperti teman-teman seangkatanku.

Mungkin kesuksesan itu relatif tergantung dari cara pandang seseorang terhadap diri sendiri, tapi buatku sendiri sukses itu masih jauh karena aku perlu menyembuhkan diri dari budaya terburu-buru yang turut membentukku menjadi pribadi yang tidak tahan banting. Kemajuan teknologi belakangan ini juga turut mengambil peranan penting dalam menyebarluaskan budaya instan ini. Tanpa disadari, manusia sedang berjalan menuju budaya instan yang dapat merubah kepribadian seseorang menjadi agresif, iri hati, jahat, dan super duper egois.

Kebanyakan manusia enggan menaiki tangga untuk mencapai lantai atas. Maunya naik lift supaya cepat sampai. Kalau di bangunan tersebut ada lift,.. syukurlah! Tapi kalau tidak ada? Masa kita harus pindah rumah dan membuang kesempatan emas yang mungkin tersimpan di lantai atas bangunan tersebut...? Aku menyadari dulu, pernah melakukan banyak kesalahan karena menyia-nyiakan kesempatan untuk meraih kesuksesan dalam karir, dan saat ini aku hendak mengingatkan mereka yang sedang menuju lantai teratas dalam karir yang sedang dia bangun, untuk terus semangat dan bertahan sekalipun tantangan dan masalah sedang menumpuk.


Sukses itu ngak gampang dan perlu pengorbanan, dibutuhkan juga ketekunan dan keteguhan agar mampu bertahan dalam setiap badai yang dihadapi. Dan salah satu kiat untuk bertahan adalah keseimbangan dalam iman dan intelektual. Mengapa kita perlu iman yang terus bertumbuh? Jawabnya, agar intelektual yang kita miliki tidak menyesatkan kita dan membuat kita jauh dari kebahagiaan dan sukacita di balik kesuksesan. Karena salah satu kunci kebahagiaan adalah bersyukur dan bersyukur itu identik dan erat kaitannya dengan iman yang bertumbuh dan dewasa. Sementara, intelektual yang bertumbuh dan berkembang juga penting, karena tanpa ilmu pengetahuan maka mustahil untuk menciptakan inovasi dan kreatifitas yang terus berkembang dan maju.

Aku berdoa bagi kamu dan diriku sendiri yang sedang meraih tangga teratas dari sebuah kesempatan yang sedang kita jalani masing-masing; jangan berhenti melangkah, jangan berhenti berjuang dan bertindak, dan barengilah semuanya dengan iman pada Tuhan agar sekalipun tidak sukses dalam hal materi di dunia; setidaknya kita bisa sukses dalam meraih mahkota surgawi.

Mari kita berjuang !!!

Khasiat Cinta Tuhan

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Beberapa dari orang-orang yang ku kenal memiliki cerita rumah tangga yang rumit, dan menyedihkan. Konflik dalam rumah tangga yang sangat banyak dan bisa membuat hati lelah. Beberapa diantaranya: kasus selingkuh di usia pernikahan yang sudah menginjak puluhan tahun. Masalah kebiasaan judi, marah dan sifat buruk lainnya. Saat seminar Love Redefined kemarin, guestspeaker juga bercerita hal yang sama. Dia memiliki teman yang sudah menikah puluhan tahun, dimana sang suami adalah seorang dosen yang kerap bermain perempuan dengan mahasiswinya. Nilai baik dibayar dengan pelayanan di ranjang oleh mahasiswi yang ingin nilainya baik, dan itu dilakukan di rumah mereka, di depan mata istri dan di ranjang mereka bersama.

Keluarga kedua lainnya adalah sebuah keluarga yang mana suami dan istri sama-sama sibuk mencari nafkah, namun beberapa tahun setelah pernikahan, sang istri mulai menunjukkan perilaku yang tidak wajar dengan sering keluar di jam-jam tertentu dan sering menerima telepon di luar jam kantor. Perselingkuhan menjadi masalah di keluarga kedua ini.

Dan di keluarga saya sendiri, cerita seperti kisah keluarga di atas menjadi kisah nyata yang terjadi di depan mata saya dan adik saya. Saya mengingat betul ketika papa saya menjadi seorang yang asing, ketika dia sudah terikat dengan perempuan lain yang menjerat hatinya. Tapi mama, dengan penuh air mata melewati setiap harinya dengan sabar dan iman pada Yesus.

Mama memiliki saudari rohani seorang Suster Klaris yang selalu dicarinya; ketika dia sedang bermasalah dengan papa saya. Mama juga rajin ikut ibadah, serta aktif di lingkungan guna memuaskan tangki cintanya dengan cinta Tuhan. Hal inilah yang membuat mama mampu bertahan dalam pernikahannya. Cinta pada Tuhan mengalahkan ego dari logika akibat perasaan yang terlukai tersebut. Tuhan Yesus menunjukkan cintaNya lewat teman-teman seiman yang dijumpai mama, lewat kami anak-anaknya yang begitu menyayangi beliau, dan lewat keluarga kakek dan nenek dari pihak papa dan mama yang begitu mengasihi mama saya.

Kata cerai bukan kata yang tidak masuk akal untuk diucapkannya. Dia pernah mengucapkan kata ini, di depan kakekku yang membuat kakekku menangis, karena ikut merasa kesedihan yang dialami mamaku. Papaku saat itu telah menjadi orang asing akibat guna-guna yang diberikan oleh perempuan bayaran yang sering dipakainya tersebut. Berbagai cara sudah dilakukan untuk mengobati beliau, namun sia-sia belaka.

Mama tidak pernah curhat dan berkeluh kesah kepadaku, tentang permasalahannya dengan papa. Tapi, melalui orang-orang dewasa yang menjadi saudara dan famili, cerita keretakan hubungan mereka sampai juga ke pikiran dan hatiku. Saya tidak membenci papa atau mama. Tidak marah atas akibat dosa yang dilakukan papa karena saya yakin, papa salah langkah dan tidak tau jalan kembali lagi; dan dalam kehidupan ini setiap orang pasti pernah berbuat salah; jadi saya belajar berbesar  hati menyikapi permasalah itu. Hanya Tuhanlah, yang memampukan papa untuk kembali seperti papa yang saya kenal sejak saya dilahirkan di dunia ini.

Jawaban Tuhan atas permintaan mama tergenapi lewat bencana gempa bumi Maret 2005, yang memisahkan mereka dari dunia ini, yang menjadi akhir dari konflik percintaan mereka. Tuhan tetap menjaga pernikahan mama dan papa sampai ajal menjemput mereka. Perjalanan iman mama, membuatku semakin yakin bahwa kekuatan sesungguhnya yang dimiliki manusia adalah berasal dari cinta Tuhan yang tidak pernah lekang oleh waktu.
Kembali ke sharing guestspeaker Love Redefined, pada kasus pertama, sang istri tetap mendoakan suaminya dan sungguh-sungguh menyerahkan pergumulannya ke dalam tangan Tuhan, dan Tuhanlah yang membuat istri tersebut mampu bertahan dalam pernikahan mereka tersebut sampai 10 tahun kemudian, saat suaminya tiba-tiba mengikuti retret, dan disaat retret itu sang suami mengalami titik balik dalam hidupnya dan matanya baru terbuka untuk mengenal dosa yang selama ini, telah dia perbuat dan telah melukai istrinya. Sekarang, suami dan istri tersebut aktif dalam pelayanan dan satu komunitas dengan guest speaker yang menyampaikan kisah ini.

Kisah kedua juga sama, sang suami dari istri yang berselingkuh tersebut tetap komit mendoakan istrinya, dan pada waktu dan caraNya Tuhan, sang istri berbalik dari cara hidupnya yang salah dan kembali menyadari betapa cintanya suaminya ke dirinya.
Kisah papa dan mamaku tidak berakhir happy ending seperti itu, namun saya percaya rancangan Tuhan adalah rancangan yang terbaik bagi setiap orang yang mengimaniNya.

Para pasangan dari keluarga yang awalnya berantakan ini, menunjukkan bahwa hanya cinta Tuhan yang mampu membuat mereka bertahan dalam setiap ujian pernikahan yang mereka lewati. Khasiat cinta Tuhan sungguh nyata dalam perjalanan hidup mereka sehari-hari, terutama lewat pergumulan yang mereka hadapi. Sungguh benar perkataan bijak yang mengatakan bahwa kehidupan ini seperti emas yang terus menerus mengalami peleburan agar menjadi emas yang murni. Terkadang, di balik permasalahan yang sedang terjadi; Tuhan sekaligus menebar undangan agar kita kembali total mencintaiNya agar mampu hidup kudus dan murni seperti Dia.

Janji Tuhan sungguh nyata bagi setiap yang percaya kepadaNya. Yeremia 29:11 berkata, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”.

Tuhan tidak pernah salah dalam menempatkan kita pada suatu kondisi dan keadaan tertentu, kita dituntut untuk percaya sepenuhnya kepadaNya dan memenuhi tangki cinta kita dengan cinta Tuhan agar kita mampu melewati setiap badai dalam kehidupan.

Masalah Dalam Hubungan Percintaan

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Beberapa teman saya yang pernah mengalami putus nyambung dalam hubungan percintaan, pernah berkisah seperti berikut ini: “Duh gw sebal banget, mengapa sikapnya gak jelas banget ya? Uda lama pacaran tapi gak jelas menikahnya kapan?”, ada juga yang seperti ini: “Buset gw dikasarin sama cewek gw, gimana mau nikah kalau perempuannya galak banget ? saat emosi seperti gunung berapi yang bisa main fisik mukulin gw segala.. untung gw gak khilaf dengan membalas pukulannya”,

Melihat beberapa komentar teman saya di atas, sangat miris melihat hubungan cinta mereka yang sangat berwarna, kalau warnanya indah sih gk apa-apa ya...!, tapi, warna yang terbentuk malah hitam pekat dan malah mengundang hujan air mata, luka batin dan kekecewaan.

Menurut saya, persoalan dalam hubungan percintaan terjadi karena merupakan sebuah proses penyesuaian diri satu sama lain. Kadang proses yang dilalui sangat menyakitkan, membutuhkan kebesaran hati untuk menahan ego dan emosi yang sering bergejolak, namun hubungan yang bisa melewati ini semua, pasti akan bisa bertahan lama sampai kakek nenek, karena kunci keberhasilan dalam hubungan cinta ibarat kunci dan lubang kunci, ketika ketemu bentuk yang pas, dan klop maka bisa saling melengkapi dan mengisi.

Nah kalau perselingkuhan gimana lagi ya? Apa karena proses penyesuaian diri juga?  Menurut saya sih iya, karena perselingkuhan terjadi karena masing-masing pasangan belum ketemu hal yang pas yang bisa membuat nyaman satu sama lainnya sehingga selalu mencari kebahagiaan lain di luar hubungannya.  Perselingkuhan terjadi karena proses penyesuaian diri, yang mana jika mampu berbesar hati maka pasangan yang berselingkuh pada suatu titik (waktu) akan kembali sadar akan kesalahannya dan kembali ke pasangan aslinya, jika tidak sadar-sadar juga, maka saya percaya Tuhanlah yang akan menghukum peselingkuh tersebut dengan cara yang di luar logika, contoh: ketahuan bercinta saat penggerebekan oleh aparat, kecelakaan saat berhubungan badan (penis captivus) dengan kekasih selingkuhan, kematian oleh bencana alam,dll.

Masalah-masalah dalam hubungan percintaan sangat komplek dan bisa membuat luka batin yang dalam bagi korbannya. Untuk itu, perlu membekali diri dengan Firman Tuhan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan ini. Di dalam kitab suci juga penuh kisah tentang kehidupan manusia yang sesuai dengan zaman ini. Kita bisa belajar dari tokoh Alkitab untuk terus menerus, menjaga kemurnian diri dan cinta tanpa berusaha membalas kejahatan pasangan kita, karena pembalasan adalah haknya Tuhan. (Roma 12:19 : Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan)

Apabila saat ini Anda sedang berada dalam api penyucian untuk memurnikan cinta, maka berdoalah pada Tuhan sang sumber cinta agar cintaNya melimpah dalam hidup Anda, agar Anda mampu bertahan dan kuat dalam proses pemurnian cinta ini. Tidak ada hubungan yang mulus seperti jalan tol, masalah akan selalu ada sebagai bagian dari jalan kehidupan, walaupun masalah selalu ada namun yakinlah, Tuhan juga selalu ada dan tidak pernah meninggalkan kita; Carilah cinta Tuhan, ketika sedang bermasalah dengan pasangan karena hanya pada Tuhan ada cinta yang sejati, cinta yang dewasa dan tak pernah habis.

Saya percaya, setelah hujan pasti akan timbul pelangi, dan begitu juga dengan hubungan pasti akan lebih indah jika mampu melewati hujan badai yang sedang terjadi.

Bertahanlah...

Cerita Tentang Kain Luntur

 Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Pagi ini aku sebal sekali lantaran melihat kenyataan bahwa aku lupa memisahkan antara kain luntur dan kain lainnya. Hasilnya, kainku yang lain terkena lunturan celana hitam tersebut. Biasanya, sebelum merendam kain, aku memisahkan antara kain luntur dan kain biasa. Mungkin karena semalam lagi ngantuk berat dan otakpun tidak bisa diajak kompromi, jadilah, celana hitam tersebut bercampur dengan kain lainnya.

Sebal sekali melihat kenyataan bahwa karena satu celana hitam, kain lainnya ikut terkena dampaknya. Tiba-tiba terlintas dalam benakku perihal sifat seseorang yang sensitif jika bercampur dengan teman lainnya, yang sering menimbulkan konflik yang dapat merusak persahabatan. Aku ingat seorang teman yang memiliki kelompok pertemanan yang beranggotakan lima orang. Mereka berteman sudah cukup lama, sekitar tiga tahunan. Salah satu diantara mereka memiliki karakter yang sensitif yang sering membawa perasaan segala sesuatunya. Sampai suatu ketika, sifat sensitif tersebut berhasil merusak hubungannya dengan salah satu anggota dan berdampak besar pada kelompok pertemanan mereka tersebut. Akibat permusuhan tersebut, mereka saling tidak cakapan dan sampai hari ini tidak dapat berteman seakrab dulu lagi.

Sifat sensitif mirip seperti celana hitamku yang luntur dan mengotori kain lainnya. Sifat yang merusak dan meninggalkan kesan buruk bagi orang lain. Hal ini, bukan berarti kita harus menjauhkan diri dari mereka yang sensitif; melainkan kita harus memberitahukan mereka perihal sifat buruk mereka tersebut. Harusnya, sebagai sesama teman akan mudah untuk memulai komunikasi ke arah ini, sehingga si sensitif tau menempatkan diri dan memisahkan diri ketika obrolan di grup bisa berdampak ke perasaannya; sama seperti celana hitamku yang harus dipisahkan di tempat tersendiri.

Dalam pertemanan akan banyak sifat-sifat manusia yang kita jumpai, ada yang friendly, ada yang easy going, ada yang ramah, ada yang baik hati dan ada juga yang urakan, jahil, pemarah ataupun sensitif. Sama seperti kain yang bercampur dalam satu tempat yang sama, demikianlah keragaman yang ada bersatu dalam kelompok pertemanan tertentu misalnya komunitas, organisasi, perkumpulan, dll. Beranekaragam sifat bisa bercampur karena manusia itu unik dan bisa saling menyesuaikan diri dengan sifat orang lain. Namun, jika si sensitif bertemu dengan manusia lainnya maka, perasaan sensitifnya mampu menjadi bumerang yang bisa menghancurkan dirinya sendiri.

Sebenarnya, sensitif itu baik adanya jika berada dalam lingkup yang wajar. Namun, akan sangat mengganggu jika kadarnya berlebihan dan menjadikan seseorang over pekah terhadap sifat atau sikap orang lain. Kitapun, harusnya bisa pekah melihat si sensitif ini agar tidak merusak pertemanan yang ada, dengan cara lebih toleran dan sabar dalam berteman dengan si sensitif tersebut.

Bagaimanapun, seperti kain yang beranekaragam bercampur dalam ember yang sama, hendaknya segala sifat dan sikap manusia mampu berbaur dengan komunitas manusia secara universal, karena kalo tidak maka manusia tidak akan dikatakan manusia; karena hakikat manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa sendiri, sama seperti kain; kalo kain dicuci satu per satu maka hanya akan membuang air dan membuat tagihan air meningkat. Sama seperti jika berdiri sendiri tanpa teman-teman lainnya, yang hanya merugikan diri kita sendiri akibat kurang sosialisasi.

Celana hitam yang luntur pagi ini, mengingatkanku betapa pentingnya memilah milah sifat dan sikap ketika berada dalam suatu komunitas pertemanan, jangan sampai sifat dan sikap burukku merusak persahabatan yang sudah terjalin lama.

Cerita dan Analogi Pohon di Suatu Taman

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Di suatu desa, yang masih sangat asri dan hijau terdapat banyak pepohonan dan tanaman rindang lainnya. Tampak dari jauh, sebuah pohon cendana yang telah dipagari. Di sekelilingnya terdapat pagar yang membuat jarak pemisah antar pengunjung taman itu dengan pohon tersebut. Pohon tersebut begitu rindang dan sangat indah sehingga banyak sekali yang ingin mendekati pohon tersebut atau hanya sekedar untuk berfoto di pohon indah tersebut.

Di suatu siang yang terik, pohon tersebut menggerutu kepada langit yang ada di atasnya. Diam-diam, ternyata pohon cendana tersebut menyimpan amarah kepada pemilik yang telah memeliharanya sampai saat ini.

Dalam desiran bayu yang menggerakkan daun-daunnya..si pohon cendana berteriak, "Aku benci keadaanku ini!, aku tidak dapat disentuh dan menyentuh mereka yang ada di sekeliling ku, pagar ini membatasi ruang gerakku!"

Langit yang diatasnya cuman tersenyum dan semakin membiru akibat pantulan biasan sinar matahari di siang itu.

Samar-samar terdengar dan terasa oleh si pohon cendana, seorang anak kecil yang memeluknya dari bawah.

Anak tersebut begitu nakal, dan berusaha memanjati pohon cendana yang begitu tinggi menjulang.
Di tengah peristrahatannya sambil memeluk si pohon cendana,  si anak kecil berkomentar. .katanya:
"Hai pohon cendana..kamu sangat indah dan begitu besar, aku ngak mampu menggapaimu, aku ingin ke atas..ke rantingmu untuk melihat dunia yang ada di sekitarku..aku iri padamu..karena kamu begitu besar..begitu kuat..dan begitu indah, seandainya kamu bisa mengerti perkataan ku..ketahuilah aku iri.." dengan suara kecilnya dia berteriak seolah menjadi tarzan hutan yang perkasa.

Si pohon cendana membalas omongannya dengan gemerisik dedaunan yang dihembus sang bayu di siang yang terik itu.

Perlahan..si anak kecil tersebut mencapai dahan pertama dan duduk bersandar di batang pohon yang telah menguras seluruh energinya di siang itu.

"Wahh..pemandangan sangat indah ya.. di atas sini..! Aku ngak pernah menyangka dunia ternyata sangat luas..! Selama ini yang ku tau hanyalah..rumah dan sekolah..tempatku mondar mandir di setiap harinya" celoteh bibir mungil anak kecil tersebut.

Dalam diam, pohon cendana, kembali berkeluh kesah dalam hatinya:" aku iri padamu bocah! Kamu bisa kesana kemari, sementara aku teronggok diam di tanah ini.., malah dibatasi oleh pagar yang membatasi ruang gerak ku. Aku ngak bisa bersosialisasi dengan tanaman dan pepohonan yang ada di taman ini"

Anak kecil yang seakan mendengar suara hati si pohon cendana tersebut kembali berceloteh sendiri.."aku iri padamu pohon cendana! pemilik taman ini begitu menyayangi mu..memelihara mu dengan baik..memberi pupuk sehingga daunmu rindang dan buahmu banyak.. aku iri karna selama ini, aku tidak pernah dipelihara dengan baik karena kedua orangtua telah pergi meninggalkanku! Kamu dipagari..supaya kamu tidak rusak..oleh tangan-tangan usil yang bisa saja menyayat batangmu..karena kami iri dengan keperkasaan mu! Sudah sepatutnya nya kamu berbahagia..pohon!".

Dalam kemarahannya yang semakin menjadi-jadi..pohon tersebut berbisik lagi dalam hatinya:" aku jenuh dengan keadaan ku ini, yang bagai di sangkar emas. Segala sesuatu begitu terlihat sempurna, padahal aku sangat buruk! Kulit ku berkerut tidak seperti batang pohon pisang yang halus, tidak ada satupun yang sungguh menyayangiku, mereka cuman memanfaatkan aku, menggunakan buahku untuk memperkaya diri mereka, dan menjadikan aku pajangan di balik pagar ini, di taman ini".

Si anak kecil dalam sorot mata yang penuh semangat, mulai mendekati buah pohon cendana. .menciumnya dan menikmati aromanya..wuah..sangat wangi..tidak ada loh...pohon yang menghasilkan buah sewangi ini. Batangmu sangat nyaman..membuatku gampang untuk memanjatimu..coba seandainya batangmu seperti pohon pisang..aku ngak kan sampai sejauh ini.. Kamu indah banget, pohon cendana... !Si anak kecil memeluk pohon tersebut dalam dekapan tangannya yang kecil, seolah-olah menemukan tempat dan teman yang nyaman di siang itu.

Percakapan yang terjadi di siang itu, seolah dua arah, yang saling sahut menyahut sampai senja memisahkan mereka, dan si anak kecil masih terus bermain di taman itu sampai sekarang. Dalam keheningan bersama antara si anak kecil dan pohon cendana terselip perasaan damai yang tidak pernah mereka sadari, baik oleh pohon ataupun oleh anak kecil tersebut ketika dia bermain bersama teman yang lain. Dan si pohon cendana pun mulai menyadari bahwa, dia ngak pernah sendiri; karena kelakuan dan omongan si anak kecil perlahan membuka pikirannya dan menyadarkan dia, bahwa selama ini, hatinya beku sehingga tidak mampu membuka matanya untuk melihat dan menyadari bahwa dia terlalu indah, dan punya banyak teman yang senantiasa berkunjung ke dahan maupun rantingnya; termasuk anak kecil yang bawel ini.

-end-

Manusia itu ibarat pohon, Orang tua adalah pihak yang menabur benih pohon tersebut, yang bertugas untuk menjaga, memelihara dan merawat benih tersebut. Setiap hari benih tersebut di siram dan dipupuk supaya tumbuh subur.

Tidak gampang untuk memelihara sebuah benih sampai bisa tumbuh besar dan subur. Perlu ketekunan, ketabahan dan kekuatan untuk merawatnya.

Kadang dalam perjalanan pertumbuhan benih tersebut, banyak hal yang dianggap buruk oleh benih tersebut.  Contoh, siraman pestisida yang mematikan hama yang dapat menimbulkan penyakit. Seperti omongan kasar, penuh amarah ketika anak berbuat salah. Kadang omongan seperti ini dipandang ngak layak untuk diucapkan.  Mengingat resiko jika larangan tersebut tidak diutarakan, maka omongan kasar tetap dianggap penyelamat, yang mampu membatasi kelakuan anak supaya tidak semakin liar dan brutal. Ada orang yang dari sananya memiliki tutur kata yang lembut, sopan dan bersahaja, dan ada pula yang sebaliknya.  Jika kita mengenal orang tua  kita dengan baik, sudah sepantasnya kita dapat memaklumi perlakuan kasar seperti itu.

Namun, mungkin kita berbantah dan mengatakan, sampai kapan manusia bisa tahan jika dikasari terus?
Nah..kalo ngak tahan dengan omongan kasar tersebut, silahkan diomongkan dengan orangtua karena jika tidak ngomong, maka ngak bakal ada yang tau bahwa kamu terusik dengan kelakuan mereka. Banyak solusi yang tercipta jika komunikasi terjadi secara dua arah.  Jika hal ini masih tidak memungkinkan, mungkin kamu perlu pihak ketiga sebagai penengah atau perantara yang menyampaikan perasaanmu tersebut.

Contoh hal buruk lainnya yang dipandang oleh benih, adalah: pagar yang mengelilingi pohon tersebut.  Dalam cerita pohon cendana di atas, pagar sering dipandang sebagai batasan yang tidak perlu. Anak terkadang tidak sadar betapa liarnya kelakuan mereka, yang dapat membahayakan diri mereka sendiri. Sudah selayaknya orangtua memagari anaknya, agar tidak masuk dalam pergaulan yang salah.

Pagar yang memagari tersebut bukanlah penghalang untuk bersosialisasi. Karena, akan ada pihak-pihak yang mampu menembus pagar itu dan meraih apa yang tersembunyi di balik pagar tersebut. Pihak tersebut adalah teman, sahabat, saudara, saudari atau pasangan hidup.
Sekalipun pagar tersebut mengelilingi pohon cendana; jangan lupa, bahwa pohon tumbuh ke atas bukan ke samping, jadi, dia akan tetap mampu meraih dahan ataupun ranting pohon yang berseberangan atau berdampingan dengan dia, yang artinya bahwa pribadi yang terkekang tetap dapat menjadi seseorang yang berhasil dan mampu meraih kebahagiaan jika dia mau, untuk memulai dan mencoba sesuatu yang mendukung perkembangannya menjadi pribadi yang dewasa secara jasmani dan rohani.

Dan yang terakhir, jangan pernah melupakan, bahwa pertumbuhan itu adalah hak dan kuasa Tuhan. Berserulah selalu kepada Tuhan agar pertumbuhanmu, menghasilkan buah yang baik bagimu dan orang-orang di sekitarmu.

Hal yang Tidak Boleh Terlupakan Saat Pacaran -> Etika Pacaran

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Pegangan tangan saat pacaran sah-sah aja kah?
Ciuman bibir..boleh gak ya?
Semua pasti pernah pacaran dan merasa nikmatnya bercinta. Ada orang yang peduli dan menyayangi kita adalah hal terindah yang katanya mirip surga duniawi.:-p Ketika berduaan dengan pacar tersayang, serasa dunia milik berdua, yang lain cuman ngontrak doang :D

Pacaran adalah momen terindah saat lagi indah. Dan menjadi momen terburuk saat lagi putus cinta. Suatu hubungan cinta hanya akan seperti layangan jika cinta itu ngak jelas tujuan akhirnya untuk apa.

Ketika kita sedang berduaan dengan lawan jenis; hal yang lumrah jika kita merasa ada gairah antara diri kita dan pasangan kita. Gairah itu muncul akibat adanya rasa ingin bersatu dengan pacar. Ada keinginan untuk memberi dan menerima.  Ini wajar dan tandanya kita normal dalam berhubungan cinta. Karena apabila tidak ada gairah dalam hubungan pacaran..itu berarti bukan pacaran.. Mungkin temenan doang atau rasa persaudaraan doang.

Adalah hal yang wajar untuk pelukan dan ciuman jika hubungan tersebut jelas, jika tujuan ciuman atau pelukan jelas, bukan berdasarkan nafsu dan ajang coba-coba. Ciuman dan pelukan akan menjadi dosa jika berlebihan dan membawa kita ke tindakan tidak benar, contoh free sex.

Apabila umur masih belia,  sudah seharusnya menahan diri dari segala hal yang wajar ini. Karena, umur belia masih identik dengan cinta monyet, identik dengan kelemahan dan kerapuhan akibat kurangnya pengendalian diri akibat emosi yang masih labil.

Jika melakukan pelukan,  ciuman, pegangan tangan,  di usia muda ibarat bermain api dan tinggal menunggu untuk terbakar saja. Untuk itu, berhati-hatilah dalam pacaran jangan sampai kebablasan.

Daripada pegang-pegangan, peluk pelukan atau cium ciuman, mending bersama-sama membawa hubungan yang lebih cinta Tuhan. Karena hubungan yang mengikutsertakan Tuhan akan tahan uji, karena satu sama lainnya sadar bahwa selain mencintai pasangan; mereka harus mencintai Tuhan terlebih dahulu, jadi seandainya perpisahan itu terjadi, masih bisa dipandang sebagai hal yang baik, berbeda dengan cinta nafsu yang mengagungkan pasangan sebagai satu-satunya penyemangat, yang menopang, yang menghibur, yang dimiliki. Rasanya.. dunia akan kiamat jika tidak bersama pacar tersayang.

Jadi, mau bahagia atau enggak itu pilihan kita sebagai manusia yang bebas. Tuhan memberi kita kebebasan yang sudah selayaknya dipakai dengan bijak, sesuai dengan kehendakNya.

Analogi Rumah Dalam Konteks Kehidupan Manusia

 Ditulis Oleh: Irse Wilis

Ketika memasuki dunia ini, kita seperti sedang berjalan masuk ke dalam sebuah rumah; dimana rumah tersebut memiliki ruangan-ruangan khusus sesuai fungsinya. Ada rumah mewah, ada rumah sederhana dan ada rumah yang sangat sederhana. Beranekaragam bentuk rumah menggambarkan keluarga tempat kita dilahirkan apakah keluarga kaya, menengah atau miskin. Kita tidak dapat memilih mau memasuki rumah yang mana karena semua sudah diatur oleh Sang Pencipta, yang mengutus kita untuk masuk ke tiap-tiap rumah sesuai dengan kehendakNya.

Hal ini, bukan berarti bahwa Allah tidak adil dengan menganugerahkan kesempatan berbeda bagi tiap manusia. Allah adil, termasuk saat Dia menempatkan kita di dalam rumah yang sangat sederhana. Kita hanya perlu tau, apa maksud Tuhan dalam kehidupan ini di dalam rumah ini. Pengetahuan tersebut hanya akan terpenuhi jika kita bergaul akrab dengan Dia sumber pengetahuan dan kebijaksanaan. TuntunanNya, akan mampu menjadikan kita sebagai mutiara yang berharga di suatu keluarga/komunitas tertentu.

Keberagaman di dunia ini adalah akibat dari manusia yang memilih untuk berjuang sendiri tanpa Allah (Ingat kembali kisah pengusiran Adam dan Hawa dari Taman Eden; dimana saat itu manusia telah memberontak pada Allah dan mulai hidup seperti Allah yang tau akan apa yang baik dan yang jahat). Pemberontakan manusia terhadap Allah adalah langkah awal manusia yang memilih untuk berjuang sendiri dalam mengarungi kehidupan ini. Dosalah (dosa asal), yang membentuk perbedaan-perbedaan dalam kehidupan manusia; antara orang kaya, orang miskin, dan orang berkecukupan.

Rumah tempat kita berada saat ini ibarat sebuah kehidupan yang memiliki tempat-tempat khusus. Ada lorong yang menghubungkan antar ruangan dan ada tangga untuk mencapai bagian rumah/ bagian kehidupan yang lebih tinggi; dimana semakin tinggi kita melangkah ibarat seperti mencapai lantai atas dari sebuah gedung tinggi, dimana langit dapat dipandang dengan luas (mampu merasakan Allah lebih dekat dan nyata).


Di sebuah rumah terdapat banyak ruangan; ada ruangan keluarga tempat dimana rasa bahagia, kebersamaan, keakraban terjadi dan terbentuk. Seperti suatu sisi kehidupan dimana kita berada di tempat yang menerima kita sebagai sebuah pribadi dan menyayangi kita dengan kasih yang tulus. Selanjutnya, ada ruangan untuk memasak, dimana aktivitas untuk mematangkan sesuatu terjadi di ruangan ini, sama seperti suatu fase dalam hidup dimana kita diuji dengan berbagai permasalahaan dan penderitaan yang bertujuan untuk mendewasakan kita dalam hidup ini. Ruangan lainnya adalah ruang tamu tempat kita berkumpul bersama tamu-tamu yang datang dalam rumah kita, seperti sebuah fase kehidupan dimana kita bertemu banyak orang dan bergaul dengan mereka dalam komunitas/ hubungan khusus lainnya. Di ruang tamu ini terdapat banyak sukacita dan kadang dukacita terutama jika tamu yang datang tidak menciptakan keharmonisan melainkan, menjadi seteru dalam dunia sosial kita. Tempat lainnya dalam sebuah rumah adalah kamar mandi, dimana kita membersihkan segala kekotoran kita dengan air yang segar dan sabun yang wangi; sama seperti suatu fase dalam hidup ini dimana kita membutuhkan pengampunan dosa, untuk membersihkan diri kita dari sedosa-dosa, sehingga menciptakan kesegaran baru dan pertumbuhan iman yang lebih dewasa. Ruang tidur adalah tempat dimana kita mengistrahatkan diri kita sejenak dari segala aktivitas dunia, sama seperti retret/rekoleksi yang kita ikuti yang bertujuan untuk memulihkan kembali bagian rohani kita yang mungkin mengalami kekeringan atau keletihan.

Lorong-lorong di setiap rumah ibarat seperti waktu dan kesempatan untuk merasakan sesuatu sesuai dengan ruangan yang kita tuju; dimana tujuan kita hendaknya selalu mengarah ke lantai atas untuk lebih dekat dengan pemandangan langit; yang tentunya lebih indah dan tenang, sama seperti suatu fase kehidupan yang telah mengalami kedewasaan iman dan kebijaksanaan; sehingga mampu mengolah setiap persoalan/permasalahan dari sudut pandang kacamata rohani.

Tangga yang menghubungkan lantai bawah dan lantai atas ibarat tempat dimana kita dididik untuk lebih mengenal Dia; seperti komunitas doa, atau kelompok kategorial lainnya dimana tempat itu merupakan wadah dan perantara kita, untuk masuk dalam tahapan pertumbuhan iman yang lebih dewasa.

Begitulah, bagian-bagian dari sebuah rumah yang beranekaragam bentuk dan warna yang menciptakan sebuah keindahan dalam dunia ini. Seseorang perlu mampu memahami arti dirinya sendiri, agar mampu bertahan hidup dalam sebuah rumah dalam setiap lorong dan ruangan yang akan dilewatinya.

Semoga kita semua hidup semakin mengarah ke atas dan jangan stuck di tempat yang nyaman terus menerus; karena hal itu tidak baik bagi diri kita sendiri. Sama seperti jika kita terus berada di dalam kamar mandi, kita tidak akan mampu menikmati bagian rumah lainnya dan tidak akan lebih sehat; karena berada di dalam kamar mandi dalam jangka waktu yang lama, bisa membuat badan menggigil kedinginan; sama seperti manusia yang terlalu religius yang dapat berujung pada fanatisme dan jauh dari logika.

Nikmatilah rumah dimana kita berada, dalam setiap ruangan yang harus kita lewati dan tempati, dan percayalah bahwa kita akan menemukan sesuatu yang berharga di setiap sudut dalam rumah tersebut. Semoga Tuhan menyertai langkah kita selalu dan memberikan pengertian akan arti kehidupan bagi kita pribadi lepas pribadi.Semoga...Amin.

Mengarungi Lautan Penderitaan

 Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Ada yang bilang, bahwa kehidupan ini adalah lautan penderitaan. Banyak orang yang telah bersaksi tentang kepahitan dan kesedihan yang telah dialaminya, seolah-olah hendak membenarkan bahwa kehidupan ini adalah lautan penderitaan yang tak terbatas. Sama seperti lautan yang luas yang ujungnya tak dapat dilihat; yang sangat luas dan dalam.

Jika hidup adalah penderitaan mungkin kita akan bertanya, mengapa kita tercipta kalau hanya untuk berada di dalam lautan penderitaan? Mengapa kita hidup hanya untuk merasakan penderitaan? Mengapa hidup ini terasa menjenuhkan dengan segala rutinitas dan kesibukannya seperti suatu batu besar yang harus kita pikul setiap hari?

Banyak diantara kita mungkin sudah pernah, atau sering berada dalam situasi depresi seperti ini. Saya adalah salah satunya yang sering mengalami hal ini. Namun mengalami hal ini, tidak membuat saya terus menerus tenggelam dalam lautan penderitaan di dunia ini.

Adalah benar, bahwa setiap dari kita terdiri dari latar belakang dan kisah kehidupan yang berbeda-beda. Benar bahwa tidak semua orang mempunyai kemampuan dan kapasitas untuk bertahan dalam menghadapi masa padang gurun dalam kehidupan ini. Namun, setiap orang memiliki akal budi untuk mengolah segala informasi dari kejadian yang dialaminya, untuk merefleksikan maksud dan tujuan semuanya itu.

Sejak Adam dan Hawa diusir keluar dari taman Eden, disaat itulah kehidupan manusia bagaikan lautan penderitaan. Karena manusia awal, telah memilih untuk keluar dari kasih Allah yang sejati. Manusia mengingkari kodratnya sebagai penerima cinta Tuhan. Manusia mengambil hak Tuhan untuk memberi cinta dan kehidupan pada manusia; sewaktu Hawa memakan buah terlarang yang merupakan bentuk pemberontakan manusia dimana manusia ingin menjadi seperti Allah. Akibat dosa, manusia diusir keluar dari kebahagiaan yang sepatutnya diterimanya, dan memasuki lautan penderitaan yang dimaksudkan untuk memurnikan manusia tersebut dan menyadari akan kodrat awalnya sebagai makhluk yang diciptakan untuk menerima cinta Tuhan.

Tapi pada kenyataannya, sampai sekarang sering terjadi bahwa manusia lebih memilih untuk menjadi seperti Allah dan bertolak belakang dengan kodratnya sebagai penerima cinta Allah. Manusia menjadi tuan atas sesamanya dan menganggap diri paling berkuasa, paling benar, paling pintar, paling kaya dibanding manusia lainnya. Manusia menjauhi cinta Tuhan dengan keegoisannya dan berjalan memasuki lautan penderitaan yang semakin dalam dan hampa.

Mungkin jika melihat mereka yang hidup berkelimpahan, sebagian orang akan menilai betapa enaknya menjadi seperti mereka. Benar sekali pepatah yang mengatakan bahwa rumput tetangga selalu lebih hijau, dimana hal ini membuat manusia jatuh ke dalam iri hati yang merusak kebahagiaannya sebagai pribadi yang sepatutnya berbahagia.

Banyak hal-hal yang menyeret manusia memasuki lautan penderitaan dan lupa menoleh ke belakang dimana dibelakang masih ada daratan. Masih ada harapan, untuk dapat bertahan hidup. Perjuangan diperlukan untuk merubah kondisi yang tidak menyenangkan tersebut. Tanpa tindakan nyata, maka manusia hanya seperti terombang ambing di atas lautan yang dalam, yang membuat hatinya dingin, dan jauh dari kasih.

Untuk itu, perlu untuk refleksikan diri, flashback dan menilai kembali jalan hidup yang telah kita lalui; apakah sudah berada pada jalur yang tepat atau justru banyak melenceng, sehingga membuat gesekan-gesekan dalam kehidupan rohani kita. Pertobatan di perlukan untuk mengampuni diri sendiri terlebih dahulu dan menyadari betul akan keterbatasan kita sebagai manusia yang sungguh terbatas. Tanpa cinta Tuhan, semua bagaikan gelas kosong yang tak ada isinya. Hampa dan hanya menjadi pajangan yang mewarnai dunia ini.

Setelah memaafkan diri sendiri dan mengisi diri dengan cinta Tuhan maka, berdamai dengan orang lain membuat gelas yang kosong tadi berisi setitik air yang bermanfaat untuk menyegarkan kehidupan rohani kita. Pengampunan terhadap sesama adalah hal yang teramat sulit dan hanya bisa dilakukan dengan rahmat Tuhan dan dengan kekuatan dari Tuhan. Tanpa keintiman dengan Tuhan sang Kekuatan sejati, sebagai manusia, kita sungguh tidak akan mampu melawan keinginan daging untuk mengingat kesalahan orang lain pada diri kita masing-masing. Hanya Tuhanlah yang mampu menguatkan kita dalam mengarungi lautan penderitaan di kehidupan kita saat ini.

Saya yang hidup sebatang kara sungguh merasa kasih Tuhan yang nyata membimbing dan melindungi anak yatim piatu. Dengan syarat: yang bersangkutan mau bersekutu dengan Allah. Tanpa berteman akrab dengan Dia, mana mungkin kita bisa merasakan kasihNya? Sama seperti jika kita berteman dengan manusia lainnya, kalau kita tidak akrab dengan seseorang gimana mau bersahabat dengan dia? Kalau uda menjadi sahabat, tentu hal-hal yang baik dari sahabat akan mampu kita rasakan dan kita kenali karna kita sudah lama berteman dengan dia. Dan sebagai sahabat pasti tidak akan membiarkan sahabatnya susah dan menderita sendiri. Pasti ada, tolong menolong dan saling mengasihi satu sama lainnya. Begitu pula hubungan saya dan Tuhan. Saya membangun keintiman denganNya lewat doa harian dan saat teduh untuk merenungkan dan menghayati FirmanNya. Hal itu sungguh menguatkan saya, meski saya berulang kali jatuh ke dalam kesalahan yang merusak persahabatan kami.

Tanpa komunikasi dengan Tuhan, dan tanpa membaca FirmanNya, bagaimana mau mengenali Dia sebagai Pribadi? Cinta itu timbul dari rasa mengenal dan kedekatan personal dengan yang dikasihi, dan hanya cintalah yang mampu membuat seseorang bertahan dalam komitmen yang telah mereka bangun bersama. Tanpa Cinta Tuhan, sebagai manusia yang lemah kita akan sangat sulit berjuang dalam lautan penderitaan di dunia ini.

Marilah menimba kekuatan lewat cinta Tuhan yang nyata dalam kehidupan kita sehari-hari agar kita mampu melewati lautan penderitaan yang tiada bertepi.

Mengenal dan Memahami Kebenaran Relatif

 Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Jika kita mengikuti perkembangan berita belakangan ini, ada hal-hal yang sangat membuat bingung karena yang namanya kebenaran sudah menjadi kebenaran subjektif yang, artinya sebuah kebenaran itu akan menjadi benar dan baik menurut orang tertentu tapi, hal tersebut tidak berlaku bagi orang lain.

Beberapa kasus diantaranya seperti masalah LGBT dimana terdapat dua sudut pandang yang saling bertolak belakang; bagi kaum LGBT hal ini adalah normal, tapi bagi kaum awam religius fanatik dan awam pada umumnya, LGBT itu adalah penyakit dan penyimpangan. Untuk lebih dalam mengenai pembahasan topik ini bisa dilihat pada artikel lainnya, namun disini yang mau saya sampaikan adalah bahwa nilai kebenaran subjektif peningkatannya sudah sangat tinggi.

Kasus lainnya seperti masalah aborsi, dimana dunia medis menghalalkan tindakan aborsi pada situasi dan kondisi tertentu sementara gereja Katolik melarang dengan tegas. Kasus lain yang lebih sederhana adalah kasus permohonan maaf Mulan Jameela kepada Maia Estianti yang sangat kontroversial. Sebagian orang akan mengklaim tindakan Mulan adalah salah, sebagian akan mendukung tindakan Mulan, yang terlihat di publik adalah kebenaran subjektif yang sangat menghakimi dalam sebuah kasus.

Di dalam keluarga sendiri, bisa juga terjadi perselisihan akibat kebenaran subjektif ini; sebagai contoh seorang anak yang meminta izin bermain video game sesaat setelah selesai makan malam. Ibu, akan melarang keras anak tersebut untuk bermain video game berhubung besok akan ujian, sementara ayah memperbolehkan anak tersebut bermain video game dengan catatan memiliki batas waktu misalnya setengah jam aja; karena jika di paksa belajar terlalu keras maka anakpun bisa bosan, jenuh dan besoknya bakalan lupa semua yang telah dipelajari lantaran terlalu keras dalam belajar. Apa yang dianggap baik oleh ibu, belum tentu baik bagi anak, demikian juga apa yang dianggap baik oleh ayah belum tentu baik bagi anak; anak otomatis akan mengiyakan pendapat ayah yang sejalan dengan keinginannya, dan apakah ini benar?!

Sebagai seorang ibu yang tau akan kebutuhan dan kondisi anak pasti akan merasa bahwa pendapatnya adalah benar sementara ayah yang jarang di rumah dianggap tidak tau kebutuhan dan kondisi anak, dan tentu saja pendapatnya pasti salah demikian pikiran si ibu tersebut, apalagi jika dikaitkan dengan masa lalu ibu tersebut yang memang anak rumahan, kutu buku dan suka belajar. Disini kebenaran menurut ibu tersebut sangat bersifat subjektif karena didasari keinginannya untuk mengendalikan orang lain (anak) sesuai dengan latar belakang si ibu. Ibu menutup kehadiran hiburan di waktu belajar si anak, karena menganggap konsentrasi anak akan buyar ketika anak tersebut bermain game. Namun, jika dikaitkan dengan kondisi anak yang sudah jenuh belajar, hal ini tidaklah benar sehingga pendapat ibu tersebut termasuk kategori kebenaran subjektif.

Banyak hal seperti kasus di atas menjadi kebenaran relatif dan sangat membingungkan karena apa yang kita anggap baik dan benar, belum tentu baik dan benar menurut orang lain. Namun sebagai seorang Katolik yang telah dibaptis berarti sudah mengikat diri dengan hukum dan tradisi gereja Katolik. Hendaknya setiap orang Katolik mencerminkan kekatolikannya dalam bersikap sehingga kebingungan itu tidak sampai menggoyahkan iman. Karena kebenaran relatif yang bersumber dari kebenaran subjektif dapat membuat kita menyimpang dari iman kita.

Sebagai contoh, ketika bertemu kasus pelecehan seksual dengan korban utamanya wanita dan ternyata hamil, jika kita berada pada sisi kemanusiaan, empati yang kita rasakan bisa saja membenarkan tindakan aborsi yang dilakukan oleh wanita yang mengalami pelecehan seksual tersebut. Karena dari sisi medis sendiri sudah memiliki syarat-syarat aborsi yang dilegalkan, jadi kalau sebagai seorang katolik yang tidak mengerti hukum gereja katolik, maka tindakan aborsi tersebut bisa menjadi kebenaran subjektif dan berakhir pada kebenaran relatif; yang pada akhirnya membuat seorang Katolik menyimpang dari iman yang diyakininya.

Di gereja Katolik hukum tentang seksualitas sangat tegas dan jelas. Walaupun banyak perdebatan panjang tentang beberapa hukum gereja Katolik misalkan aborsi, perkawinan, seksualitas (kb alamiah), dll; namun apa yang ditetapkan gereja Katolik adalah bersifat de facto. Seorang Katolik harus menerapkan hukum kanonik dengan sadar dan waras, artinya tidak berdasarkan perasaan-perasaan tertentu yang berhubungan dengan kasus tertentu. Karena ketaatan terhadap pemimpin tertinggi gereja Katolik merupakan ketaatan terhadap Kristus sendiri, seperti ada tertulis dalam Matius 16:18 : ”Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya”. Dan Perlu diingat kembali bahwa Pemimpin tertinggi gereja Katolik adalah penerus rasul Petrus.

Jadi, kebenaran relatif dengan kebenaran subjektif sangat berkaitan erat karena yang membuat manusia merasakan kebenaran relatif adalah karena dia berada dalam kebenaran subjektif yang keluar dari hakikatnya sebagai umat Katolik. Sikap menghakimi dalam kebenaran subjektif sangat bertentangan dengan Firman Tuhan yang mengharuskan kita untuk saling mengasihi satu sama lainnya sebagai wujud kasih kepada Tuhan. Yohanes 13:34: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”.

Untuk itu, apabila kita menginginkan kebahagiaan dalam hidup ini, hendaknya kita berlaku sesuai dengan kodrat sebagai manusia yang memancarkan keilahian Sang Pencipta, dan jangan sampai jatuh ke dalam kebenaran relatif, yang dapat membuat diri kita jauh dari kebahagiaan yaitu jauh dari Tuhan sang sumber kebahagiaan sejati di dalam hidup ini.