Tampilkan postingan dengan label Tentang Saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Saya. Tampilkan semua postingan

Tentang Mukjizat

Ditulis Oleh: Irse Wilis 

Sadar atau enggak sadar, di dalam kehidupan ini sering sekali terjadinya mukjizat. Mukjizat itu adalah sesuatu  hal baik, yang terjadi di luar akal sehat dan ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Jika tidak ada campur tangan Tuhan, maka hal tersebut dipandang sebagai suatu hal yang kebetulan saja. Dalam mukjizat; kesaksian seseorang memegang peranan penting dalam pewartaan hal yang luar biasa tersebut. Karena hanya orang yang sudah merasakannya; yang akan mengaminkan suatu peristiwa mukjizat.

Beberapa hari belakangan ini, saya mengalami mukjizat yang menurutku sangat membantu perkembangan imanku yang membuatku semakin sadar bahwa Tuhan itu sungguh hadir di dalam keseharian hidup manusia.

 Akhir bulan September 2016, cuaca di kota Medan sungguh teramat buruk. Hujan badai, yang menyebabkan banjir dan pohon tumbang dimana-mana. Kejadian paling parah tepatnya pada hari rabu 28-09-2016 & kamis 29-09-2016.

Tanggal 30-09-2016 (hari Jumat) akan diadakan misa pembukaan bulan Rosario di gereja Kristus Raja (KR) Medan, tanggal 01-10-2016 (hari Sabtu) saya selaku anggota Legio Hati Maria Tak Bercela (HMTB) diundang untuk menghadiri rapat OMK untuk berdoa rosario bersama.

Sejak hari Kamis; saya sudah memiliki kegiatan di seputaran gereja KR-Medan. Saya berdoa dalam hati agar pada hari Kamis, Jumat dan Sabtu nanti; semoga tidak terjadi hujan badai seperti yang telah terjadi pada hari Rabu tgl 28-09-2016 yang lalu. Saya percaya, Tuhan akan mendengar doa saya, sekalipun tidak didengar; saya akan tetap menghadiri devosi Kerahiman Ilahi pada hari Kamis 29-09-2016 pkl 17.30 demikianlah sebagian isi doa yang saya panjatkan mulai Kamis pagi.

Dan hasilnya, sampai devosi selesai sekitar pkl 18.30 langit yang terang tiba-tiba gelap gulita, pertanda hujan akan segera turun. Tak sedikitpun saya kecewa karena malam ini akan turun hujan lagi. Dan puji Tuhan, sampai di rumah; saya tidak basah kuyup seperti hari-hari sebelumnya ketika saya terkena hujan badai. Besoknya, hari Jumat 30-09-2016; doa yang sama saya ucapkan lagi, memohon kemurahan hati Tuhan supaya hujan tidak badai sehingga perarakan patung Bunda Maria  dari luar gereja boleh berjalan dengan lancar. Saya yang bertugas menjadi pembagi lilin dan penjaga pintu gereja; tidak mengikuti perarakan sehingga bisa leluasa mondar mandir memperhatikan langit di sore itu. 

Dan doaku seperti tidak terjawab lagi; langit sudah penuh dengan gulungan awan pekat seperti kejadian pada hari-hari sebelumnya. Dalam hati, saya ketar ketir sendiri; "gimana ya; seandainya hujan turun di saat doa rosario sedang berlangsung selama perarakan di luar gereja tersebut??!!!". Saya ngoceh sendiri sambil memandang gulungan awan di langit, "hush..awan-awan..pergi lah menjauh!!!, hujannya bawa ke tempat lain saja", seruku sambil berdoa dalam hati untuk mohon pertolongan Tuhan agar perarakan dan doa rosario dapat berjalan lancar. Dan luar biasa, angin yang kencang tidak menurunkan butiran hujan, sehigga perarakan selesai dan misapun berjalan dengan tenang dan lancar. Sayapun sampai di rumah dengan selamat dan tidak basah karena hujan turun sekitar sejam setelah misa selesai.

Ajaib benar dan nyata benar kuasa Tuhan pada Jumat sore tersebut. Aku merasa hal ini mukjizat karena Tuhan mendengarkan dan mengabulkan doaku. 

Mukjizat kedua tentang doa mohon beatifikasi hamba Allah Frank Duff yang merupakan pendiri Legio Maria. Sejak menjadi auksilier legio HMTB (Mei 2016), sampai saya menjadi anggota aktif mulai Juli 2016 sampai sekarang; saya tetap mendoakan doa Tessera lengkap sampai doa Beatifikasi hamba Allah Frank Duff. Di doa permohonan ini; saya terus menerus meminta agar Tuhan menambahkan anggota legio kami; supaya semakin banyak generasi penerus legio ini, dan semoga anggota aktif semuanya boleh sungguh-sungguh menjadi legioner sejati; yang rajin ikut rapat dan aktif dalam pelayanan. Doa ini terus menerus saya panjatkan dan pada hari Minggu tanggal 02-10-2016; doa tersebut terjawab dan terkabul.

Anggota baru dari antah berantah berkunjung hari Minggu tanggal 25-09-2016. Biasanya, anggota legio sudah saling kenal. Misalnya, si x menjaring temannya si z untuk ikut legio ini, dan demikian seterusnya; sehingga kebanyakan anggota legio HMTB sudah saling kenal. Tapi, tamu spesial tanggal 25-09-2016 adalah tidak berasal dari teman-teman internal legio HMTB. Seorang tamu yang langsung menyatakan keinginannya untuk menjadi anggota aktif legio HMTB. Sekedar info; saya sendiri memerlukan waktu yang cukup lama (sekitar sebulan) dalam memutuskan apakah ingin menjadi anggota aktif di kelompok kategorial ini, atau tidak.

Tanggal 02-10-2016 pada rapat legio berikutnya, tamu spesial pada minggu lalu datang lagi dan menunjukkan bahwa dia beneran niat join dengan kelompok legio kami dan secara ajaib semua anggota aktif legio HMTB berkumpul untuk ikut rapat bersama; bahkan eks anggota juga turut hadir meramaikan rapat legio pada minggu ini. Puji Tuhan, saya merasa hal ini di luar akal saya dan semua karena campur tangan Tuhan sehingga semua hal ini dapat terjadi. Mungkin bagi orang lain hal ini adalah hal biasa-biasa saja; tapi buat saya; hal ini adalah mukjizat karena Tuhan menjawab doa saya dengan waktu dan prosesNya.

Yang ingin saya sampaikan adalah pekalah melihat kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari; karena Tuhan selalu menjawab doa-doa kita walaupun terkadang jawabanNya adalah "TIDAK". Doa merupakan sarana untuk merasakan mukjizat seperti yang telah saya alami.


Jangan berhenti berdoa, karena doa adalah nafas bagi orang yang percaya pada Yesus.

"Roma 12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! "


Kenangan Komuni Pertamaku

Ditulis Oleh: Irse Wilis


Membaca topik yang dilempar di grup tanggal 28 Mei 2016 yang lalu, ikut membangkitkan kenangan saya akan komuni pertama yang rasanya sudah sejak lama saya terima. Komuni pertama adalah saat pertama sekali menyambut Tubuh dan Darah Tuhan Yesus Kristus dalam rupa Hosti yang sudah diberkati.

Berhubung surat-surat saya banyak yang hilang akibat gempa tahun 2005 yang lalu, maka saya benaran lupa tanggal saat saya menerima Komuni Pertama. Yang saya ingat adalah Penerimaan komuni pertama terjadi sewaktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, tepatnya sekitar kelas 4. Sebelum menerima Komuni Pertama banyak sekali persiapan yang harus dilakukan seperti pembelajaran dan termasuk menerima sakramen tobat.

Menghafal doa tobat adalah salah satu momen yang sangat mendebarkan. Jadi, selama ngaku dosa yang teringat adalah doa tobatnya, sementara dosa yang mau diakui terlupakan begitu saja karena sangat gugup, takut doa tobatnya terlupakan. Hahahaha :D

Kejadian lain yang saya ingat adalah saya begitu semangat untuk menerima Hosti Kudus yang sudah lama saya idam-idamkan. Sewaktu mama atau papa terima komuni, saya selalu minta bagian karena sangat penasaran, gimana sih rasanya tubuh Kristus? Apakah seperti daging ayam goreng kesukaanku? Atau seperti roti bakar manis kesukaanku? Begitulah anak-anak yang belum mengerti benar akan hakikat Hosti Kudus tersebut.

Mengingat masa kecil, membuat saya berfleksi sejenak betapa jauhnya perjalanan iman yang telah saya lalui. Dari yang dulunya tidak paham, kini semakin paham dan menghayati akan Hosti Kudus yang disambut setiap kali mengikuti perayaan Ekaristi Kudus. Keinginan saya untuk menerima Hosti Kudus bagaikan minum air setiap harinya dimana ketika dalam sepekan tidak mengadakan perayaan Ekaristi, rasanya seperti dehidrasi dan kosong. Tapi, ketika mengikuti perayaan Ekaristi, menyambut tubuh Tuhan dan menghayati misteri wafat dan kebangkitanNya, semakin mampu menguatkan kaki saya yang kadang letih untuk melangkah maju.

Begitulah secuil kisah komuni pertama saya dan kesaksian iman saya tentang tubuh Kristus yang beneran sanggup memulihkan keadaan buruk sekalipun. Karena sesaat setelah tubuh Kristus masuk ke tubuh jasmani saya, maka saya merasa dikuatkan, semangat Kristus membakar semangat pelayanan dan rela berkorban dalam diri saya, kasih Kristus membakar saya untuk semakin mengasihi kehidupan, sesama dan alam sekitar, begitu banyak keajaiban yang saya dapatkan dari Hosti Kudus kecil yang bagi orang yang tidak mengimaninya hanyalah sekeping roti hambar yang tidak mengenyangkan.

Jika, Hosti Kudus tidak memiliki khasiat apa-apa di dalam diri seseorang, apakah itu salah Hosti? Menurut saya sih enggak! Karena kasih Allah merata bagi semua manusia. Reaksi/Iman manusialah yang menentukan terjadinya mukjizat atau tidak dibalik sekeping roti kecil tersebut. Jadi, alangkah mirisnya jika mendengar sesama katolik yang mengimani Hosti tersebut sebagai roti biasa. Karena imannya-Lah yang menentukan Hosti tersebut berkhasiat untuk mendatangkan mukjizat seperti kekuatan, kesembuhan, pemulihan, dan sebagainya.

Merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus tanggal 29 Mei 2016 yang lalu selain mengingatkan saya akan masa penerimaan Komuni Pertama, juga sebagai momen untuk bersyukur lebih dalam lagi tentang kasih Tuhan yang sungguh nyata hadir dalam Hosti Kudus yang saya terima setiap merayakan perayaan Ekaristi. Saya merasa sebagai manusia yang beruntung yang memiliki Tuhan yang rela datang ke dalam hidup saya dan memulihkan saya lewat Hosti Kudus yang selalu saya sambut setiap merayakan perayaan Ekaristi.


Bagi saya, hosti kudus adalah benar-benar tubuh dan darah Tuhan dan bukan hanya simbol untuk mengenangkan sesuatu. Ayat berikut adalah kutipan ucapan Yesus yang menegaskan sendiri bahwa roti yang dipecah-pecahkanNya adalah tubuhNya sendiri, dan BUKAN simbol dari tubuhNya.

1Korintus 11:24: dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!"



Dunia Suka Dibohongi, tapi Saya Tidak!

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Apa sih pentingnya penampilan?
Apa sih pentingnya berpakaian mewah, rapi dan cantik?

Pengalaman hari ini mengajarkanku betapa pentingnya suatu penampilan. Hari ini aku mengalami dua kejadian yang sangat membuatku jengkel. Manusia yang ku jumpai beneran tidak seperti manusia seutuhnya dan cenderung melihat sesamanya secara objektif. Hal ini sungguh membuatku jengkel, karena respon "dia" terhadapku sangat tidak bersahabat, tidak profesional dan tidak manusiawi sekali.

Aku yang terbiasa dengan pakaian casual cenderung sepele dengan penampilan, tidak makeup, tidak pakai sepatu bermerek, dan tidak mengendarai mobil yang mewah. Malah mirip seorang sales dengan kaos oblong, celana jeans dan sandal gunung lengkap dengan jaket gombrong kesukaanku. Sales Counter di toko jam yang ku kunjungi siang ini sungguh tidak profesional dan menganggap sepele kehadiranku. Saat aku bertanya ini dan itu dengan ciri khas para penggila diskon yang suka barang murah, hal itu membuat "dia "semakin menyepelekanku. Jam telah menunjukkan hampir jam 12 siang dan hal itu membuat cacingku berdemo ria sehingga membuat emosiku menjadi tidak stabil.

Adapun percakapan kami di siang tadi, sebagai berikut:
 "Kak, jam yang lagi promo di deal medan, barangnya apa ada di sini?", tanyaku. Dengan sedikit malas kakak itu menuju counter jam POLICE incaranku. "Yang mana kak jam yang kamu maksud?" dia balik bertanya padaku. "Aduh, sebentar ya aku buka hp dulu karena aku lupa-lupa ingat bentuk dan model jamnya" sambil berusaha membuka hp. Tiba-tiba seorang rekannya datang dan mencari sesuatu. "Dia" bertanya ke rekannya tersebut dan kemudian dia paham akan jam yang ku maksud. "Dia" menunjukkan jam tersebut padaku. Lantas aku bilang "keluarin dong, aku kan mau lihat barangnya, kalo aku suka jamnya; hari ini langsung ku beli" seruku masih dengan antusias. Disaat itu, ekspresi wajahnya sudah berubah entah karena lapar atau karena malas atau entah lah.

Aku memperhatikan dengan detail jam tersebut, sepertinya barang pajangan dan aku mau yang lebih baru lagi. Lantas aku bertanya "Apa ada barang lainnya?" tanpa menjelaskan maksud pertanyaanku. "Dia" mulai gusar dan menjawab dengan ketus "barangnya cuman itu kak" jawabnya dengan nada tinggi. "Kalo yang ini, aku gak mau" jawabku. "Masa kalian cuman punya satu stok aja? sementara ini lagi promo loh, dan pasti banyak peminatnya" sambungku. " Tidak ada kak" jawabnya dengan malas dan masih dengan nada tinggi. "Selain jam ini, ada lagi gak? jam police yang promonya mirip dengan jam police yang ada di deal medan?" tanyaku berusaha mencari tau manatau ada jam police tipe lain yang lebih kece dan murah. "Kakak lihat sendiri kan di website deal medan kan hanya satu jenis ini yang promo, yang lain tidak ada" jawabnya ketus. Dalam hitungan detik, tensiku langsung naik dan mengembalikan jam yang hampir ku beli itu sambil berkata "cara ngomongmu gak enak kali, ini lah jamnya, gak jadi ku beli" jawabku dengan suara yang bergetar. Bergetar karena aku menjaga supaya tidak lepas kendali; karena kalau lepas kendali, nanti pasti bisa heboh karena aku bisa ngomong sekasar-kasarnya yang bisa melukai harga dirinya. Makanya, aku coba redam amarahku dan berlalu pergi dan segera menyelesaikan transaksiku di deal medan yang kantornya terletak di  situ juga.

Pembicaraan kami tadi, tidak sesingkat seperti yang ku tuliskan di tulisanku ini. Ada kata-kata dan bahasa tubuhnya yang menganggap aku hanya pembeli bohongan. Mungkin karena penampilanku yang biasa-biasa ini , dia menyepelekan kemampuan daya beliku. Dan sebagai balasannya, aku tidak memaki "dia", aku tidak melaporkan "dia" ke bosnya, cukuplah aku tidak belanja di tempat "dia" yang tidak menghormatiku sebagai calon pembeli.

Dalam dunia bisnis, penampilan selalu nomor satu. Tak peduli, apakah yang wah itu belanja dengan kartu kredit atas namanya sendiri atau dengan kartu kredit atas nama orang lain. Sebenarnya tidak salah jika memperhatikan seseorang dari penampilan; yang salah adalah ketika kita menjudge seseorang dari penampilannya. Karena seseorang yang mampu tidak selalu berpakaian wah dan seseorang yang wah tidak selalu mampu membeli dengan kemampuannya sendiri. Dunia penuh dengan kebohongan dan manusia suka sekali dibohongi terutama di bohongi oleh penampilan. Ini pelajaran berharga buatku, untuk tidak menjadi seperti "dia" agar bisnis apapun yang ku jalani menjadi berkat bagi orang lain, alias berdampak baik bagi sesama dan bukan malah memperburuk keadaan/suasana hati orang lain.

Aku membalas tindakan buruk "dia" dengan belanja di tempat lain yang lebih profesional melayani calon pembeli; sekalipun calon pembelinya bertampang gembel seperti aku. Kalau mereka jeli sedikit memperhatikan barang-barang yang ku pakai; itu tidak semurah pikiran mereka dan aku selalu membeli dengan tunai dan tanpa kredit. Bukan untuk pamer, tapi cukuplah "dia" yang mirip dengan siapapun di dunia maya yang luas ini berhenti untuk menjudge seseorang dari penampilan dan belajarnya menjadi ramah, menjadi manusiawi yang penuh cinta, damai dan toleransi dengan manusia dalam bentuk apapun.

Kejadian kedua adalah Bank yang tidak perlu ku sebutkan namanya, dimana prosedur dalam bank itu terkesan bertele-tele dan tidak masuk akal dan sungguh memancingku untuk berbohong soal identitas, namun dasar orang jujur yang gak pandai nipu, dengan polosnya aku jawab rekening tujuan tempat duit setoranku siang ini adalah bukan milikku; dan dengan tegasnya mereka menyuruh mengisi formulir dan macam-macam deh. Niat baikku untuk membantu temanku untuk setor duit nyaris luntur, namun ku pertahankan demi pencapaian misi di siang ini. Bela-belain deh ngisi formulir, tidak cetak buku tabungan, dan bayar parkir mahal walau duit yang disetor cuman sejuta doang.

Inilah efek pencucian uang yang berimbas ke orang kecil seperti aku, yang dicurigai maksud dan setoran duitnya di siang ini. Kadang peraturan yang dibuat manusia sungguh tidak efektif dan efisien sehingga membuat orang-orang kecil khususnya aku, jadi malas nabung di bank yang punya segudang peraturan yang memusingkan seperti bank yang ku kunjungi di siang ini.

Peraturan ada untuk dilanggar, itu terjadi jika peraturan tersebut tidak tepat sasaran; seperti yang ku rasakan siang ini yang nyaris membuat aku menjadi pembohong, tapi untunglah suara hatiku lebih kuat dibanding logikaku. 

Kejadian hari ini, sungguh merupakan gambaran dunia yang sudah sangat jahat dengan pola perilaku yang menyusahkan orang lain; semoga semakin banyak manusia, jujur, bijak dan pemberani seperti Gubernur DKI Ahok, yang bisa menjadi contoh dan teladan nyata dalam dunia di zaman sekarang ini.

Don't judge by cover &
Buatlah peraturan yang tepat sasaran

Itulah dua pesan yang ku dapat lewat kejadian yang ku alami di siang ini.



Sosok Kartini yang Nyata Dalam Kehidupanku

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Ada sebuah lagu yang selalu berhasil membuat aku menangis. Karena di lagu ini, aku masih mendengar suara almh mamaku dengan sangat jelas, dengan suara yang pas-pasan tapi ekspresinya begitu tenang, begitu indah sebagai seorang perempuan dengan beban yang tidak biasa. Lagunya adalah: Ku mau cinta Yesus, selamanya... Ku mau cinta Yesus selamanya... meskipun badai silih berganti dalam hidupku, ku tetap cinta Yesus selamanya.

Seperti siang ini, disaat aku yang begitu mencintai kesunyian tiba-tiba memutar musik dari hpku dan mendengar lagu tersebut, dan bisa ditebak! aku menangis lagi..! Aku merasa begitu rindu dengan sosok beliau, "duh beginikah cara orang meninggal menyampaikan salam rindunya dengan cara yang tiba-tiba?!" pikirku dalam hati. Aku hanya bisa berdoa untuk beliau semoga tenang dan damai bersama Yesus yang dicintainya.

Di hari Kartini ini, sebenarnya tidak ada yang begitu spesial sampai lagu itu memberikan kesan spesial di hati dan pikiranku. Teringat sosok perempuan yang mengajariku banyak hal tentang iman dan tentang kehidupan ini. Mama seorang yang tidak tamat SD tapi mampu mengejar mimpinya menjadi orang  yang sukses. Darinya aku belajar tentang keteguhan dan kesetiaan serta tanggung jawab dan tentang Tuhan yang dia sembah.

Tak bisa dipungkiri, kalau sejarah kehidupan imanku dimulai dari baptisan bayi saat aku belum mengerti apa-apa. Namun, seiring berjalannya waktu; cerita tentang Yesus yang ku dengar di sekolah minggu, dan di gereja serta yang ku baca dari buku cerita Alkitab anak yang diberikan papa; terjelma nyata lewat sosok yang begitu penuh kasih, murah hati dan ramah, dia adalah mamaku. Mamaku begitu mengimani Yesus, dia menjadi teladanku dalam menjalani hidup ini. Salah satu contoh teladan sederhana yang diajarkannya adalah membiasakan diri berdoa, sebelum memulai aktivitas dan setelah mengakhiri hari sebagai ritual kebersamaan kami berdua. Ya, cuman kami berdua yang sangat mencintai rutinitas sebagai sesuatu yang menghidupkan, sama seperti makan yang merupakan rutinitas untuk tetap bertahan dalam menjalani kehidupan yang tidak gampang ini.

Apakah iman hanya rutinitas belaka? Perjalanan hidup menunjukkan betapa rutinitas itu membuat dia mampu melewati setiap masalah dengan kacamata iman, dengan berdoa, dengan sharing bersama kakak rohaninya, dengan mempersembahkan penderitaannya lewat persembahan kasih dan pelayanan. Dari rutinitas tersebut, timbul kebiasaan yang baik, yang perlahan menimbulkan kecintaan dan akhirnya pengharapan dalam penantian akan keselamatan yang dijanjikan oleh Dia; yang memberi harapan keselamatan kekal bagi yang percaya padaNya.

Mamaku adalah sosok Kartini yang nyata dalam kehidupanku karena dia, memberi contoh tentang keteguhan sekalipun badai yang dilaluinya sangat menguras tenaga, hati, pikiran dan tubuhnya. Hanya iman, kasih dan harapan pada Yesus yang mampu membuat dia bertahan pada pernikahannya; yang membuat dia sadar akan perannya sebagai istri sampai akhir perjalanannya di dunia ini. Darinya, aku belajar tentang pelangi setelah hujan, tentang Tuhan yang tidak terlihat namun dapat dirasakan kehadiranNya, tentang perjuangan sebagai manusia yang harus mandiri dan tidak menjadi beban bagi orang lain, dan masih banyak hal lainnya yang tidak mungkin ku sebutkan satu per satu. Mama, telah memulai pendidikan dasar kehidupan dan iman sejak aku masih anak-anak. Dan itu, sungguh membekaliku dalam perjalanan kehidupan ini, sekalipun tanpa kehadiran fisik yang nyata darinya.

Mama sama seperti perempuan lainnya yang memiliki fisik yang lemah dan terbatas, tapi merupakan pejuang yang tangguh dalam kehidupan ini. Banyak kisah perempuan tangguh lainnya yang bisa digoogling sendiri sebagai pembuktian akan ketangguhan para perempuan; yang tujuannya bukan untuk merendahkan lelaki tapi, sekedar mengingatkan kembali bahwa perempuan adalah bagian dari lelaki yang harus dijaga dan dikasihi.

Semoga para perempuan menyadari akan kodratnya dan berusaha tetap setia dan teguh pada perannya, entah sebagai ibu rumah tangga, mama mertua, mama kandung, kakak, saudari, adik dan lain-lain. Kalian adalah sumber inspirasi bagi mereka yang mengagumi kalian secara diam-diam, sama seperti aku yang begitu mengagumi ibu yang telah melahirkanku di dunia ini.

Sekalipun tubuh tak dapat bertemu, tapi aku percaya jiwa kami dapat bertemu dalam doa pada Tuhan yang kami imani bersama.

Terimakasih mama, terimasih atas segala cintamu padaku

Selamat Hari Kartini bagi para perempuan di seluruh dunia, tetaplah menjadi perempuan seutuhnya dan tetaplah kuat

Kisah Tamparan Pertamaku

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Siang ini, ditemani hujan gerimis yang tak diundang dan udara sejuk yang menggoda, aku teringat sebuah kisah lama, yang terjadi pada suatu pagi di kelas 2A di salah satu Sekolah Menengah Pertama di kampungku, tempatku menuntut ilmu. Di pagi itu, sifat kepoku tak terbendung dan aku menjadi radio yang terus berbunyi di sepanjang jam pelajaran sejarah yang sedang berlangsung.

Aku dan teman baikku terlalu asik bercerita sampai tak sadar akan sorot mata pak guru yang sedang mengamatiku. Tiba-tiba sebuah kapur tulis mendarat tepat di kepalaku dan langsung menghentikan obrolan kami saat itu. Tiba-tiba darahku berdesir seperti baru selesai lomba lari. Dan tidak memerlukan waktu yang lama, aku segera di panggil ke depan kelas lantaran terlalu ribut dan mengganggu jam pelajaran tersebut. Sakitnya sih gak seberapa, tapi malunya itu loh...banget deh!. 

Aku mulai berdiri seperti orang bego di depan kelas, tak sanggup menatap wajah teman-teman yang sudah mulai memperhatikanku dan tak segan untuk menertawakanku. Tidak lama kemudian, setelah aku berdiri manis di depan kelas, teman baikku ke luar ruangan dengan alasan mau ke kamar mandi. Sesampainya di luar kelas, dengan bahasa tubuhnya dia mulai mengkode aku. Katanya: “Kasihan deh lu”, sambil menjulurkan lidah dan tertawa cekikikan. Aku yang gak tau diri (gak sadar sedang dihukum dan berada di depan kelas) terlalu terburu-buru menanggapi omongannya yang mengejek tersebut, lantas menanggapinya dengan bahasa tubuh yang hendak menjotos dia di saat jam istrahat nanti. Gerakan tubuhku di depan kelas tersebut, sontak menarik perhatian guru yang sedang mengajar di jam tersebut. Dia mendekatiku dan Plaaak...! sebuah tamparan keras mendarat di pipiku, membuat kulit pipiku menjadi merah merona seperti terkena blush on.

Aku yang merasa tak berdosa mulai terisak-isak di depan kelas disaksikan oleh teman-teman yang lain. Sebelum melanjutkan pengajarannya, pak guru sejarah itu menjelaskan dengan bijaksana mengapa dia menamparku saat itu. Aku yang penuh dengan amarah dan kesedihan tidak dapat menerima alasan apapun yang disampaikan oleh guru tersebut, dan berniat untuk melaporkan kejadian itu kepada Bapakku; dengan harapan guru tersebut mendapat teguran dari kepala sekolah terkait tindakan kekerasan yang dilakukannya padaku.

Aku tak bisa menghentikan air mataku dan masih terus menangis, lantaran ini adalah tamparan pertama yang mendarat di pipiku. Saat jam istrahat berdentang, aku masih harus menghadap Pak Guru di ruangan guru tempat markas besar para guru berkumpul. Aku diam seribu bahasa karena tidak menerima alasan apapun dari pak guru tersebut. Kejadian itu sungguh membekas dalam ingatanku dan membuatku selalu menjaga jarak dengan pak guru tersebut.

Teman baikku berusaha menghiburku dan menenangkanku yang ku balas dengan rajukan seolah-olah semua yang terjadi adalah karena kesalahannya. Di sisa akhir jam pelajaran pada hari itu, ku lewati dengan berdiam diri dan berpikir cara membalas dendam ke guru tersebut.

Tapi, dasar masih polos dan takut akan nilai jelek (takut nilai terancam ketika melaporkan guru tersebut) maka niatku untuk melapor ke Bapakku, batal ku laksanakan. Aku menyimpan kisah ini dan menikmati sendiri akibat ulah bodohku yang menjadi penyiar radio di saat jam pelajaran berlangsung.

Masa sekolah penuh dengan kenangan indah, walaupun kisah ini merupakan kejadian buruk bagiku namun, aku  mendapat suatu pelajaran berharga yaitu harus mampu menahan diri untuk tidak ribut dan menjadi pendengar yang baik, ketika guru sedang bercerita di depan kelas sekalipun dia adalah guru yang sangat membosankan. Daripada kena tamparan lagi...lebih baik aku belajar diam dan menghargai keberadaan orang lain terutama dia yang lebih tua dari aku.

Buat kamu yang suka ngomong tanpa kenal waktu, tempat dan keberadaan orang lain, hati-hatilah jangan sampai kena tamparan seperti yang pernah aku alami. Semua ada waktunya, termasuk ngomong tuh ada waktunya juga; jadi marilah belajar untuk menahan diri.

Terburu-Buru Menjalani Kehidupan - Part 2

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Aktivitas selama masa sekolah selalu ngangenin. Dulu, sewaktu masih duduk di bangku sekolah, rasanya ingin sekali untuk cepat-cepat tamat dan menjadi seorang mahasiswa; karena dalam pikiranku: “menjadi seorang mahasiswa pasti menyenangkan karena sangat santai, tidak harus bangun pagi dan ngak perlu hafal satu buku untuk menjawab soal-soal ujian".

Sesampainya di bangku kuliah, rasanya penelitian ilmiah dan tugas akhir bagaikan batu berat yang harus di pikul untuk menyelesaikan studi di bangku kuliah. Rasanya seperti mayat hidup ketika harus menghadapi dosen penguji sewaktu meja hijau. Grogi yang dirasakan, nyaris bisa membuat lupa tentang tugas akhir yang disusun sendiri.

Dalam benakku, belajar adalah sesuatu yang membosankan, buku itu seperti sesuatu yang memuakkan yang enggan untuk di buka dan dipelajari kembali.

Kemalasan dan budaya terburu-buru pernah aku alami yang membuatku tak pernah sabaran dalam menunggu sebuah proses. Hal ini terus berlangsung bahkan di saat aku sudah dewasa dan memasuki dunia kerja. Aku ingin segala sesuatunya instan dan terjadi seperti kehendakku dan inilah yang menjadi batu sandungan buatku, sehingga aku harus ketinggalan kereta menuju kesuksesan seperti teman-teman seangkatanku.

Mungkin kesuksesan itu relatif tergantung dari cara pandang seseorang terhadap diri sendiri, tapi buatku sendiri sukses itu masih jauh karena aku perlu menyembuhkan diri dari budaya terburu-buru yang turut membentukku menjadi pribadi yang tidak tahan banting. Kemajuan teknologi belakangan ini juga turut mengambil peranan penting dalam menyebarluaskan budaya instan ini. Tanpa disadari, manusia sedang berjalan menuju budaya instan yang dapat merubah kepribadian seseorang menjadi agresif, iri hati, jahat, dan super duper egois.

Kebanyakan manusia enggan menaiki tangga untuk mencapai lantai atas. Maunya naik lift supaya cepat sampai. Kalau di bangunan tersebut ada lift,.. syukurlah! Tapi kalau tidak ada? Masa kita harus pindah rumah dan membuang kesempatan emas yang mungkin tersimpan di lantai atas bangunan tersebut...? Aku menyadari dulu, pernah melakukan banyak kesalahan karena menyia-nyiakan kesempatan untuk meraih kesuksesan dalam karir, dan saat ini aku hendak mengingatkan mereka yang sedang menuju lantai teratas dalam karir yang sedang dia bangun, untuk terus semangat dan bertahan sekalipun tantangan dan masalah sedang menumpuk.


Sukses itu ngak gampang dan perlu pengorbanan, dibutuhkan juga ketekunan dan keteguhan agar mampu bertahan dalam setiap badai yang dihadapi. Dan salah satu kiat untuk bertahan adalah keseimbangan dalam iman dan intelektual. Mengapa kita perlu iman yang terus bertumbuh? Jawabnya, agar intelektual yang kita miliki tidak menyesatkan kita dan membuat kita jauh dari kebahagiaan dan sukacita di balik kesuksesan. Karena salah satu kunci kebahagiaan adalah bersyukur dan bersyukur itu identik dan erat kaitannya dengan iman yang bertumbuh dan dewasa. Sementara, intelektual yang bertumbuh dan berkembang juga penting, karena tanpa ilmu pengetahuan maka mustahil untuk menciptakan inovasi dan kreatifitas yang terus berkembang dan maju.

Aku berdoa bagi kamu dan diriku sendiri yang sedang meraih tangga teratas dari sebuah kesempatan yang sedang kita jalani masing-masing; jangan berhenti melangkah, jangan berhenti berjuang dan bertindak, dan barengilah semuanya dengan iman pada Tuhan agar sekalipun tidak sukses dalam hal materi di dunia; setidaknya kita bisa sukses dalam meraih mahkota surgawi.

Mari kita berjuang !!!

Cerita-1 untuk Xinxin

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
07 Desember 2013, bayi mungil hadir di keluarga adikku tersayang. Seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Aku ingat betul kesibukan menjelang kelahiran putri cantik ini. Menentukan nama dan tanggal kelahiran adalah hal yang paling membingungkan. Maklumlah, saya sendiri belum jadi seorang ibu yang tidak mengerti akan kehebohan mempersiapkan kelahiran seorang anak.

Xin Claire Brigitta Willis adalah nama putri cantik ini. Dia merupakan anak pertama dari adik kandungku, sehingga boleh lah saya memanggil dia anak. Heheheheh ^_^.  Anak cewek ini lahir dengan keadaan yang sangat kurus mirip seperti ibu kandungnya, memiliki kulit kemerahan yang bisa saya tebak bakalan putih minimal sawo mateng seperti kulit saya ketika dia beranjak dewasa nantinya.

Xinxin nama panggilannya. Ini adalah nama yang diberikan oleh mamanya, dan bapaknya memberi nama Claire dan ako nya memberi nama Brigitta. Jadi, Xinxin adalah anak kami bersama. ^_^.  Mungkin, Brigitta adalah nama yang tidak familiar, tidak terkenal dan susah disebut. Sayapun tidak tau mengapa mengusulkan nama ini, karena sebelumnya saya berpikir nama yang cocok adalah Jean atau Helena, nama yang sangat familiar dan gampang diingat.

Saya sangat jarang bertemu dengan Xinxin karena tempat kerja saya yang sekarang tidak memiliki sistem cuti. Kalau bisa, semua kalender adalah hitam alias gak ada liburnya. Tahun lalu, saya cuti 4 hari dan itupun masih kena marah bos seolah-olah karyawan tidak mempunyai hak untuk mengurus urusan pribadi. Ada-ada aja alasan orang kota dalam menilai karyawan, namun saya tidak mau menjudge bos saya karena dia berhak menentukan aturan ditempat saya bekerja kini.

Pertemuan terakhir dengan XinXin adalah bulan Mei 2015 lalu, saat transaksi penjualan tanah bokap yang diproses di Pulau Nias tercinta. Saat itu, Xinxin masih berumur kurang lebih 1,5 tahun. Usia yang sangat belia dengan gaya manja khasnya, dia tidak mendekatiku. Mungkin dia merasa asing dengan orang yang baru ditemuinya saat itu. Antara Xinxin dan ako tidak sering terjadi komunikasi lantaran omakbapaknya juga jarang menghubungi akonya.

Xinxin anak yang sangat cantik, manja dan terkadang mandiri. Bisa makan sendiri, minum susu sendiri, nonton sendiri dan main sendiri. Xinxin kecil sangat feminim yang menunjukkan sisi feminim yang tinggi dan semoga dapat diterapkan sebagai wanita seutuhnya ketika dia dewasa kelak.

Banyak harapan yang ku impikan pada Xinxin, makanya namanya selalu ku sebut disetiap doaku. Dia adalah sesuatu yang sangat berharga di dalam dunia ini yang menjadi semangat bukan hanya bagi omakbapaknya, tetapi untukku juga. Melihat Xinxin tumbuh dewasa adalah hal yang indah sekaligus tanggungjawab yang berat untuk menuntun dia dekat dengan Tuhan Yesus sebagai satu-satunya sumber harapan dan kekuatan dalam hidup di dunia ini.

Brigitta nama pelindung Xinxin ku harapkan menjadi inspirasi baginya untuk meneladan Santa Brigitta, yang saleh dan memiliki kerendahan hati, serta wajah yang selalu tersenyum meski kehidupan yang dilaluinya gak gampang. Biografi Santa Brigitta dapat dilihat pada link berikut: klik

Xinxin kecil yang terpisah jarak denganku selalu bertemu denganku dalam doa-doaku. Semoga anak ini menjadi sumber kegembiraan dan sukacita di tengah keluarga dan semoga bertumbuh menjadi anak yang cerdas secara intelektual dan spritual. Saya yakin, Tuhan akan menjaganya seperti Tuhan menjaga Santa Brigitta dari setiap kesulitan yang dilaluinya.

Xinxin kecil, jangan pernah lupa akan sejarahmu ^_^

Senin, 28 Maret 2016 -> Mengingat Kembali

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Sebelas tahun yang lalu, di hari dan tanggal yang sama dengan hari ini; aku resmi menyandang status  sebagai seorang anak yatim piatu. Keluarga besarku pergi serentak meninggalkan aku dan adikku. Bencana gempa bumi yang menimpa tanah kelahiranku membuat kenangan yang mendalam sehingga tidak akan pernah terlupa akan tanggal 28 Maret ini.

Sebagai bagian dari kenangan yang menyedihkan, tentu hal ini tidak baik untuk diingat dan dijadikan sebagai luka batin. Namun, sebagai manusia yang memiliki ingatan dan pikiran adalah hal yang wajar jika mengingat terus akan tanggal ini, sebagai peringatan akan kematian mereka yang sudah pergi meninggalkanku. Kepergian keluarga besar adalah hal yang tidak pernah terbayangkan dan terlupakan. Namun begitulah kehidupan ini yang penuh dengan kejutan-kejutan yang mampu untuk mendewasakan diri, sebagai seorang manusia.

Masih teringat olehku; kejadian sebelas tahun yang lalu, dimana aku berusaha tegar dan dewasa menyikapi kesedihan ini; masih teringat olehku kata-kata yang ku ucapkan sendiri pada kakak sepupuku namun dibalas dengan perkataan: “kok lu gak merasa sedih? padahal mereka sudah meninggal?”. Kesedihan yang aku rasakan tentu sangat besar dan menyakitkan; namun tangisanku tidak sederas tangisannya, sehingga dia menilaiku seperti itu. Aku mengingat, sebelum mereka pergi dari dunia ini tepatnya saat misa di Klaris Gunungsitoli tahun 2004, aku pernah bertanya kepada almh.mama “gimana seandainya bangunan ini runtuh dan menimpa kita dan saat ini kita langsung meninggal dunia?”. Saat itu, posisi kami sedang berada di kapel, mengikuti misa dan sedang terjadi gempa. Mama dengan tenang dan santai menjawab: “ya kalau sudah saatnya pergi, maka pergi aja dan rasanya lebih bahagia kalau meninggal di dalam Rumah Tuhan”. Saat itu, aku tidak memiliki firasat apapun akan kepergian beliau di tahun depannya (2005).

Mama adalah sosok yang sangat menginspirasiku untuk dekat dengan Tuhan. Dia selalu berdoa setiap pagi di dekat balkon lantai 2 rumah kami, di dekat gua Maria kecil, yang dibangunnya menurut desainnya sendiri. Mama adalah seorang wanita yang tidak mengenyam pendidikan tinggi namun berhasil menjadi orang sukses dalam usaha yang digelutinya. Dia sungguh menunjukkan hubungan kedekatannya dengan Yesus, Tuhan yang kami sembah.

Mengingat mama membuat hatiku sangat yakin dengan agama yang ku anut sedari kecil. Mama memberi teladan dan contoh keindahan doa-doa dalam gereja Katolik yang terkesan kaku dan terlalu sistematis. Mama yang tidak pernah bosan berdoa, membuatku menjadi seorang yang mencintai doa sebagai ajang berkomunikasi dengan Tuhan secara pribadi. Sosoknya sungguh meninggalkan kenangan indah dalam hati dan pikiranku. Kepergiannya jelas sangat menyakiti hati dan perasaanku; dan kadang bisa terlintas dalam pikiranku bahwa Allah sungguh tidak adil karena memberikanku kesempatan yang sangat singkat untuk bersama-sama dengan mama. Padahal banyak rencana besar yang ingin ku lalui bersama mama, seperti membelikannya rumah di Medan, ziarah ke tanah suci, dan menemaninya selalu dalam doa lingkungan yang aktif diikutinya.

Tentu saja, pikiran tersebut jahat dan salah karena berasal dari si jahat, yang segera tertepis ketika aku sedang berdoa dalam kepasrahan minta tuntunan Tuhan; karena aku sungguh tidak tau hendak melangkah kemana lagi, karena orangtuaku telah pergi dari dunia ini, sehingga tidak ada lagi yang mengajariku dan membekaliku untuk menghadapi masa depan. Dan secara luar biasa selama sebelas tahun ini, Tuhan tidak pernah meninggalkanku; itulah alasan mengapa aku begitu mencintai Dia dan rela untuk menghabiskan hari-hariku bersama Dia dalam doa, saat teduh, perkumpulan dalam komunitas/kelompok kategorial di gereja. Bagiku, Tuhan sungguh nyata dan hanya bisa disadari kehadiranNya ketika, kita sedang berada di titik terendah dalam hidup ini.

Gempa 28 Maret 2005 menjadi awal perjalananku bersama Bapa yang kekal yang selalu setia untuk hadir melalui orang-orang baik yang ada disekelilingku, yang mengajariku betapa berharganya kehidupan ini dan patut dipergunakan sebagai ajang untuk mengejar mahkota surgawi.

Semoga semua orang yang telah meninggal dalam bencana gempa Nias sebelas tahun yang lalu; mendapat rahmat pengampunan dari Allah Bapa di tahun kerahiman ini; agar semuanya mendapat tempat di kerajaanNya dan mendapatkan kebangkitan badan kelak.

Semoga... Amin!

Sabtu 26-03-2016, Vigili Paskah

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Dalam semua ritual agama dan hari besar keagamaan, seseorang pasti memiliki kesenangan tersendiri pada hari/perayaan tertentu. Seperti yang terjadi pada beberapa orang yang bersuku Tionghoa; mungkin ada beberapa orang yang suka pada perayaan imlek karena ada angpaonya, ada juga yang suka dengan cheng beng karena ingin menghormati leluhurnya yang sudah beralih ke alam lain; dan mungkin ini sebagai salah satu bentuk bakti kepada alm.orangtua/leluhur. Bagi saya sendiri hari ini adalah hari yang paling menyenangkan, mengagumkan dan spektakuler.

Dari semua hari raya yang ada, malam vigili paskah adalah malam penantian (vigili=berjaga-jaga) yang mendebarkan, menyenangkan dan membahagiakan karena ada harapan baru dibalik kematian Tuhan yang sudah dikenang semalam (acara penghormatan salib/jumat agung). Mendebarkan karena di malam ini terjadi trasnsfigurasi Tuhan Yesus dari alam kematian menuju kebangkitan mulia. Menyenangkan karena di hari ini, doa, bacaan dan ritual keagamaan sangat banyak, dan ini juga merupakan momen untuk belajar, belajar tentang  tata cara ibadah, belajar tentang doa seperti doa saat pemberkatan lilin paskah atau doa saat pembaharuan janji baptis atau doa litani orang kudus atau mazmur tanggapan yang merupakan doa pujian dan terlebih untuk belajar akan makna perayaan ini sendiri; yang bisa didapat lewat homili atau artikel/renungan yang berkaitan dengan vigili paskah. Saya tidak pernah melogikakan perasaan bahagia yang saya rasakan, sama seperti cinta yang tidak mempunyai alasan dan kadang tidak bisa dinalarkan, perasaan sukacita malam ini begitu penuh mulai dari awal sampai akhir perayaan.

Saya mempunyai seorang teman yang pernah mencap saya sebagai pribadi yang aneh, karena begitu menyukai perayaan hari ini; padahal malam ini adalah perayaan yang paling panjang; dan biasanya umat sangat malas untuk berlama-lama di gereja makanya si teman tersebut mencap saya sebagai seorang yang aneh. Biasanya, acara malam vigili paskah bisa sampai 3 jam-an doanya, apalagi kalau digabungkan dengan acara pembaptisan dan dipimpin oleh Bapak Uskup, waktunya bisa lebih lama. Mungkin, ini juga yang menjadi dasar rasa bosan yang "mereka" rasakan. Sementara untuk saya sendiri, saya begitu menyukai upacara cahaya yang menjadi lambang sebuah harapan baru (kemenangan Kristus atas dosa dan maut) akan keselamatan yang telah dijanjikan Yesus. Saya juga menyukai baca-bacaannya yang super duper panjang, karena mengingatkan saya akan karya Agung Allah mulai dari saat penciptaan dunia dan segala isinya, dan juga saya menyukai doa-doanya terutama litani para Kudus dan tentu saja doa Ekaristi.

Semoga malam vigili paskah ini semakin menyadarkan dan memurnikan saya untuk mencintai Yesus dengan benar sesuai ajaran gerejaNya. Yang kucintai tentu hanya Yesus semata, liturgi/tata perayaan ibadah kucintai sebagai sarana/cara untuk mewujudkan cintaku pada Yesus dalam bentuk nyata lewat tindakan yang nyata. Jika mencintai Tuhan; pasti ada cara mewujudkannya yang salah satunya adalah mencintai dan melaksanakan liturgi sebaik mungkin.

Selamat menyongsong kebangkitan Kristus dalam perayaan Paskah besok.

Kristus akan, pasti dan sudah Bangkit..

Haleluya!

Khasiat Cinta Tuhan

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Beberapa dari orang-orang yang ku kenal memiliki cerita rumah tangga yang rumit, dan menyedihkan. Konflik dalam rumah tangga yang sangat banyak dan bisa membuat hati lelah. Beberapa diantaranya: kasus selingkuh di usia pernikahan yang sudah menginjak puluhan tahun. Masalah kebiasaan judi, marah dan sifat buruk lainnya. Saat seminar Love Redefined kemarin, guestspeaker juga bercerita hal yang sama. Dia memiliki teman yang sudah menikah puluhan tahun, dimana sang suami adalah seorang dosen yang kerap bermain perempuan dengan mahasiswinya. Nilai baik dibayar dengan pelayanan di ranjang oleh mahasiswi yang ingin nilainya baik, dan itu dilakukan di rumah mereka, di depan mata istri dan di ranjang mereka bersama.

Keluarga kedua lainnya adalah sebuah keluarga yang mana suami dan istri sama-sama sibuk mencari nafkah, namun beberapa tahun setelah pernikahan, sang istri mulai menunjukkan perilaku yang tidak wajar dengan sering keluar di jam-jam tertentu dan sering menerima telepon di luar jam kantor. Perselingkuhan menjadi masalah di keluarga kedua ini.

Dan di keluarga saya sendiri, cerita seperti kisah keluarga di atas menjadi kisah nyata yang terjadi di depan mata saya dan adik saya. Saya mengingat betul ketika papa saya menjadi seorang yang asing, ketika dia sudah terikat dengan perempuan lain yang menjerat hatinya. Tapi mama, dengan penuh air mata melewati setiap harinya dengan sabar dan iman pada Yesus.

Mama memiliki saudari rohani seorang Suster Klaris yang selalu dicarinya; ketika dia sedang bermasalah dengan papa saya. Mama juga rajin ikut ibadah, serta aktif di lingkungan guna memuaskan tangki cintanya dengan cinta Tuhan. Hal inilah yang membuat mama mampu bertahan dalam pernikahannya. Cinta pada Tuhan mengalahkan ego dari logika akibat perasaan yang terlukai tersebut. Tuhan Yesus menunjukkan cintaNya lewat teman-teman seiman yang dijumpai mama, lewat kami anak-anaknya yang begitu menyayangi beliau, dan lewat keluarga kakek dan nenek dari pihak papa dan mama yang begitu mengasihi mama saya.

Kata cerai bukan kata yang tidak masuk akal untuk diucapkannya. Dia pernah mengucapkan kata ini, di depan kakekku yang membuat kakekku menangis, karena ikut merasa kesedihan yang dialami mamaku. Papaku saat itu telah menjadi orang asing akibat guna-guna yang diberikan oleh perempuan bayaran yang sering dipakainya tersebut. Berbagai cara sudah dilakukan untuk mengobati beliau, namun sia-sia belaka.

Mama tidak pernah curhat dan berkeluh kesah kepadaku, tentang permasalahannya dengan papa. Tapi, melalui orang-orang dewasa yang menjadi saudara dan famili, cerita keretakan hubungan mereka sampai juga ke pikiran dan hatiku. Saya tidak membenci papa atau mama. Tidak marah atas akibat dosa yang dilakukan papa karena saya yakin, papa salah langkah dan tidak tau jalan kembali lagi; dan dalam kehidupan ini setiap orang pasti pernah berbuat salah; jadi saya belajar berbesar  hati menyikapi permasalah itu. Hanya Tuhanlah, yang memampukan papa untuk kembali seperti papa yang saya kenal sejak saya dilahirkan di dunia ini.

Jawaban Tuhan atas permintaan mama tergenapi lewat bencana gempa bumi Maret 2005, yang memisahkan mereka dari dunia ini, yang menjadi akhir dari konflik percintaan mereka. Tuhan tetap menjaga pernikahan mama dan papa sampai ajal menjemput mereka. Perjalanan iman mama, membuatku semakin yakin bahwa kekuatan sesungguhnya yang dimiliki manusia adalah berasal dari cinta Tuhan yang tidak pernah lekang oleh waktu.
Kembali ke sharing guestspeaker Love Redefined, pada kasus pertama, sang istri tetap mendoakan suaminya dan sungguh-sungguh menyerahkan pergumulannya ke dalam tangan Tuhan, dan Tuhanlah yang membuat istri tersebut mampu bertahan dalam pernikahan mereka tersebut sampai 10 tahun kemudian, saat suaminya tiba-tiba mengikuti retret, dan disaat retret itu sang suami mengalami titik balik dalam hidupnya dan matanya baru terbuka untuk mengenal dosa yang selama ini, telah dia perbuat dan telah melukai istrinya. Sekarang, suami dan istri tersebut aktif dalam pelayanan dan satu komunitas dengan guest speaker yang menyampaikan kisah ini.

Kisah kedua juga sama, sang suami dari istri yang berselingkuh tersebut tetap komit mendoakan istrinya, dan pada waktu dan caraNya Tuhan, sang istri berbalik dari cara hidupnya yang salah dan kembali menyadari betapa cintanya suaminya ke dirinya.
Kisah papa dan mamaku tidak berakhir happy ending seperti itu, namun saya percaya rancangan Tuhan adalah rancangan yang terbaik bagi setiap orang yang mengimaniNya.

Para pasangan dari keluarga yang awalnya berantakan ini, menunjukkan bahwa hanya cinta Tuhan yang mampu membuat mereka bertahan dalam setiap ujian pernikahan yang mereka lewati. Khasiat cinta Tuhan sungguh nyata dalam perjalanan hidup mereka sehari-hari, terutama lewat pergumulan yang mereka hadapi. Sungguh benar perkataan bijak yang mengatakan bahwa kehidupan ini seperti emas yang terus menerus mengalami peleburan agar menjadi emas yang murni. Terkadang, di balik permasalahan yang sedang terjadi; Tuhan sekaligus menebar undangan agar kita kembali total mencintaiNya agar mampu hidup kudus dan murni seperti Dia.

Janji Tuhan sungguh nyata bagi setiap yang percaya kepadaNya. Yeremia 29:11 berkata, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”.

Tuhan tidak pernah salah dalam menempatkan kita pada suatu kondisi dan keadaan tertentu, kita dituntut untuk percaya sepenuhnya kepadaNya dan memenuhi tangki cinta kita dengan cinta Tuhan agar kita mampu melewati setiap badai dalam kehidupan.

Hobi yang Baru Ku Sadari

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Bagi saya, menulis adalah suatu aktivitas yang menyenangkan karena lewat tulisan, saya bisa mengungkapkan semua yang ada di hati dan pikiran saya. Kadang pemikiran itu, tidak bisa disampaikan secara benar lewat perkataan langsung, karena terkadang saya bisa lupa mau ungkapin apa dan tata bahasa saya sering dinilai kurang baik dan benar sehingga menjadi kendala sendiri bagi saya.

Saya adalah seorang manusia yang sampai hari ini masih berbahasa dengan logat kampung asalku. Kata orang-orang, saya ini kampungan lantaran gak bisa ikutin gaya bahasa orang-orang lingkungan saya saat ini. Saya sangat lemah dalam hal berbahasa yang santun dan sesuai ejaan bahasa Indonesia pada umumnya, tapi satu hal yang menarik; saya mampu menulis dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh kebanyakan orang.

Mungkin sebagian orang akan menebak karakter saya lewat tulisan saya di blog ini. Mungkin banyak yang beranggapan saya adalah seorang pendiam lantaran ngak bisa ngomong banyak di dunia nyata, dan kelihatan lebih banyak ngomong di dunia maya. Hmm..menurut saya statement itu gak benar karena di dunia nyata, saya juga aktif berbicara namun topik yang saya bahas tidak seperti yang terdapat di blog pribadi saya ini.

Blog ini selain sebagai sarana untuk menyalurkan hobi saya untuk menulis, blog ini saya persembahkan juga untuk anak pertama adik saya, Xin Claire Brigitta Willis yang akan saya tuliskan di artikel lainnya. Semoga blog ini mengajarkan dia, bagaimana menjalani hidup seperti manusia pada awalnya yang diciptakan oleh Tuhan. Dan semoga tulisan di blog ini, berguna dalam menjawab pertanyaan yang mungkin akan dia alami saat dia beranjak dewasa kelak.

Sebelum otak saya pikun, maka saya termotivasi untuk menuangkan segala hal yang saya ketahui di blog ini, semoga tulisan-tulisan di blog ini, juga bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

Sebagai seorang pemula dalam dunia tulis menulis, saya tidak mengerti benar standar suatu tulisan yang baik dan benar menurut ketentuan auditor tertentu. Yang saya lakukan hanya mencatat apa yang keluar dari hati dan pikiran saya, yang mirip dengan menulis buku harian yang tidak perlu standar baku seperti sebuah novel atau karya tulis ilmiah lainnya.

Bagi yang memiliki hobi menulis, silahkan memulai blog atau website pribadi sebagai tempat menuangkan isi hati dan isi pikiran Anda. Manatau kisah atau buah pikiran Anda dapat berguna bagi orang lain.

Hidup adalah untuk berbagi kebaikan sebagai bentuk kasih. Mungkin saya belum bisa menyumbangkan banyak hal bagi dunia ini, namun biarlah tulisan-tulisan saya ini menjadi sumbangsih bagi manusia zaman sekarang yang mungkin sudah lupa akan hakikatnya.

Serba Serbi Kehidupan Single(Jomblo) dan Selibat

 Ditulis Oleh: Irse Wilis
Bukan hal yang basi bagi seorang perempuan berusia 30 tahun atau lebih 30 tahun, pas ketemu sodara pasti ditanyain..”Lo kapan merid?”. Ya ampun di zaman canggih gini, masih ada aja ya orang kepo yang ngurusin kehidupan orang?! , berusaha menghibur diri walopun dalam hati pasti sebalnya setengah mati.

Begitulah sebagian cerita dari para jomblo yang merasa tertekan dengan status kejombloannya. Di tulisan ini, saya mau berbagi cerita tentang diri saya yang menurut orang-orang saya adalah seorang jomblo abadi.

Kisah ini bermula saat saya lagi ngumpul dengan sodara-sodari saya, tepatnya paman saya yang lagi jalan-jalan ke kota Medan. Kami ngumpul di salah satu restoran keluarga yang baru opening bulan Desember 2015. Di rumah makan ini kami tertawa cekakak cekikik melepas kerinduan setelah sekian lama tak bersua. Maklum lah, saya jarang pulang kampung lantaran ongkos mahal sementara gaji masih pas-pasan.

Entah bagaimana paman saya tercinta mulai menginterogasi saya, “Win, kapan lo nikah?” tanyanya dengan wajah penasaran, saya yang sok alim tersenyum manis menjawab: “Gak akan deh paman..soalnya jodoh saya tuh di surga”, masih berusaha tenang walo dalam hati sudah mulai timbul percikan api, ibarat api yang berasal dari korek mancis.

“Lo gak takut jadi perawan tua? Si cece X aja uda nikah lo, dan sekarang dia ada yang jagain, ada teman hidup, gak kesepian lagi..mengapa lu gak seperti dia aja? Tanya paman dengan sedikit menasehati. Saya yang mulai kebakaran jenggot jadi terpancing untuk berceramah di malam yang berbahagia itu, “Paman, jalan hidup setiap orang beda-beda loh! Ada yang emang terpanggil untuk hidup berkeluarga dan ada yang memilih untuk selibat”, jawabku seolah menggurui pamanku sendiri. “Jadi, lu mau jadi suster ya? Aduh, sayang banget ya...” sahut paman yang kemudian dilanjutkan dengan perdebatan panjang soal hidup menikah dan hidup selibat.

Menjadi single buat saya adalah saat yang tepat untuk mengisi tangki cinta saya dengan cinta Tuhan. Saat sendiri, saya seperti emas yang dilebur dengan berbagai masalah kesendirian, misalnya: sendiri menanggung kelaparan ketika uang sudah menipis karena keasyikan shoping, makan dan tidur sendiri tanpa ada yang nemenin, kerja sendiri membersihkan rumah tanpa ada yang bantuin, berangkat dan pulang kerja sendiri tanpa ada yang jemput, tertekan karena masih sendiri, malu karena masih sendiri, ke pesta sendirian rasanya sesuatu banget, ibarat kucing yang berada dalam kawanan Harimau yang siap-siap menelan si kucing, dan masalah lainnya.

Melalui perasaan dan masalah yang kurang nyaman tersebut, saya dibentuk menjadi emas murni karena masalah-masalah di waktu sendiri pasti akan muncul setelah kita menikah/hidup selibat. Masalah sewaktu single membentuk saya menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam berpikir dan bersikap sehingga membuat saya semakin mengerti arah dan tujuan hidupku.. Tidak semua orang loh bisa menerima kesendiriannya. Banyak yang menjadi jomblo ngenes dan akhirnya terpaksa nikah karena umur sudah hampir expired (dalam hidup bekeluarga).

Ajaran teologi tubuh oleh St.Yohanes Paulus II banyak mengubah konsep pemikiran saya soal single. Single bukan suatu kutukan melainkan suatu anugerah, suatu kesempatan untuk berbenah diri menjadi seseorang yang siap untuk dicintai dan mencintai. Harus memenuhi diri sendiri dulu dengan cinta yang melimpah, barulah terjun ke percintaan yang sesungguhnya. Bagi single yang memilih untuk selibat, perlu disadari bahwa kehidupan selibat itu bukan karena takut kawin (trauma), bukan karena tidak laku, bukan sebagai topeng untuk menyembunyikan sesuatu. Kehidupan selibat adalah karena kesadaran bahwa diri ini menjadi pengantin perempuan milik Yesus sang mempelai lelaki sejati. Jadi,dalam kehidupan selibat prinsip perkawinan tetap berlaku.

Sekilas tentang prinsip perkawinan (karakteristik cinta) adalah: Bebas, Setia, Total dan Berbuah. Selibat yang bebas adalah seseorang yang tidak terikat oleh hal apapun yang mampu bergerak bebas untuk melakukan hal (kehendak, pikiran dan tindakan) yang baik. Bebas yang dimaksud bukan bebas yang lepas dari tanggung jawab melainkan kebebasan dalam melakukan kehendak baik. Contoh jomblo yang ingin menjadi misionaris akan bebas dari perasaan bersalah karena meninggalkan keluarga untuk menjadi pewarta Firman di mana dia ditempatkan, sementara jika dia merasa takut untuk meninggalkan keluarga berarti dia belum bebas dalam memutuskan dan melakukan kehendak baik yang diinginkan Allah. John Paul II said: “freedom consists not in doing what we like, but in having the right to do what we ought”

Selibat yang setia adalah seseorang yang komit dan konsisten melakukan sesuatu yang diinginkan yang selaras dengan hakikatnya sebagai manusia yang secitra dengan Allah. Ada perjuangan yang harus dilakukan guna bertahan sampai akhir. Contoh: seseorang yang ingin menjadi pewarta Firman akan berusaha mengisi dirinya terus menerus dengan ilmu dan cinta Tuhan, di dalam kehidupan setiap hari membawa misi Tuhan walaupun mungkin penolakan dan caci maki harus diterimanya. Sebaliknya jika, seseorang dengan mudah berbalik arah ketika dia mengalami masa pemurnian maka prinsip setia tidak ada dalam hidupnya.

Selibat yang total adalah sesorang yang memberikan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan yang dicintaiNya. Tidak ada yang tersembunyi yang tidak diberikannya kepada Tuhan yang dicintai. Contoh: seseorang yang rela mengabdikan diri demi terselenggaranya sebuah acara yang berhubungan dengan kemuliaan nama Tuhan. Tidak ada hitung-hitungan waktu, materi dan tenaga yang dicurahkan demi terlaksananya acara tersebut. Sementara jika seseorang masih memberlakukan kalkulator untuk menghitung untung dan rugi, maka dimana letak totalitasnya?!

Selibat yang berbuah adalah seseorang yang menghasilkan buah dari hasil kehidupannya bersama Tuhan. Bisa dalam bentuk karya, anak,saudara/saudari rohani, atau sesuatu yang berguna bagi kehidupan orang lain yang merupakan ciptaan Tuhan (misalkan:rumah singgah untuk anak jalanan, rumah retret, gedung serba guna, dll). Sementara jika seseorang tersebut tidak menghasilkan buah-buah rohani berarti selibat yang dilakukannya bukan untuk Tuhan dan lebih cocok jika dia disebut single/jomblo tanpa embel-embel selibat.

Jadi, sudah jelas bahwa kehidupan selibat bukan seperti kehidupan orang-orang yang memilih hidup sendiri untuk dirinya sendiri. Contoh dari kelompok single dan tidak selibat adalah: para single fighter, tidak menikah, yang bekerja giat, sebagian workholic, menikmati hidup sebagai motto hidupnya yang nampak dari hobi jalan-jalan, shoping kemana saja sesuai keinginan pribadi. Kelompok inilah yang sering dikategorikan sebagai jomblo ngenes. Mengapa? Karena mereka sebenarnya melarikan diri dari kenyataan hidup, berusaha menghindari sesuatu yang buruk dengan jalan mengingkari keinginan hati untuk menikah. Mereka yang berada dikelompok ini rentan dengan penyakit depresi dan stres karena kehidupan sendiri tanpa berbagi dengan orang lain hanya akan membuat diri sendiri menjadi sakit dan terluka. Karena hakikat manusia adalah memberi dan menerima cinta, jadi; jika tidak seimbang maka KETIDAKBAHAGIAANLAH sebagai hasil akhirnya.

Selibat sendiri terdiri dari dua yaitu: selibat awam dan selibat religius. Selibat awam adalah seperti yang saya ceritakan di atas, sedangkan selibat religius adalah para kaum berjubah yang terikat pada suatu ordo/tarekat, yang menjalankan visi dan misi tempat mereka mengabdikan diri. Mereka adalah para imam, suster, frater dan bruder. Jadi, dalam kehidupan selibat seseorang menyadari betul akan hakikat perkawinan surgawi yang mempersiapkan dirinya seutuhnya untuk dipersembahkan kepada mempelai lelaki yaitu Yesus Tuhan Raja yang sejati. Setiap kaum selibat tidak hidup untuk dirinya sendiri melainkan hidup bersama dengan mempelai lelakinya dalam membina kehidupan rumah tangga seperti yang dikehendaki bersama. Jadi, selibat TIDAK SAMA dengan jomblo yang hidup untuk dirinya sendiri.

Malam itu, saya dan paman tidak membahas detail tentang kehidupan selibat, karena dari mereka sendiri merasa sudah mengenal kehidupan selibat itu seperti apa. Obrolan kami dilanjutkan dengan sejarah percintaan paman dan tante yang ideal menurut saya, dan akan saya bahas di tulisan lainnya.

Jadi, jangan pernah mengisi kesendirian kita dengan tangki cinta yang kosong karena, jika tangki kita kosong, dimanakah letak kelayakan kita untuk menjadi pasangan?

Sekilas Tentang Dorongan Seksual Manusia

 Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Remaja memiliki emosi yang tidak stabil. Terlebih kalo kepribadian seseorang itu adalah moody. Sebentar saja bisa berubah menjadi amarah, ketika segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dikehendakinya.

Dulu, sewaktu zaman SMP, aku sudah terbiasa bergaul dengan cowok atau cewek. Banyak teman membuatku bahagia dan bangga, layaknya artis yang setiap kali lewat di depan kelas teman yang lain, aku pasti akan mendapat sapaan atau teguran.

Pagi itu, anak cowok di kelas tetangga berusaha menggodaku, itu sangat menjengkelkan...! Anak dulu, tidak kalah liar dengan anak sekarang; yang saat itu berusaha menyentuhku walau cuman bahu doang. Aku, yang bertemperamen tinggi dan kasar, mengambil sapu dan berantem dengan mereka. Seketika kelas tetangga jadi riuh seperti kemasukan maling. Aku yang notabene bukan penghuni kelas itu pun lantas tarik diri, ketika telah puas memukuli teman cowokku, yang ku nilai brengsek itu.

Emosiku sangat tidak stabil saat usia remaja. Sering berantem dengan teman, walau hanya dalam lingkup sekolah aja. Aku tidak suka digoda secara verbal atau non verbal. Paling tidak tahan melihat tatapan mesum teman cowokku yang seperti hendak menelanjangiku. Kelakuan teman cowokku masa itu sangat keterlaluan. Aku tidak bisa mengerti mengapa otak mereka penuh dengan hal mesum.

Aku memang sudah mempelajari biologi, sudah tau bahwa cowok dan cewek tuh beda, sudah tau bahwa hormon cowok dan cewek itu berbeda, sudah tau bahwa cowok lebih cepat terangsang secara visual sementara cewek lebih cepat terangsang ke hal-hal non visual contohnya rayuan gombal, puisi melankolis, janji-janji manis,dsb.

Sudah tau secara biologi saja tidak cukup membendung emosiku saat teman-temanku berusaha menggodaku. Aku tidak dapat mentolerir kejahilan mereka.

Dulu, pengajaran TOB belum disampaikan ke kami. Seandainya, TOB sudah ku ketahui sejak dulu, mungkin aku tidak akan berbuat kasar terhadap teman cowokku. Mungkin, aku tidak akan membenci teman-temanku yang genit. Dan mungkin aku berusaha mengajak mereka untuk mengenal TOB sehingga tidak berkelakuan genit lagi. Ya... aku hanya bisa berandai-andai.

Dorongan seksual itu murni dan kudus adanya. Setiap manusia normal pasti merasakan gejolak ini, terlebih sewaktu puber, gejolak ini terasa begitu kuat. Sebagai manusia yang berakhlak, hendaknya mampu mengontrol gejolak ini dengan cara berpikir positif, memiliki kacamata positif ketika melihat sesama, bukan malah memakai kacamata transparan yang seolah-olah menelanjangi manusia yang ada di sekitarnya.

Manusia remaja hendaknya membangun relasi intim dengan Tuhan Yesus agar, mampu mengendalikan diri atas nafsu kedagingan (amarah, gosip, rakus, malas, dll) yang dimilikinya, agar memiliki pemahaman yang benar tentang tubuh manusia yang bukan hanya seonggok daging yang tidak memiliki arti.

Dorongan seksual itu terjadi karena pada dasarnya manusia tercipta untuk MEMBERI DAN MENERIMA. Dalam hal ini, perempuan adalah pihak yang menerima cinta Tuhan, dan laki-laki merupakan pihak yang memberi seperti Kristus yang memberi diriNya bagi mempelaiNya (gerejaNya).

Jadi, perlu dipahami bahwa dorongan seksual itu adalah BUKAN sesuatu yang najis, jahat, sesat, buruk dan dosa.  Dorongan seksual itu murni dan kudus sebagai bentuk nyata cinta Tuhan kepada manusia. Namun, yang terjadi sekarang ini adalah jauh dari hakikatnya, jauh dari tujuan penciptaan oleh sang Pencipta yang mana manusia begitu mendewakan dorongan seksualnya, untuk membuktikan diri bahwa dia dewasa, bahwa dia mengenal cinta, bahwa dia berkuasa atas dirinya.

Orang Muda Katolik yang kebanyakan sudah lupa diri, kini diingatkan kembali oleh St. Yohanes Paulus II lewat teologi tubuh. Bagaimana tubuh kita ini, sangat bernilai dan bukan cuman objek yang harus dipuaskan terus menerus dengan berbagai adiksi, yang mirip seperti karet gelang yang diikatkan di ujung jari; dimana adiksi tersebut mengikat kita dan membuat kita tidak mampu merasakan cinta sejati, yang secara nyata mampu memenuhi tangki cinta kita sebagai manusia.

Jika kamu memiliki kekosongan karena terlalu lama terikat dengan dosa, Atau melanggar kodrat sebagai laki-laki atau perempuan, mendukakan Allah dengan rasa depresi dan membenci kehidupan, jika merasa hebat dan mengagungkan kepandaianmu sebagai manusia yang terbatas, sudah saatnya kamu berbalik dan menyadari hakikatmu berada di dunia ini, kenali dan pelajarilah teologi tubuh/TOB, maka cara pandangmu terhadap tubuh dan kehidupan akan jauh lebih positif.

Ayo berubah jadi lebih baik..

Menjadi Seorang Katolik Yang Mengenal dan Memahami Katolik

 Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Mengenal hukum gereja katolik dan kekatolikan secara umum tidak melulu memisahkan saya dan kamu. Kamu yang saya maksud adalah mereka yang suka berpikir dan berpendapat bahwa saya lebih religius dibandingkan dengan mereka, sehingga saya bisa dikategorikan sebagai selibat religius alias suster.

Jika dianalogikakan dengan kewarganegaraan, menjadi seorang Katolik sama seperti menjadi warga negara Indonesia. Menjadi warga negara Indonesia, sudah pasti saya dan kamu semua, mengenal Indonesia tuh apa, hukumnya apa, budayanya seperti apa, orang-orangnya gimana. Apakah itu berarti kita harus mendalami hukum negara Indonesia barulah dikatakan sebagai orang Indonesia? Apakah kita harus menjadi antropolog barulah bisa dikatakan bahwa kita adalah orang Indonesia yang mengenal kebudayaan dan karakter manusia Indonesia? Apakah jika kita belajar PPKN/PMP waktu di sekolah dasar dulu, lantas kita sudah bisa dikategorikan ahli hukum/budaya Indonesia?

Menjadi seorang warga negara Indonesia pastilah sudah tau dasar-dasar negara kita tuh apa. Pancasila itu apa, minimal tau lah kapan Indonesia merdeka dan mengapa ada pemasangan bendera sewaktu tanggal 17 Agustus. Demikian juga menjadi seorang Katolik, minimal bisa menjawab mengapa Katolik itu ada tanda salib, mengapa setiap minggu menyantap Tubuh dan Darah Kristus, apa itu sakramen tobat, dll.

Jika seorang warga negara Indonesia lebih mengetahui sistem perpajakan di Indonesia lantaran pernah dibahas di salah satu mata kuliah sewaktu kuliah di jurusan Akuntansi, apakah seseorang tersebut layak disebut sebagai ahli pajak? Dan apakah keinginannya untuk mengetahui perpajakan itu TIDAK NORMAL lantaran tidak seperti orang Indonesia lainnya yang tidak mengerti pajak (khususnya mereka yang tinggal di perkampungan)?

Pertanyaan di atas jika dikaitkan dalam kehidupan sebagai jemaat di sebuah gereja khususnya Katolik, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa lebih mengenal gereja Katolik dan hukum Katolik secara umum adalah hal yang WAJAR dan sepatutnya diteladani, karena ada pepatah, tak kenal maka tak sayang, maka setiap orang Katolik harusnya mengenal tempat dimana dia berada, supaya bisa mencintai tempat dimana dia tinggal saat ini, dan kalo kita bayangkan, bagaimana seandainya jika setiap umat Katolik hanya sebagai Katolik KTP, sama seperti orang Indonesia tercatat di KTP tapi sama sekali buta soal Indonesia..? Bisa-bisa saat 17-Agustus tidak akan ada lagi perayaan apa-apa, karena setiap orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, atau setiap orang akan sembarangan dalam bertindak seolah-olah tidak ada hukum yang mengaturnya.

Mengenal dan mengerti kekatolikan bukan berarti menjadi seorang teolog atau filsuf. Inti dari kekatolikanlah yang perlu dipahami agar tidak mudah terseret oleh arus dunia yang sangat menggoda. Menjadi Katolik sejati BUKAN berarti menjadi fanatik dan menjadikan setiap orang menjadi katolik. Tuhan yang diimani oleh gereja Katolik adalah Tuhan yang pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setiaNya (Mazmur 145:8: “TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya”), dimana hal-hal ekstrim yang tidak memancarkan kasih sudah bisa dipastikan adalah TIDAK SESUAI dengan ajaran dan ciri khas katolik.

Tuhan itu akan terpancar dengan sendirinya ketika seseorang mengimani ajaran yang dianutnya. Tidak perlu berdebat sana sini hanya untuk mempromosikan sesuatu, atau menghujat sana sini dengan sistem menghakimi yang subjektif,cintailah manusia dengan kasih yang tulus, murni dan mesra maka semuanya akan jadi persembahan yang berkenan bagi Allah.

Pertanyaan lain dari kamu yang sangat menggelitik pikiranku adalah: Apakah jika mengenal hukum, kenal dan memahami segala sesuatunya lantas menjadi jaminan bahwa aku tidak akan menyimpang dan tersesat?! Jawabku: coba analogikakan, kita berada dalam sebuah perahu dan tidak punya apa-apa, terdampar di laut yang luas dan tak terselami, tanpa kompas apakah kita bisa sampai pada tujuan? Tanpa memahami cara kerja kompas, apakah kompas itu akan berfungsi? Demikian juga dengan katolik dengan ajaran, hukum dan tradisinya sama seperti kompas tersebut.

Jadi, apabila dalam mengarungi samudera kehidupan yang luas ini tidak berpegang pada tuntunan yang ada, dapat dipastikan seseorang tersebut tidak akan sampai kepada tujuan. Mengetahui cara kerja kompas tidak menjadi jaminan keselamatan bagi orang tersebut KARENA keputusan dan tindakannyalah yang menentukan dia bisa sampai ke tujuan atau tidak.

Akhir kata, sebagai seorang manusia yang sama-sama berada dalam lingkungan gereja Katolik hendaknya saling mengingatkan, karena dengan sharing iman akan saling menambah pengetahuan dan iman, tanpa pengenalan akan Tuhan yang kita imani maka semua yang kita wartakan ibarat gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing, jadi percuma berbuat baik kalo baik yang kita lakukan tidak berdasarkan hukum tempat kita berada, karena kebaikan menurut pemikiran kita belum tentu baik yang sebenarnya.

Hidup adalah peperangan melawan yang jahat, maka sudah seharusnya kita memperlengkapi diri kita dengan senjata iman/perlengkapan senjata Allah (baca efesus Efesus 6:11-17,klik). Jangan mengandalkan diri sendiri dan kepandaian sebagai manusia karena, sebagai manusia kita adalah makhluk yang sangat terbatas, Allahlah yang memampukan kita mengarungi samudera kehidupan ini dengan dasar iman dan kekuatan dari Nya.

Sekali lagi, tak kenal maka tak sayang, begitu juga dalam kehidupan iman menjadi seorang katolik. Berusahalah untuk menjadi orang Katolik yang benar-benar tau akan Kekatolikan, sehingga kita tidak menjadi abu-abu.

sa cap meh 7 Feb 2016

Waktu aku kecil, malam sa cap meh adalah malam yang paling meriah, dimana semua keluarga berkumpul di rumah besar kakek dan nenek untuk makan malam bersama. Disini lah ajang kumpul dan bertukar cerita. Sa cap meh sama seperti tanggal 31 Des, malam pergantian tahun, malam sehari sebelum tahun baru terjadi. Momen kebersamaan di malam ini sangat terasa. Berbagai masakan rumah hasil kreasi nenek dan semua perempuan di rumah menjadi menu utama di malam ini. Minimal seperti yang tampak di gambar ini.

Menu makan malam di malam sa cap meh sangat bervariasi. Dan minumannya juga enggak kalah bervariasi, ada soft drink, es lengkong, bir, dan minuman kaleng lainnya. Malam sa cap meh bagaikan malam penuh syukur setelah setahun membanting tulang mengumpulkan rezeki.

Namun di tahun belakangan ini, situasi malam sa cap meh tidak begitu terasa kekeluargaannya karena masing-masing keluarga sibuk dengan acaranya sendiri. Malam sa cap meh dijadikan ajang ngumpulin duit terutama yang berbisnis di bidang entertain dan resto. Kekeluargaan tidak lagi menjadi prioritas, ketika orang yang dituakan tidak lagi berada di dunia ini.

Terlebih bagi anak yatim piatu seperti saya, keluarga inti tidak ada lagi sehingga mengurangi rasa kekeluargaan yang ada. Saya terpaksa bergabung dengan keluarga tante atau kakak atau famili lainnya untuk merayakan sukacita di malam sa cap meh.

Jujur, sukacita yang ada tidak lebih besar dengan sukacita ketika merayakan ekaristi. Bagi saya, sukacita malam sa cap meh akan terlengkapi dengan perayaan misa imlek di hari imlek. Sukacita di ekaristi itu ibarat perjamuan makan malam di malam sa cap meh. Ada keluarga seiman dalam Yesus, ada hosti kudus yang menyegarkan hati dan jiwa, dan ada air surgawi yang mengisi dahaga kasih di hati. Tidak bisa dipungkiri bahwa kehilangan keluarga besar sungguh mendatangkan dahaga kasih yang hanya akan terpuaskan dengan minuman air hidup dari firnan Allah yg hidup.

Yang lagi kesepian di malam sa cap meh ini..jangan sedih ya.. coba deh gabung dengan keluarga atau teman lainnya. Kalau malas keluar. .mari berdoa saja..mensyukuri setahun yang akan berlalu ini..dan bersiap menyongsong tahun baru besok..di tahun monyet.

Yang lagi asik ngumpul dengan keluarga, jangan hajar makan ya..ingat besok masih akan makan lagi, entar bajunya pada gak muat. Hahahahaha…

Selamat menyongsong tahun baru monyet..

Wish you all the best