Label

Tampilkan postingan dengan label Teologi Tubuh (Teology of Body/TOB). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teologi Tubuh (Teology of Body/TOB). Tampilkan semua postingan

Modesty/Kesopanan

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Ketika trend fashion sudah semakin trendy, hal ini ikut mempengaruhi kebiasaan berpakaian manusia di zaman sekarang ini yang lebih menyukai pakaian yang lebih terbuka. Bagi kebanyakan manusia yang hidup di zaman ini, memperlihatkan sebagian dari bagian tubuh adalah hal yang indah dan termasuk dalam seni atau trend fashion yang harus diikuti. Namun, menurut gereja Katolik hal berbusana seperti ini adalah tidak pantas dan tidak layak. Alasannya:

Katekismus Gereja Katolik : 2521,2522
2521 : Kemurnian menuntut sikap yang sopan. Ini adalah bagian hakiki dari pengekangan diri. Sikap yang sopan memelihara hal-hal pribadi manusia. Ia menolak membuka apa yang harus disembunyikan. Ia diarahkan kepada kemurnian yang perasaan halusnya ia nyatakan. Ia mengatur pandangan dan gerakan sesuai dengan martabat manusia dan hubungan di antara mereka.
2522 : Sikap sopan melindungi rahasia pribadi dan cinta kasihnya. Ia mengundang untuk bersabar dan mengekang diri dalam hubungan cinta kasih; ia menuntut, bahwa prasyarat-prasyarat untuk ikatan definitif dan penyerahan timbal balik dari suami dan isteri dipenuhi. Dalam sikap sopan itu termasuk pula kerendahan hati. Ia mempengaruhi pemilihan busana. Di mana ia mengira bahwa ada bahaya sikap ingin tahu yang tidak sehat, di sana ia berdiam diri dan bersikap hati-hati. Ia menjaga keintiman orang lain.

Ada sebuah opini yang pernah saya dengar tentang: “Pemerkosaan terjadi karena kesalahan pria dalam memandang pakaian wanita” Statement tersebut terkesan menghakimi kaum pria tanpa pernah berpikir realistis bahwa, siapapun itu akan dapat tergoda dan terangsang jika melihat sesuatu yang pribadi (sebagian dari bagian tubuh) di perlihatkan di hadapan publik. Jika tidak memiliki gejolak batin seperti itu, maka yang bersangkutan dapat dipertanyakan kenormalannya sebagai manusia, yang memang tercipta dengan gejolak birahi yang bisa timbul ketika melihat sesuatu yang pribadi seperti itu. Ingat kembali kisah Adam dan Hawa setelah diusir dari Taman Eden, disaat itulah manusia mulai memandang sesamanya dengan objektif. Jadi, pakaian yang dikenakan seseorang sangat menentukan respek manusia lainnya terhadap dia (dia yang berpakaian).

Jika masing-masing orang mengejar kemurnian dalam mencintai Tuhan, maka sudah seharusnya setiap orang menjaga kesopanan dalam berbusana. Karena martabat seseorang dapat dilihat dari penampilannya (pakaian yang di kenakannya) sehari-hari. Pakaian yang dikenakan seseorang menunjukkan betapa pentingnya melindungi bagian pribadi yang tidak seharusnya di pamer di hadapan publik; karena apabila sering dipamer seperti itu; dimana letak berharganya?

Manusia memiliki bagian-bagian pribadi yang sudah seharusnya dijaga dan dirawat dengan baik; sebagai bukti syukur kepada Pencipta yang telah menciptakannya dengan begitu sempurna. Berbusana yang sopan akan menghadirkan respek yang baik dari lawan jenis karena mereka mampu melihat kodrat dan martabat seseorang dari cara berbusana yang sopan.

Jadi, jika kita hendak mengurangi tingkat kejahatan maka sudah seharusnya setiap orang memilih untuk berpakaian yang sopan  agar masing-masing orang memancarkan nilai berharga yang dimilikinya lewat penampilannya setiap hari.

Berpakaian sopan tidak harus mengenakan pakaian branded, pakaian mewah dan mahal. Cukup kenakan pakaian yang nyaman dipakai dan sesuai dengan kodratnya serta tidak menonjolkan bagian tubuh yang pribadi; dengan demikian maka kesopanan dapat terpenuhi.

Ketelanjangan Asali (Original Nakedness)

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Selain aspek kesendirian asali dan kebersatuan asali; manusia masih memiliki aspek ketiga sebagai akhir dari kisah penciptaan dalam kitab kejadian 2; dimana manusia memiliki aspek ketelanjangan asali. Kejadian 2:25: …Mereka, keduanya telanjang, manusia dan istrinya itu, tapi tidak merasa malu”.
Santo Yohanes Paulus 2 merefleksikan kata telanjang dan tidak merasa malu dan menemukan suatu pengertian baru tentang tubuh manusia yang sungguh agung dan ilahi. Tubuh manusia sangat indah dan berharga dimana manusia pada awalnya melihat sesamanya sebagai subjek, lebih melihat ke pribadi seorang manusia sehingga menjadikan keduanya tidak merasa malu.

Berbeda halnya jika manusia memandang sesamanya sebagai objek maka, pasti akan tersirat rasa malu karena salah satu pihak akan merasa dimanfaatkan dan dijadikan sebagai objek/alat pemuas nafsu bagi manusia lainnya. Manusia awalnya diciptakan tidak seperti itu, manusia awalnya diciptakan dengan sempurna dan mampu melihat manusia lainnya sebagai subjek; sehingga tidak ada perasaan malu karena keduanya sungguh memiliki pesona yang indah yang patut untuk disyukuri dan dihargai.

Namun, karena dosa yang dilakukan oleh manusia pertama; manusia pada zaman sekarang ini tidak mampu bersikap dan bertindak seperti aspek ketelanjangan asali ini. Setiap manusia selalu melihat objektif terhadap sesamanya, sehingga hal ini menimbulkan kejahatan serius dan membuat manusia gagal untuk menampilkan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Dosa membuat manusia melupakan aspek ketelanjangan asali, sehingga lewat teologi tubuh yang digagaskan oleh Santo Yohanes Paulus 2; manusia diharapkan kembali sadar akan hakikatnya sebagai manusia yang secitra dengan Allah, dan berusaha untuk memandang seseorang sebagai subjek dan bukan sebagai objek/barang. Sehingga diharapkan agar tubuh sesama dipandang sebagai sesuatu yang agung dan ilahi karena; merupakan cerminan kehadiran Allah di dunia ini.

Aspek ketelanjangan asali ini tidak membenarkan nudisme yang suka bertelanjang bulat di depan umum. Karena manusia zaman ini sudah tercemar dosa sehingga cenderung memandang sesama manusia sebagai objek, sehingga dengan budaya nudisme malah membuat dosa semakin bertambah banyak; karena tubuh tidak dihargai dan dicemarkan dengan dipertontonkan di hadapan publik seperti sesuatu yang tidak berharga.

Manusia awalnya adalah telanjang karena tidak tercemar dosa, berbeda dengan manusia setelah pengusiran dari taman Eden, dimana manusia sudah tercemar dosa, sehingga ketelanjangan setelah keberdosaan ini akan membuka pintu dosa lainnya (jika manusia tidak kembali ke aspek ketelanjangan asali). Kita yang hidup di zaman sekarang ini perlu menyadari akan aspek ketelanjangan asali untuk mencegah dan mengurangi dosa akibat penyalahgunaan tubuh manusia; sehingga setiap kita diharapkan mampu untuk melihat manusia lainnya sebagai pribadi yang memiliki Allah dalam dirinya masing-masing (memandang manusia sebagai subjek).

Demikianlah ketiga aspek dasar penciptaan manusia di dunia ini oleh Sang Pencipta (Allah) yang menjadikan manusia sungguh unik, berharga, agung dan ilahi sehingga, sudah sepantasnya untuk dicintai bukan untuk digunakan demi kepentingan diri sendiri.

Marilah menjadi manusia seutuhnya seperti rancangan yang telah ditetapkan Allah bagi diri kita masing-masing sebagai manusia yang memiliki tubuh.

Kebersatuan Asali (Original Unity)

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Setelah Allah menempatkan manusia di tengah taman Firdaus tersebut, TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Ketika manusia melihat alam di sekitarnya dan tidak menemukan suatu makhluk yang sepadan dengan dia; Allah yang mengetahui isi hati manusia tersebut menjadikan penolong bagi manusia pertama tersebut. Mulai dari ayat 21-24 (Kejadian 2:21-24), diceritakan bagaimana manusia kedua tercipta dan merupakan bagian dari manusia yang pertama -> Kejadian 2:23" Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.".


Manusia pertama yang dinamakan Adam melihat manusia kedua tersebut sebagai seseorang yang memiliki pesona, dan mampu melengkapi kesendiriannya, sehingga pada Kejadian 2:24: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”. Karena rasa ketertarikan itu, maka Adam memiliki hasrat untuk bersatu dengan hawa sesuai dengan apa yang difirmankan Tuhan pada Kejadian 2:24.

Atas dasar kisah inilah, Santo Yohanes Paulus 2 menegaskan bahwa dalam diri manusia terdapat keinginan untuk bersatu dengan orang lain. Karena dalam kebersatuan tersebut manusia akan berhasil memperlihatkan apa yang tidak kelihatan; artinya manusia mampu menampilkan Allah ketika kedua manusia tersebut bersatu. Santo Yohanes Paulus II mengatakan: “…manusia menjadi sebuah gambar Allah baik dalam saat-saat kesendirian maupun dalam saat persatuan…” (TOB 9:3; 14 Nopember 1979).

Tidak ada seorang manusiapun yang mampu hidup sendiri tanpa kehadiran manusia lainnya; karena jika manusia terus menerus sendiri dan tidak bersosialisasi dengan manusia lainnya, maka dalam diri yang bersangkutan akan mengalami masalah yang berdampak pada pola perilaku yang tidak lazim; yang jauh dari karakter manusia awal; yang telah dirancang dan diciptakan Allah untuk hidup bersama dengan manusia lainnya.

Karena aspek kebersatuan asali inilah, makanya manusia senang dan selalu berhasrat untuk berkumpul dan bersama dengan manusia lainnya; karena lewat kebersamaan dan kebersatuan dengan orang lain, Allah sungguh hadir dan menjadi pemersatu diantaranya. Aspek kebersatuan asali juga erat kaitannya dalam hubungan persetubuhan antara pria dan wanita yang harus menghadirkan Allah; dengan cara menjadikan tindakan tersebut sebagai sesuatu yang kudus (sadar akan makna dan tujuan) dan bukan sebagai ajang untuk mengumbar nafsu.

Demikianlah aspek kebersatuan asali sebagai salah satu aspek dasar manusia dalam hidup di dunia ini; yang tidak pernah bisa sendiri dan cenderung memiliki ketertarikan untuk bersatu dan bersama dengan manusia lainnya.

Bersambung...ke aspek ketiga yaitu Ketelanjangan Asali...

Kesendirian Asali (Original Solitude)

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Dalam Teologi Tubuh yang digagaskan oleh Santo Yohanes Paulus 2, memuat 3 aspek penting dalam diri seorang manusia yang menjadi dasar penciptaan manusia tersebut di dunia ini. Ketiga aspek yang dimaksud adalah kesendirian asali (original solitude), kebersatuan asali (original unity) dan ketelanjangan asali (original nakedness) [1].

Sebelum membahas ketiga aspek di atas, kita akan melihat bagaimana Santo Yohanes Paulus II pada awalnya; ketika membaca dan merenungkan Injil Matius 19:8 yang berbunyi: Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian”. Santo Yohanes Paulus II merenungkan tentang kalimat terakhir dari ayat tersebut, yang membawanya memasuki kisah penciptaan dunia pertama sekali untuk mencari tau apa arti sejak semula tidaklah demikian.

Dalam Kitab Kejadian pasal 1 dan 2 merupakan gambaran kisah penciptaan dunia pertama sekali oleh Allah yang maha Agung. Dalam dua versi kisah penciptaan tersebut, Santo Yohanes Paulus 2 melihat betapa sempurnanya hasil ciptaan Allah pada awal mulanya, sehingga benarlah yang Yesus katakan bahwa sejak semula tidaklah demikian. Mari kita lihat dan baca Kitab Kejadian pasal 1 (1:1-31) klik dan dilanjutkan pasal 2  (2:1-25) klik

Dalam pasal 1 dari Kitab Kejadian diceritakan tentang kisah penciptaan dunia dan segala isinya mulai dari hari pertama sampai hari yang terakhir. Pada ayat ke 27 (Kejadian 1:27), Allah mulai membentuk manusia secitra dengan Dia. Kisah penciptaan manusia lebih detail di jelaskan di pasal kedua dari Kitab Kejadian mulai dari Kejadian 2:7 “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Manusia pertama kali dibentuk adalah seorang diri saja. Kemudian lanjut ke ayat berikutnya, dimana Allah menempatkan manusia pertama itu di tengah taman hasil ciptaanNya yang sempurna (Kejadian 2:15).

Pada bagian awal kisah penciptaan ini, Santo Yohanes Paulus 2 menangkap makna bahwa manusia memiliki aspek kesendirian asali dimana manusia itu diciptakan pertama sekali dalam keadaan sendiri dan istimewa, karena merupakan gambaran rupa Allah dan memiliki nafas kehidupan Allah dalam dirinya. Seorang manusia akan memiliki sisi kesendirian yang masih terbawa sampai saat ini, di dunia modern sekarang ini. Contohnya, seorang aktivis kampus yang gemar kegiatan sosial dan organisasi begitu menyukai kegiatan yang padat, aktif dan memiliki banyak teman akan membutuhkan suatu waktu dalam hidupnya, untuk menyendiri dan jauh dari kebisingan dan aktivitas rutinitasnya. Dalam diri manusia tersimpan sisi kesendirian yang erat kaitannya dengan aspek lahiriah yang merupakan dasar penciptaannya yang memang pada awalnya diciptakan sendiri.

Lebih jelasnya, dapat terlihat dalam diri seorang manusia yang terdampar di suatu pulau/tempat karena suatu bencana/kecelakaan, maka manusia tersebut akan mampu bertahan hidup sendiri karena dibekali dengan aspek kesendirian asali yang istimewa yang berbeda dibanding makhluk lainnya yang menjadikan manusia tersebut mampu bertahan hidup meskipun dalam keadaan seorang diri.

Dalam aspek pertama ini, Santo Yohanes Paulus 2 menemukan salah satu dasar manusia yang kiranya akan mampu membuat kita mengerti, mengapa dalam kehidupan ini terkadang kita merasa berada dalam kesendirian, menyukai kesendirian, yang semuanya itu pertanda bahwa diri kita sedang membutuhkan sesuatu untuk menghilangkan rasa kesendirian tersebut. Maka aspek kedua setelah kesendirian asali adalah kebersatuan asali.

Bersambung...

Sumber:
[1] Penjelasan ini disarikan dari buku Christopher West, Theology of The Body for Begginers. A Basic Introduction to Pope John Paul II’s Sexual Revolution, West Chester. PA: Ascension Press, 2004, hal. 19-30. Selain itu dari buku Deshi Ramadhani, SJ, Lihatlah Tubuhku, Membebaskan Seks Bersama Yohanes Paulus II, Yogyakarta: Kanisius, 2009, hal. 50-70

Tahapan Dalam Sebuah Hubungan

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Ibarat seperti membangun sebuah rumah, segala sesuatunya membutuhkan dana, desain, tahapan dan proses untuk menyelesaikan sebuah bangunan. Begitu juga dengan hubungan, sama seperti membangun sebuah rumah. Ada dana yang dibutuhkan maksudnya: sebagai seorang pribadi hendaknya memiliki nilai berharga sehingga layak untuk dicintai. Nilai berharga yang dimaksud adalah pribadi yang memiliki hubungan dekat dengan Tuhan, kepribadian yang dewasa secara jasmani dan rohani (bertanggung jawab), pribadi yang menarik penuh dengan sikap dan sifat positif, dan lain-lain yang membuat seseorang itu menjadi pribadi yang layak untuk dicintai.

Desain rumah adalah rancangan sebuah bangunan rumah mulai dari letak ruangan, bentuk ruangan, desain ruangan yang melingkupi warna dan gaya, dan lain-lain. Begitu juga sebuah hubungan, masing-masing pasti punya kriteria tersendiri dalam membangun sebuah hubungan. Ada yang maunya seperti Keluarga Kudus Nazaret, ada yang mau seperti keluarga Pangeran William, ada yang mau seperti pernikahan Melly Goeslaw (beda agama), dan lain-lain. Masing-masing pribadi memiliki kriteria pasangan yang diinginkan, sifat dan sikap yang diinginkan, dan lain-lain.

Tahapan adalah langkah-langkah dalam membangun sebuah rumah, mulai dari membangun fondasi bangunan, memasang tiang-tiang, mengecor tiang dan lantai, memasang atap, memasang tangga, kusen, dan lain-lain. Dalam membangun sebuah rumah ada tahapannya. Tidak mungkin sebuah bangunan diawali dengan pembangunan atap, sebelum fondasi rumah terbentuk, tidak mungkin mengecor lantai jika tiang belum terbentuk, begitu juga dengan sebuah hubungan, yang memiliki tahapan yang tidak boleh lompat satu sama lainnya, yang semuanya harus berjalan secara teratur dan konsisten.

Proses adalah kegiatan yang dilakukan selama tahapan berlangsung. Sama seperti saat membangun fondasi (tahapan), maka prosesnya mulai dari menggali tanah, memasang tiang besi, mengecor fondasinya dan kemudian memasang tiang lainnya. Proses adalah seluruh rangkaian kegiatan untuk menyelesaikan tahapan tersebut. Sama seperti sebuah hubungan dimana proses yang dimaksud adalah kegiatan yang berlangsung selama tahapan yang sedang berlangsung. Misalnya:  jika kita berada dalam tahapan persahabatan maka proses yang dimaksud adalah: jalinan komunikasi antar teman, ikut kegiatan kelompok tertentu, hangout/meet up dengan teman-teman, dan lain-lain.

Tahapan dalam sebuah hubungan dapat dilihat di gambar piramida hubungan di bawah ini:
Dalam gambar di atas, terdapat tujuh tahapan yang harus dilalui di dalam menjalani sebuah hubungan.
1.    Persahabatan. Mengapa persahabatan adalah tahapan awal dan paling besar? Karena sebuah hubungan umumnya dimulai dengan persahabatan. Kita boleh menjalani banyak persahabatan guna menemukan teman hidup yang pas sesuai dengan desain yang kita inginkan. Semakin banyak persahabatan yang kita jalin, maka peluang untuk menemukan pasanganpun semakin besar.
2.    Mengenal Lebih Dekat. Dari banyak sahabat yang kita miliki pasti ada seseorang yang sangat spesial yang berhasil mencuri perhatian kita dan sesuai dengan desain yang kita inginkan. Tahapan selanjutnya adalah mengenal seseorang spesial tersebut lebih dekat dan lebih mendalam untuk mengenal pribadinya seutuhnya.
3.    Mengenal Keluarga dan Lingkungan Lebih Dekat. Setelah kita merasa sudah mengenal baik seseorang yang spesial tersebut maka tahapan selanjutnya adalah memasuki lingkungannya. Mengenal keluarga, teman-teman, dan lingkungan hidupnya. Langkah ini diperlukan untuk dapat menilai apakah hubungan yang kita akan jalin kelak, direstui oleh orang tuanya? Apakah pergaulannya dengan teman-temannya baik dan positif? Apakah lingkungan hidupnya sehat dan tidak terlibat kasus kejahatan?. Jika di tahapan ini kita menemukan kendala, misalnya orangtuanya tidak setuju jika dia menjalin hubungan dengan kita, untuk apa hubungan ini dilanjutkan? Mungkin ada beberapa pernikahan yang berhasil terbentuk karena tidak disetujui oleh orangtua, tapi apakah pernikahan seperti itu yang kita idamkan? Contoh lainnya, jika kita mengenal lingkungan pergaulannya tidak sehat seperti sering dugem dan mabuk, apakah kita menginginkan pasangan yang seperti itu? Ingatlah bahwa untuk merubah seseorang menjadi lebih baik adalah mulia dan besar pahalanya, namun dalam kehidupan berumah tangga tidak ada ukuran dan standar untuk bisa mengetahui kapan seseorang itu akan berubah menjadi lebih baik. Jika segampang membalikkan telapak tangan, maka mungkin kita boleh menerima pasangan yang seperti itu; namun sadarilah merubah seseorang itu tidak gampang dan tidak cepat prosesnya.
4.    Pacaran Eksklusif. Setelah tiga tahapan awal berhasil dilalui, maka sudah saatnya kita mengikat diri dalam hubungan spesial dengan seseorang yang spesial tersebut. Dalam tahapan ini, kita telah ganti status dari available menjadi not available. Dalam tahapan ini, pembicaraan tentang masa depan lebih spesifik dibicarakan.
5.    Pertunangan. Setelah masa pacaran dilewati dengan mulus dan tanpa halangan untuk menikah; maka hubungan pacaran ekslusif sampai ke tahapan yang lebih tinggi yaitu pertunangan. Masing-masing individu telah terikat dalam hubungan yang lebih resmi; untuk mempersiapkan diri dalam membangun sebuah rumah tangga.
6.    Menikah. Tahapan selanjutnya dalam sebuah hubungan adalah pernikahan. Ini merupakan tahapan yang serius karena telah melibatkan semua keluarga besar, gereja dan Tuhan. Hubungan yang terbentuk menjadi lebih kudus dan indah karena disahkan oleh semua pihak dihadapan Tuhan yang Empunya kehidupan ini.
7.    Sex. Merupakan Tahapan yang tertinggi dalam sebuah hubungan setelah melewati tahapan satu sampai enam. Merupakan tahapan tertinggi karena sex adalah kegiatan yang paling kudus karena sebagai bentuk pemberian diri secara total, setia, bebas dan berbuah. Sama seperti Allah memberikan diriNya kepada manusia maka sex adalah bukti cinta nyata antar pasangan. Sex yang paling kudus sehingga jumlahnya lebih sedikit; sedikit supaya sex itu lebih murni. Bayangkan aja kalau sex dilakukan sesering mungkin dan tidak ada aturannya, apa bedanya dengan sex antar binatang?!
Demikianlah, tahapan yang harus dijalani dalam menjalani sebuah hubungan yang dilakukan secara bertahap dan teratur. Tidak boleh saling melompati agar menciptakan harmonisasi dalam pembentukkan sebuah hubungan. Ingat seperti membangun sebuah rumah yang butuh tahapan dan proses, maka demikian pula sebuah hubungan yang harus memiliki tahapan dan proses.

Terburu-Buru Menjalani Kehidupan

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Sepanjang perjalanan menuju kantor, aku mengemudikan motorku dengan santai, tidak seperti biasa yang suka kencang karena merasa ngak mau tersaingi dengan angkot. ^0^ Pikirku, mesin motor ini kalo dibawa pelan pasti akan sedikit mengkonsumsi bahan bakar, sama seperti kalau kita menuju ke suatu tempat; jika kita berlari maka kalori yang terpakai akan jauh lebih besar dibanding jika kita berjalan kaki menuju tempat tersebut.

Sama seperti jika kita hendak mencapai sesuatu, perlu tenaga ekstra jika tujuan yang ingin dicapai perlu dicapai dalam waktu yang sesegera mungkin. Begitu juga dalam kehidupan ini, ada hal-hal yang harus dicapai dengan sesegera mungkin, dan ada hal-hal yang perlu ditunda dulu agar energi kita tidak menjadi sia-sia. Dengan kata lain, agar waktu dan tenaga serta kesempatan yang kita miliki tidak menjadi sia-sia.

Saat umur remaja, biasanya seorang manusia akan terburu-buru ingin dewasa. Terburu-buru untuk mengenal cinta, terburu-buru ingin merasakan kenikmatan sentuhan-sentuhan kasih sehingga, malah menjerumuskan ke hal-hal yang salah dan merusak masa depan. Saya punya beberapa teman yang menghentikan kegiatan masa mudanya dan terpaksa menjadi seseorang yang dewasa di umur yang tidak dewasa, sehingga sekolah dan masa depanpun menjadi hancur berantakan.

Tahun-tahun awal pernikahan mudanya, sangat penuh tantangan dan penuh dengan konflik akibat ketidakmatangan dalam membina sebuah hubungan yang memerlukan tanggungjawab besar. Tidak gampang untuk memulai sebuah hubungan, tidak gampang untuk menyelami pribadi seseorang dan tidak gampang untuk bertahan dalam arus kehidupan yang sarat akan gelombang dan badai. Namun, karena terburu-buru dalam menjalani kehidupan, hal ini seperti terabaikan dan terlupakan.

Anak remaja memiliki emosi yang sangat labil dan belum bisa mengemban suatu tanggung jawab sebagai suami atau istri. Karena anak remaja masih dalam tahap pembelajaran tentang kehidupan yang harus dilalui dengan sabar dan pelan agar tidak merusak diri sendiri.

Sama seperti kendaraan, yang jika dipaksakan kencang berlari setiap harinya, selain membuat boros bahan bakar yang terpakai, juga dapat merusak mesin akibat mesin memiliki kapasitas (cc) yang terbatas. Demikian juga para remaja yang seharusnya menikmati masa muda dengan berbagai kegiatan positif, dibanding kegiatan berduaan dengan lawan jenis yang hanya memancing keinginan, atau tindakan yang terburu-buru yang pasti akan merusak masa depan.

Untuk itu, marilah menjalani hidup sesuai dengan rule dan rute yang sudah ada, perbanyak kegiatan positif dan pendalaman akan cinta Tuhan, penuhi tangki cintamu dengan cinta Tuhan yang akan membantumu melewati berbagai masalah dan kepahitan yang mungkin akan menghalangimu. Hanya cinta Tuhanlah yang mampu membuat seseorang bertahan dalam suatu peperangan yang menggocang batin dan jiwa. Sadarilah bahwa Tuhan itu nyata dan Dia dekat pada mereka yang telah bersahabat karib denganNya.

Tentang Persetubuhan

Ditulis Oleh: Irse Wilis
Pada umumnya, setiap manusia memiliki dorongan seksual kepada lawan jenis. Dorongan seksual itu muncul akibat timbulnya rasa ingin memberi dan menerima yang erat kaitannya dengan CINTA. Manusia menginginkan cinta karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang mampu mencintai sama seperti Penciptanya yang Maha Cinta Sejati. Persetubuhan adalah hal yang wajib dalam sebuah pernikahan karena persetubuhan merupakan tanda kebersatuan antara laki-laki dan perempuan. Persatuan ini mengandung unsur memberi dan menerima sehingga persetubuhan itu terasa indah, nikmat dan bahagia. Persetubuhan ini tidak salah, tidak kotor melainkan sebagai kewajiban dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sama seperti Allah Tri Tunggal yang merupakan 3 pribadi dalam satu kesatuan Ilahi, begitu juga hubungan suami istri yang harus mencapai kesatuan, salah satunya melalui persetubuhan.

Persetubuhan hanya boleh dilakukan oleh mereka yang telah menerima sakramen perkawinan, karena persetubuhan itu suci sehingga sebelum melakukannya harus disahkan dulu oleh Yang Maha Kudus, agar Dia menjadikan persetubuhan itu berbuah manis dalam pernikahan tersebut. Tanpa kehadiran Tuhan, persetubuhan itu hanya merupakan gejolak birahi yang memuaskan badan, yang tidak akan menghasilkan buah manis, dan membawa manusia jatuh ke dalam dosa akibat tidak terkendalinya keinginan daging tersebut.

Persetubuhan yang tidak kudus akan membuka pintu dosa seksual yang siap menjerat manusia tersebut. Terikat akan kenikmatan dunia yang menghanyutkan dan sekaligus membinasakan. Menghanyutkan karena persetubuhan tersebut bisa menimbulkan efek ketagihan akibat tidak terkendalinya dorongan seksual; membinasakan sebagai efek dosa yang mematikan rohani dan jasmani manusia. Tidak bisa dipungkiri kalau persetubuhan yang tidak kudus/seks bebas akan membuka peluang penularan penyakit menular seksual, aborsi, gangguan pskis akibat tertekan, perasaan takut/berdosa/bersalah, gangguan seksual seperti masochist, hypersex, pedophilia, dan efek buruk lainnya.

Dewasa ini, kejahatan seksual sangat marak terjadi akibat dorongan seksual yang disalahgunakan. Banyak manusia lupa atau tidak ingin mencari kekudusan sehingga, mendorong manusia tersebut untuk melakukan kejahatan seksual. Tubuh hilang kuasanya dan tenggelam dalam nafsu sesat untuk memuaskan tubuh yang lemah yang perlahan akan menjauhkan manusia dari Kebenaran yang diimaninya. Manusia terlalu objektif dan lupa untuk melihat manusia lain sebagai seorang pribadi dan bukan hanya seonggok daging yang menggairahkan. Untuk itulah, teologi tubuh perlu dipelajari kembali untuk melihat persetubuhan itu dalam konteks yang berbeda dengan pandangan dunia.

Menurut St.Yohanes Paulus II, persetubuhan adalah pemberian diri secara total. Yang memiliki empat unsur yang berkaitan satu sama lainnya, yaitu: total, setia, bebas dan berbuah. Persetubuhan yang total berarti memberi diri seutuhnya kepada pasangan, tidak ada yang tersembunyi dan semuanya diberikan dengan tulus ikhlas dan tanpa paksaan. Persetubuhan total jauh dari manipulasi bagian tubuh dengan tujuan mencapai kenikmatan sendiri. Persetubuhan total mengandung unsur memberi dan menerima dimana keduanya aktif mengungkapkan cinta yang tak terbatas.

Persetubuhan setia artinya bahwa persetubuhan tersebut dilakukan pada pasangan yang sah, sesuai dengan waktu yang disepakati bersama dengan tujuan kenikmatan bersama. Persetubuhan setia akan sangat menghargai keberadaan dan keadaan pasangan sebagai pihak yang memberi/menerima cinta, tidak ada keinginan liar untuk melakukannya dengan pihak lain karena sadar bahwa pasangannya merupakan pihak yang layak untuk memberi/menerima cintanya.

Persetubuhan bebas artinya persetubuhan yang menginginkan kebaikan bagi pasangannya. Tidak terikat perasaan takut dan bersalah karena melakukannya dengan dasar cinta. Persetubuhan bebas bukan persetubuhan liar yang melakukan kegiatan seksual yang tidak alami seperti sodomi. Persetubuhan bebas membuat masing-masing pihak bebas lepas untuk mengekspresikan cinta dengan cara dan aturan yang benar yang tidak meyakiti pasangan baik secara langsung atau tidak langsung.

Persetubuhan yang berbuah artinya persetubuhan yang menghasilkan buah manis. Tidak mencegah pembuahan akibat dari persetubuhan tersebut, sebagai ungkapan syukur dan bukti kasih dari persetubuhan yang telah terjadi. Persetubuhan yang berbuah akan menghasilkan buah-buah manis dalam kehidupan pernikahan karena merupakan hasil berkat dan rahmat Tuhan yang menguduskan persetubuhan tersebut.

Persetubuhan antara laki-laki dan perempuan adalah sakral karena seperti Yesus yang memberi diriNya secara total, setia, bebas dan berbuah kepada umat pilihanNya. Yesuslah pedoman dalam hidup berkeluarga sehingga manusia dapat lebih mengendalikan dorongan seksualnya dan mengikuti Dia yang diimaninya. Tanpa Yesus dalam diri seseorang dan dalam sebuah keluarga, maka kekacauan akan mewarnai setiap lembaran kehidupan lantaran telah kehilangan berkat dari Tuhan yang memberkatinya.

Untuk itu, hati-hatilah dalam setiap melakukan persetubuhan agar kiranya tetap menjadikannya kudus dan berkenan kepada Allah. Bagi, yang sudah melakukan seks bebas/persetubuhan yang tidak kudus segeralah akhiri keterikatanmu terhadap dosa, agar hidupmu dipulihkan dan kebahagiaan dapat mengisi hari-harimu.

Tetaplah teguh dalam iman agar berkatNya senantiasa tercurah untuk kita semua. Amin.

Serba Serbi Kehidupan Menikah

 Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Musik merdu di sebuah jamuan pesta pernikahan berlangsung syahdu. Para penari cilik berlenggak lenggok menyambut datangnya kedua pengantin yang siap memasuki ruangan acara pesta. Barisan anggota keluarga telah terbentuk dan bersiap untuk memasuki ruangan; seiring dengan lantunan musik yang bermain indah. Kedua mempelaipun memasuki ruangan dengan senyum dan pakaian terbaik mereka di kesempatan yang berbahagia itu.

Pernikahan sangat indah, sangat sakral dan sangat menyenangkan. Dimana dua insan yang berlainan jenis dipersatukan dalam sakramen pernikahan yang kudus; dimana Kristus wajib dihadirkan secara nyata oleh kepala keluarga. Kristus harus dihadirkan dalam keluarga tersebut karena saat pemberkatan pernikahan tersebut, mereka telah mengundang Kristus menjadi pemimpin mereka dan kepala keluarga menjadi wakil Kristus sesuai dengan Kolose 5:23 “karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh”

Kitab suci mencatat bahwa seorang pria adalah manusia pertama yang diciptakan Allah segambar dan serupa Dia. Yang berarti bahwa Pria memiliki peran nyata sebagai wakil Allah, sementara istri adalah penolong suami dan merupakan peran pembantu dalam karya Ilahi yang diciptakan Allah dalam keluarga tersebut. Peran pembantu bukan berarti pembantu dan tidak bermaksud untuk merendahkan wanita karena wanitapun memiliki gambaran rupa Allah. Perbedaan kodrat diperlukan untuk menciptakan keseimbangan karena, pihak yang kuat harus berpasangan dengan yang lemah untuk menciptakan keharmonisan. Bayangkan aja jika pihak kuat bertemu dengan pihak yang kuat maka peperanganlah yang akan timbul, sebagai ajang untuk unjuk ego bagi masing-masing pihak.

Pernikahan merupakan hasil akhir dari perjalanan panjang sebuah hubungan cinta; karena pernikahan adalah pengesahan dari Sang Pencipta untuk dipersatukan menjadi wakil Allah yang berperan dalam karya Ilahi yaitu penciptaan kehidupan (kelahiran anak). Dua insan yang bersatu dalam pernikahan hendaknya menjaga kekudusan pernikahan tersebut sehingga karya Ilahi sang Pencipta menjadi nyata dalam keluarga tersebut. Prinsip-prinsip pernikahanpun perlu diterapkan agar pernikahan tersebut semakin nyata sebagai wujud cinta dari Allah sendiri kepada manusia.

Prinsip-prinsip pernikahan yang dimaksud adalah:
1.Bebas; dimana dalam sebuah pernikahan masing-masing pihak akan bebas untuk mengungkapkan kasih kepada pasangannya tanpa dibebani ketakutan-ketakutan tertentu, misalnya takut hamil, takut dikatakan jelek, dan ketakutan lainnya. Bebas yang dimaksud bukan bebas berbuat seenaknya terhadap pasangan; bebas yang dimaksud adalah kebebasan dalam bentuk mencintai bukan kebebasan dalam menggunakan pasangan.
2.Setia; dimana dalam sebuah pernikahan masing-masing pihak akan setia satu sama lainnya. Tidak ada pihak ketiga atau pihak lainnya yang mengambil alih perhatian dan cinta dari salah satu pihak. Pernikahan dalam gereja Katolik adalah monogami yang tidak dapat diceraikan atau dibagi ke pihak lain.
3.Total; dimana dalam sebuah pernikahan masing-masing pihak akan total memberikan dirinya kepada pasangannya tanpa mengurangi atau menutupi sesuatu. Contoh menerapkan kb alamiah sebagai wujud nyata pemberian diri secara total terhadap pasangan.
4.Berbuah; dimana dalam sebuah pernikahan ada pro creation yang merupakan campur tangan Allah dalam pernikahan tersebut; dimana kedua belah pihak akan menerima berkat Tuhan sebagai bentuk ketaatan dalam prinsip pernikahan yang telah diterapkan. Berbuah adalah hal yang sangat penting yang tidak dapat diabaikan karena ini merupakan lanjutan karya Allah bagi dunia; yang diwakilkan oleh Adam dan Hawa yang telah bersatu (union) dalam pernikahan.

Pernikahan dalam gereja Katolik berdasarkan hukum gereja katolik dapat dipelajari dalam artikel di katolisitas -> klik. Pernikahan katolik bukan hanya sebagai sarana untuk menyalurkan hasrat seksual, dan bukan juga suatu beban yang harus dijalankan; karena panggilan hidup berkeluarga adalah sudah kodrat manusia sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan (ingat kembali tentang panggilan hidup setiap orang->klik). Pernikahan itu akan bermakna jika Kristus berhasil menjadi Raja dalam keluarga tersebut yang berarti masing-masing pihak mengutamakan Yesus dalam keseharian mereka. Contohnya: Mengutamakan doa bersama keluarga, makan malam bersama keluarga, misa bareng, aktif dalam kegiatan pelayanan demi kemuliaan nama Tuhan yang singkatnya: mereka tidak hidup untuk mengejar kenikmatan dunia tapi lebih dari itu, masing-masing pihak hidup untuk mengejar kenikmatan surgawi yang dapat dipenuhi dengan pertumbuhan iman bersama pasangan masing-masing.


Sebagai manusia yang memiliki panggilan hidup untuk berkeluarga sudah seharusnya sadar akan hakikat pernikahan Katolik seperti apa, sehingga ke depan saat membangun rumah tangga setidaknya mengurangi resiko untuk berpisah karena sadar bahwa meninggalkan pasangan berarti meninggalkan Kristus yang hadir di tengah keluarga tersebut.

Semoga setiap keluarga menyadari akan kehadiran Kristus di tengah mereka, sehingga mereka diharapkan semakin memancarkan cinta; sama seperti Kristus Sang Sumber Cinta sejati; sehingga damai dan sejahtera bukan lagi barang langka yang tidak dapat dirasakan bersama.

Putus Cinta

 Ditulis Oleh: Irse Wilis

Banyak hal yang bisa mejadi pemicu berakhirnya sebuah hubungan cinta. Yang paling fatal dan tidak bisa ditolerir adalah ketika komitmen dilanggar dengan sengaja. Ketika komitmen dilanggar dan diakhiri sepihak atau oleh kedua belah pihak maka, tidak ada kelanjutan lagi untuk hubungan yang telah terbentuk.

Kedewasaan pribadi diperlukan dalam sebuah hubungan cinta, karena tanpa kedewasaan maka konflik yang timbul dapat menjadi permasalahan besar bagi diri yang bersangkutan. Karena tidak dewasa identik dengan sifat dan sikap manja dan egois yang dapat menjadi sumber permasalahan dalam suatu hubungan.

Jika putus cinta sudah terjadi, tidak perlu menutup diri sampai seabad lamanya. Tidak perlu menangis sampai bertahun-tahun, sebab yang membuat kamu memasuki rasa ini adalah kamu sendiri. Bukan orang lain!

Setiap orang pernah salah dalam mengambil keputusan. Mungkin terlalu terburu-buru, mungkin terlalu mabuk sehingga tidak sadarkan diri saat menjalin hubungan cinta dengan kekasih hati.

Untuk itu, sedari awal perlu disadari akan kehadiran Tuhan yang menopang. Ingat loh bahwa Tuhan yang mempertemukan dan Dia juga berhak memisahkan kita. Jadi, ketika Dia melihat orang yang kita sayangi kini tidak baik, tidak seperti Dia yang adalah CINTA SEJATI, mungkin Tuhan memberi perpisahan sebagai suatu jalan terbaik untuk masa depan kita. Mungkin, saat ini hati penuh amarah, kesedihan terlalu memuncak, kekecewaan menghujam bak pisau belati yang tajam, tapi sadarlah bahwa kamu berharga.

Adalah lebih baik berpisah sekarang daripada entar sudah nikah dan baru ketahuan buruknya kek apa. Belajarlah bersyukur dan pandanglah Yesus yang mencintaimu lebih besar daripada cinta kedua orang tuamu. Yesus tidak akan meninggalkan kita bahkan disaat tergelap di dalam hidup ini.

Bicaralah dengan pembimbing rohani ketika masalah terlalu berat dan membebanimu, dan yakinilah bukan kamu satu-satunya yang pernah merasakan pedihnya putus cinta.

Agar mengurangi resiko putus cinta, maka perlu pemahaman yang benar tentang jatuh cinta dan cinta agar tidak terjerat dalam hubungan yang sementara.

Marilah bertumbuh dalam cinta sejati pada Yesus sang Cinta Sejati.

Hubungan Cinta

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Setelah mengenal jatuh cinta maka tahapan setelahnya adalah memutuskan untuk komit dalam mencintai orang yang membuat kita jatuh cinta tersebut. Disinilah sebuah hubungan terbentuk yang sering disebut, hubungan pacaran dimana, manusia yang telah jatuh cinta mulai serius dalam membina perasaan jatuh cinta tersebut menjadi cinta sejati. Cinta sejati merupakan cinta yang mengikat, cinta yang bertanggung jawab, cinta yang komplit. Cinta yang membuat seseorang merasa penuh karena kebutuhan cintanya terpenuhi oleh orang yang tercinta.

Tidak jarang dalam hubungan cinta ini, manusia sering salah kaprah akibat terlalu di mabuk cinta dan menduakan Allah dalam kehidupannya sehari-hari. Sehingga cinta yang harusnya menjadi murni, ternodai oleh nafsu yang menjerat dan mengikat.

Memutuskan untuk mencintai seseorang adalah hak bebas setiap manusia. Tidak ada yang memaksa untuk tetap dalam perasaan cinta tersebut, atau malah meninggalkan perasaan jatuh cinta menjadi pertemanan doang. Saat memutuskan untuk mencintai seseorang harus jelas tujuan akhirnya apa, karena jika seperti daun yang bertiup kesana kemari, mending hubungan yang dibentuk adalah hubungan pertemanan doang, daripada bermain api yang hanya menghangatkan sejenak; tapi ujung-ujungnya malah membakar diri sendiri.

Tujuan akhir dalam suatu hubungan cinta sangat penting karena kita harus sadar betul akan resiko dalam sebuah hubungan cinta. Apabila hubungan cinta yang terbentuk sudah jelas tujuan akhirnya tapi malah menjadi bubar, maka perlu ditinjau kembali apakah kalian berdua masih fase jatuh cinta atau sudah sampai ke tahapan komit dalam cinta (hubungan cinta sudah terbentuk). Karena apabila sudah komit, maka kata bubar itu tidak akan berlaku, karena masing-masing pihak akan berpegang teguh pada komitmen yang telah disepakati bersama.

Untuk itu tidak perlu terburu-buru untuk memutuskan komit mencintai seseorang karena tanggung jawabnya sangatlah besar. Cinta itu tidak seperti cerita sinetron, atau drama yang berakhir bahagia atau menyedihkan. Cinta itu seperti nano nano yang kadang manis, kadang asin, kadang asam, yang sangat ramai rasanya. Komitmenlah yang membuat cinta mampu bertahan, karena komitmen membantu orang yang jatuh cinta untuk menikmati setiap rasa yang telah terbentuk.

Jika, hubungan cinta telah terbina dengan baik, maka hubungan cinta tersebut akan berujung pada pernikahan agar dapat membina cinta yang total, setia, bebas dan berbuah. Tanpa ikatan pernikahan maka hubungan cinta masih seperti bayi yang baru lahir yang tidak tau kapan akan dewasa dan mandiri sendiri.  Sebaliknya, jika hubungan cinta berakhir karena salah langkah atau salah persepsi atau salah mengambil keputusan, maka tahapan selanjutnya adalah patah hati yang dapat dilihat pada tulisan berikutnya.

Bersambung..... next Putus Cinta

Jatuh Cinta

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Tidak ada seorangpun yang dapat mengatur untuk jatuh cinta sama siapa. Tidak ada seorangpun yang bisa tau mengapa harus jatuh cinta sama seseorang. Perasaan itu datang begitu saja, dan berlalu begitu saja. Setiap manusia akan mengalami fase ini. Fase jatuh cinta, hubungan cinta ataupun putus cinta.

Nah, sebagai langkah awal, mari kita melihat apa itu Jatuh Cinta, cekidot:

JATUH CINTA

Menurut Profesor Universitas Syracuse, Stephanie Ortigue, yang mengadakan sebuah studi meta-analisis, jatuh cinta hanya memerlukan waktu sekitar seperlima detik. Setiap orang bisa dengan gampangnya jatuh cinta kepada seseorang yang pertama kali dijumpainya. Ini murni sebagai sebuah perasaan cinta dari Sang Pencipta yang menganugerahkan kita perasaan untuk saling mencintai.

Bahkan mereka yang sudah menikah konon bisa merasakan jatuh cinta lagi kepada pihak lain, yang bukan pasangan hidupnya. Apakah ini salah?! TIDAK! perasaan ini tidak salah sampai manusia yang bersangkutan memutuskan, apakah akan meneruskan perasaan ini ke tahapan yang lebih lanjut, atau tidak. Jika sudah berpasangan dan jatuh cinta lagi dan kemudian menjalin hubungan lagi, ini jelas merupakan sebuah DOSA besar yang mengingkari pernikahan tersebut. Mengenai pernikahan, itu bukan suatu ritual belaka untuk mengsahkan dua sejoli. Pernikahan dalam gereja Katolik adalah KUDUS dan merupakan  bentuk keterikatan dengan Kristus sendiri sebagai Kepala sesungguhnya dalam suatu keluarga. (Pembahasan lebih lanjut dapat diikuti di kelas TOB/ artikel lainnya).

Jatuh cinta adalah hal yang sangat indah karena hormon bahagia dalam diri manusia akan terlepas otomatis, hormon inilah yang membantu terciptanya rasa bahagia yang cenderung berlangsung tidak lama sampai hubungan tersebut masuk ke jenjang berikutnya. Beberapa hormon yang dimaksud adalah: Pheromones : bikin naksir seseorang, bikin ngelamun.. dan membayangkan dia terus, hormon Oxytocin : bikin kangennn, pengen liat orangnya bentar ajah, liat doang beberapa detik, hormon Vasopressin : bikin setia, “you know you are the only one..” dan hormon Norepinephrine : bikin semangat, hepi, ceria, bahagia, pengen senyum terus, jadi makin cantik/tampan. Sumber, silahkan klik

Jatuh cinta adalah proses awal bagaikan pintu utama untuk masuk ke dalam sebuah rumah, dimana rumah itu merupakan hati dari seorang gebetan .

Jadi, penting sekali untuk mengenali pintu ini. Apakah layak di buka dan dimasuki ataukah dianggap berlalu saja. Hal ini menjadi penting karena apabila langkah awal salah, maka dapat dipastikan jalan yang akan ditempuh bakal berliku dan panjang. Untuk itu perlu tetap logis dalam fase jatuh cinta agar tidak salah langkah.
Logisnya seperti ini: berdoa dan minta tuntunan Roh Kudus apakah yang bersangkutan layak dijadikan pacar atau teman doang, pelajari backgroundnya seperti apa, keluarganya bagaimana, tinggal dimana, bagaimana dia menghadapi masalah, bagaimana kesehariaannya, dll. Cara logis lainnya adalah berteman lebih lama dan lebih banyak dengan teman-teman gebetan untuk menilai calon pengisi hatimu. Jangan malah mabuk cinta dan terbuai mimpi yang malah akan menjauhkan kita dari realitas kehidupan.

Yang lagi jatuh cinta, jangan lupa berdoa ya.. dan bawa Tuhan dalam setiap keputusanmu.

Bersambung..... next Hubungan Cinta

Adiksi yang Perlu diwaspadai dan dihindari

Ditulis Oleh: Irse Wilis
Adiksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kecanduan atau ketergantungan secara fisik dan mental terhadap suatu zat/hal tertentu. Jika seseorang memiliki adiksi, manusia tersebut akan merasakan perasaan terikat yang pastinya TIDAK BEBAS. Manusia seperti robot dan menjadi hamba dari adiksi tersebut. Contoh kasus: Seseorang yang suka main gadget, akan mendewakan gadget tanpa disadarinya. Gadget jadi kebutuhan penting dan yang bersangkutan bisa uring-uringan tak jelas jika jaringan lemot, atau gadgetnya hang lantaran terlalu banyak aplikasi yang dijalankan. Pola perilaku agresif menjadi salah satu hasil akhir dari adiksi gadget. Saya pribadi pernah mengalami adiksi game yang parah sewaktu kuliah dulu. Hasil akhirnya, boleh ditanyain sendiri pada sahabat saya, yang mengakui bahwa tingkah laku saya menjadi aneh setelah kecanduan bermain game. Game yang saya mainkan saat itu adalah game online di aplikasi facebook. Saya bisa tahan duduk berjam-jam di depan laptop hanya untuk mendekor ruangan cafe maya tersebut. Saya sering marah ketika jaringan tiba-tiba lemot, dan nyaris melupakan doa harian yang sudah menjadi rutinitas saya. Dalam segala hal saya menjadi gampang marah, tidak sabaran dan cenderung mati rasa. Fisik sayapun menjadi terganggu, yaitu bahu kanan saya sering pegal jika terlalu lama memegang mouse.

Pengalaman saya di atas merupakan salah satu contoh kecil hasil akhir dari sebuah adiksi. Terlihat jelas bahwa adiksi itu tidak hanya merusak mental tapi juga dapat merusak fisik. Hal yang sama juga berlaku untuk jenis adiksi lainnya dimana, hasil akhir sebuah adiksi sudah pasti tidak akan berbuah manis, selalu ada efek negatif yang merugikan diri sendiri dan pada akhirnya akan berdampak negatif pada lingkungan dan sesama. Adiksi pornografi dan masturbasi contohnya, adiksi jenis ini tidak secara langsung berdampak negatif pada orang lain karena tidak berinteraksi langsung dengan manusia lainnya, namun apabila adiksi ini telah menahun, maka yang bersangkutan bisa terkena kerusakan jiwa yang tidak disadarinya. Hubungan seksual menjadi tidak terpuaskan lantaran telah terbiasa merangsang diri sendiri (masturbasi), sehingga perlu explore ke hal-hal lain agar dapat membangkitkan libido. Perilaku seperti ini, akan sangat mengganggu pasangan yang telah menikah. Hal ini termasuk dalam gangguan seksual sebagai salah satu buah dari adiksi pornografi atau masturbasi.

Adiksi tidak gampang hilang karena menyangkut kesenangan, yaitu sesuatu yang menyenangkan daging manusia. Semua manusia memiliki kelemahan di tubuhnya dimana ketika keinginan daging tinggi, maka suara kebenaran yang muncul dari hati nurani akan pelan-pelan menghilang tertutupi keinginan daging tersebut. Adiksi sangat berbahaya jika tidak segera ditinggalkan, karena adiksi membuat seseorang seperti kecanduan narkotika, yang membuat tubuh senang pada saat ini, namun akhirnya malah merusak tubuh dan bahkan bisa mengakibatkan kematian rohani yang ditandai dengan hilangnya kasih, hilangnya empati, simpati, dan menjadi mati rasa.

Di zaman sekarang ini terdapat berjuta godaan yang menghampiri kehidupan manusia. Iblis tidak hadir dalam bentuk yang menyeramkan. Dia hadir lewat sesuatu yang penampilannya baik namun tujuannya jahat. Sesuatu yang mengikat dan mengekang manusia sehingga manusia menjauhi terang dan lebih mendengarkan keinginan diri sendiri, lebih memilih hidup sendiri dibanding bersosialisasi dengan sesama manusia untuk berbagi pengalaman pahit dan manis dalam menjalani hidup ini.

Tidak akan ada pertumbuhan iman jika kita tidak keluar dari “keakuan” kita. Tidak akan ada terang yang menyinari dunia jika setiap orang hanya berada di dalam tempurung, karena kegelapan dunia sudah sangat pekat sementara anak-anak Tuhan sedang terlena dalam ikatan adiksi yang menimbulkan fantasi menyenangkan tersebut.

Saya teringat suatu quotes yang mengatakan bahwa, takut atau sungkan menolak sesuatu yang salah adalah langkah untuk menyetujui sebuah adiksi, maka tindakan mencoba-coba terhadap sesuatu yang tidak baik adalah suatu bentuk menyetujui kehidupan dosa yang sudah menanti di ambang pintu kehidupan kita. Ketika kita telah menyetujui kehidupan dosa, tentu hal ini akan membuat rahmat Tuhan menghilang dari kehidupan kita, damai dan sukacita akan pergi, karena kehidupan dosa akan menutup akses bahagia dan sukacita yang hanya terdapat dalam hubungan mesra dengan Allah sebagai sumber kebahagiaan sejati.

Jadi, marilah lebih bijaksana dalam menjalani hidup ini dalam memilih hal yang baik dan yang penting dalam hidup ini bukan hanya sekedar hal yang menyenangkan dan menyesatkan.

Kebahagiaan itu adalah milik semua orang, jadi jika Anda tidak bahagia jangan tanya mengapa, tapi lihatlah apakah ketidakbahagiaanmu itu merupakan hasil persetujuanmu; terhadap pilihan untuk tidak bahagia lewat adiksi atau perbuatan dosa lainnya

Marilah kita refleksikan hidup kita masing-masing.

Perempuan Seutuhnya

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Perempuan dikodratkan sebagai penolong kaum Adam. Apakah ini lantas berarti bahwa kita bebas menjadikan perempuan sebagai pembantu? Kan penolong identik dengan pembantu?

Perempuan adalah makhluk Tuhan yang indah sama seperti lelaki. Walaupun lemah dalam hal kekuatan fisik, namun perempuan mempunyai hati yang kuat jika dia mampu menyadarinya. Buktinya, banyak para janda yang membesarkan anaknya sendiri, banyak perempuan yang bisa bertahan dalam pernikahannya yang penuh dengan KDRT, banyak perempuan yang mampu memaafkan sekalipun tersakiti dengan teramat dalam, dan lain-lain.

Perempuan yang seperti itu mungkin kelihatan bodoh. Mengapa masih bertahan jika suami suka memukul? Mengapa bisa memaafkan kalo ternyata suaminya berselingkuh lagi? Kok bodoh kali ya?! Mungkin masih banyak yang menilai perempuan sebagai makhluk yang lemah dan bodoh. Meskipun sekarang ini emansipasi wanita sudah kuat berdengung, banyak perempuan tangguh yang sukses jadi entrepreneur dan banyak tokoh perempuan sukses lainnya, tidak serta merta menghilangkan opini publik tentang kerapuhan  seorang perempuan.

Perempuan membuat dirinya menjadi tidak berharga ketika perempuan tersebut hanya menjadikan tubuhnya sebagai objek kepuasannya sendiri. Hal-hal duniawi dikejar dan melupakan hal-hal surgawi yang seyogyanya menjadi sumber kekuatan dasar dalam diri seorang perempuan. Lihatlah Bunda Maria, betapa kuat dan suci hatinya. Kekuatannya berasal dari Allah, sehingga dia dipilih menjadi Bunda Penebus dunia. Kekuatan hatinya memampukan dia bertahan menghadapi kenyataan bahwa anaknya dibunuh dengan kejam. Hatinya tegar sekalipun keinginan hatinya mungkin bertentangan dengan kehendak Tuhan. Ibu mana sih..? yang rela melahirkan dan membesarkan anak kalo toh ujungnya akan dibunuh demi penebusan manusia? Seorang ibu pasti memiliki harapan untuk bisa hidup dan tinggal lebih lama dengan anaknya dan melihat anaknya tumbuh dewasa dan beranak cucu (maksud dari keinginan hati yang bertentangan dengan kehendak Tuhan). Tapi Bunda Maria sungguh menghadirkan Allah dalam dirinya sehingga dia mampu memikul salibnya dengan melahirkan, membesarkan dan menerima kembali jasad Yesus di pangkuannya. Inilah contoh kerendahan hati, ketaatan yang penuh pada kehendak Tuhan sehingga hidup Bunda Maria sungguh kuat dan tegar.

Sebagai perempuan yang dikodratkan untuk menjadi seorang penolong, hendaknya setiap perempuan sadar bahwa menjadi perempuan adalah menjadi penolong bukan menjadi pemimpin (dalam konteks kehidupan berumah tangga). Penolong tidak sama dengan pembantu. Penolong adalah seseorang yang memiliki kesetaraan dengan pihak yang ditolongnya. Penolong melengkapi kekurangan dan kelebihan orang yang ditolongnya, sehingga penolong ini merupakan suatu hal yang penting yang tidak bisa terlupakan apalagi terabaikan. Karena tanpa penolong, maka Adam sama seperti Adam yang pada mulanya hanya seorang diri dan tidak memiliki penolong yang setara dengannya. Penolong memiliki sifat yang setia untuk tetap mendampingi karena ketergantungan dengan pihak yang ditolong. Penolong juga akan bertahan sekalipun pihak yang ditolongnya mengacuhkan atau mengabaikan dirinya, karena penolong memiliki kasih yang besar kepada pihak yang ditolongnya.

Jadi, emansipasi wanita bukan berarti mendorong setiap perempuan untuk bertingkah diluar kodratnya dengan menjengkali kaum Adam, seakan-akan kuat berdiri sendiri; tanpa Adam sang pemimpin yang menjadi wakil Kristus di dunia ini. Wanita yang terlalu independen akan mengakibatkan dirinya terluka sendiri karena mengikari sebuah kenyataan bahwa dia membutuhkan pemimpin yang mampu menolong dia ketika dia sedang lemah dan jatuh.

Baik laki-laki atau perempuan tidak akan mampu berdiri sendiri tanpa kerjasama diantara keduanya. Karena persekutuan antara keduanya merupakan tanda kehadiran Allah yang menghidupkan, menguatkan dan memberi harapan bagi manusia lainnya. Karena Allah sungguh hadir di dalam diri laki-laki atau perempuan yang taat kepadaNya.

Jika ingin keluar dari opini publik yang menjatuhkan harkat dan martabat perempuan, sudah seharusnya para perempuan kembali ke kodrat asalnya sebagai penolong yang menghidupi Kristus dalam kehidupannya sehari-hari. Kristuslah yang akan menuntun perempuan menjadi seperti bundaNya yang kuat dan setia kepada Allah; sehingga mampu bertahan meskipun badai kehidupan begitu kuat menerjang.

Lelaki yang Seutuhnya

 Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Masih menyangkut pembahasan di rumah makan keluarga yang saya ceritakan kemarin, paman saya mulai bercerita tentang pertualangan cintanya. Mendengar ceritanya, membuat mata saya berbinar-binar seolah melihat sebongkah berlian murni. Indah! dan Kuat!

Paman saya terlahir di keluarga yang sangat sederhana. Sebenarnya, mereka adalah keluarga yang sangat kaya. Namun karena kebiasaan judi, maka kakek dan nenek saya jatuh ke dalam kemiskinan. Kepahitan menjadi menu dalam kehidupan mereka sehari-hari. Makan saja susah, boro-boro dapat beli baju baru dan sepatu baru untuk sekolah. Mama saya adalah anak kelima dari sembilan bersaudara. Dia termasuk generasi yang sudah merasakan pahitnya mencari uang. Mama saya tidak tamat SD lantaran mesti hemat dan harus lebih mengutamakan pendidikan buat adik-adiknya yang masih muda. Salah satunya, yah.. paman saya ini.

Paman saya anak ke delapan. Anak bungsu cowok yang sangat bandel, urakan dan tidak bersahaja. Masa mudanya dihabiskan dengan bekerja serabutan, kerja di bengkel, jadi nelayan, apapun dikerjakannya untuk menghasilkan uang. Paman saya sosok lelaki yang tangguh. Semangatnya tinggi, jiwa kepemimpinannya tinggi dan bisa diandalkan.

Saat dia melamar tante saya, saat itu dia belum mapan. Banyak saudara yang mendukung dia dan mulai mengumpulkan uang untuk membuka usaha bagi si bungsu ini. Paman saya sadar betul bahwa kehidupan menikah itu tidak gampang, sehingga dia tidak buru-buru menikah dengan tante saya. Dengan tegas dan jelas dia mendoktrin tante: “Kalau lu mau nikah sekarang, saya belum sanggup ya, karena saya mesti cari uang untuk kehidupan kita setelah menikah nanti”, demikianlah sebagian kisah cinta mereka, yang penuh penantian namun pada akhirnya berujung pada pernikahan yang bahagia.


Melihat paman saya tercinta saya teringat akan cerita di kitab kejadian yang menuliskan bahwa laki-laki diciptakan secitra dengan Allah (Kejadian 1:27a Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya) . Dia adalah manusia pertama yang mempunyai nafas kehidupan langsung dari Allah di dalam dirinya. (Kejadian 2:7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup). Sedangkan wanita, adalah manusia yang menerima nafas hidup Allah yang disalurkan oleh Adam.

Karena menerima langsung dari Allah, maka setiap laki-laki harus memunculkan karakter Allah dalam kehidupan sehari-hari supaya kehidupannya lebih bahagia dan maksimal. Jika tidak, maka daya tahan manusia itu akan terbatas karena tanpa kasih Allah, seorang manusia tidak akan sanggup melewati lautan penderitaan yang ada di dunia ini.

Laki-laki yang berkarakter Allah adalah mereka yang menjalin hubungan mesra dengan Allah, sehingga keduanya dapat bersatu. Ketika laki-laki telah bersatu dengan Allah maka laki-laki itu dapat memancarkan yang tidak kelihatan (Allah) dalam tubuhnya yang kelihatan nyata. Seorang lelaki sejati akan berperan sesuai kodratnya untuk menciptakan, menguasai dan memelihara segala yang dititipkan Allah pada dirinya.

Contoh: jika seorang laki-laki memiliki seorang istri, maka laki-laki tersebut wajib menghadirkan Kristus dalam keluarga mereka, agar Kristus meraja diantara mereka, sehingga setiap pergumulan dan masalah dalam kehidupan rumah tangga, akan dapat dilewati dengan mengandalkan kacamata iman. Jika Kepalanya baik dan berfungsi maksimal maka dapat dipastikan anggota keluarga lainnya akan turut memancarkan kasih Kristus bagi dunia ini.

Laki-laki sejati tidak akan mudah menyerah karena karakter Allah yang kuat ada dalam diri setiap laki-laki. Laki-laki yang sebenarnya akan mampu bertahan mengarungi samudera walaupun hanya bermodalkan kapal butut dan kompas. Karena Allah yang ada dalam dirinya akan membuat sejuta ide brilian dalam otaknya sehingga mampu untuk bertahan hidup.

Laki-laki sejati akan menjaga dan memelihara sama seperti Allah menciptakan kehidupan dan memelihara kehidupan itu sampai sekarang, demikian seorang lelaki akan mampu menjaga keluarganya tak kala ancaman dan marabahaya mengancam, dan serta mampu memelihara keluarganya dengan semangat mencari uang demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Laki-laki sejati tidak akan merusak diri demi kenikmatan sesaat karena dia sadar betul memegang peran penting dalam sejarah kehidupan manusia. Laki-laki adalah wakil Kristus yang mengepalai segala jenis makluk hidup. Makanya, kepemimpinan dalam gereja Katolik kebanyakan pria adalah karena pria adalah citra Allah yang nyata. Sementara wanita hanya sebagai penolong bagi pria. (Kejadian 2:18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia). Bukan membedakan tinggi rendahnya derajat antara laki-laki dan perempuan, yang mau saya sampaikan adalah perbedaan dari sisi kodratnya.

Laki-laki adalah makhluk yang indah dan sangat sempurna jika dia mampu menghadirkan Kristus dalam hidupnya sehari-hari. Dia akan menjadi harapan ketika segala sesuatu tampak tidak ada harapan. Karena Laki-laki sejati sama seperti Kristus yang membawa harapan bagi semua yang percaya kepadaNya. Laki-laki yang berkarakter Kristus akan mampu memberi terang ketika kegelapan melingkupi keluarganya. Laki-laki yang berkarakter Kristus BUKAN BERARTI yang bersangkutan sama dengan Kristus. Karena Tuhan Yesus Kristus cuman satu dan lelaki yang menyerupai Dia adalah para wakilNya yang bertugas untuk menjaga dan memelihara kehidupan ini.

Laki-laki di zaman sekarang ini kebanyakan tidak memancarkan Kristus. Mereka berjuang sendiri tanpa menghadirkan Kristus dalam keluarganya. Sehingga dapat dilihat sendiri betapa banyak keluarga muda/lelaki single yang hidupnya berantakan lantaran menganut pola hidup seperti itu. Karena tanpa Kristus, manusia ibarat katak yang terus menerus mengisi perutnya dengan air, dimana suatu ketika air itu akan meledakkan perutnya yang sudah pasti terbatas dalam menampung cairan. (Tuhan memberikan pertimbangan yang baik dalam hati dan pikiran manusia, sehingga membantu manusia untuk lebih bijak dalam menjalani hidup, tanpa Tuhan maka kelakuan manusia tersebut ibarat seekor katak).

Laki-laki pada dasarnya tidak jahat. Banyak faktor yang menjadikan seseorang itu menjadi jahat. Namun ketika dia memilih untuk tidak melakukan kejahatan, maka dia sedang berproses untuk menjadi lelaki sejati yang sesuai dengan kodratnya. Laki-laki yang ideal adalah para lelaki yang secitra dengan Kristus yang tindak tanduknya sesuai dengan kodratnya sebagai manusia yang menerima mandat Tuhan  sebagai wakilNya di dunia ini.

Wahai lelaki.. sadarilah bahwa Anda begitu berharga.

Serba Serbi Kehidupan Single(Jomblo) dan Selibat

 Ditulis Oleh: Irse Wilis
Bukan hal yang basi bagi seorang perempuan berusia 30 tahun atau lebih 30 tahun, pas ketemu sodara pasti ditanyain..”Lo kapan merid?”. Ya ampun di zaman canggih gini, masih ada aja ya orang kepo yang ngurusin kehidupan orang?! , berusaha menghibur diri walopun dalam hati pasti sebalnya setengah mati.

Begitulah sebagian cerita dari para jomblo yang merasa tertekan dengan status kejombloannya. Di tulisan ini, saya mau berbagi cerita tentang diri saya yang menurut orang-orang saya adalah seorang jomblo abadi.

Kisah ini bermula saat saya lagi ngumpul dengan sodara-sodari saya, tepatnya paman saya yang lagi jalan-jalan ke kota Medan. Kami ngumpul di salah satu restoran keluarga yang baru opening bulan Desember 2015. Di rumah makan ini kami tertawa cekakak cekikik melepas kerinduan setelah sekian lama tak bersua. Maklum lah, saya jarang pulang kampung lantaran ongkos mahal sementara gaji masih pas-pasan.

Entah bagaimana paman saya tercinta mulai menginterogasi saya, “Win, kapan lo nikah?” tanyanya dengan wajah penasaran, saya yang sok alim tersenyum manis menjawab: “Gak akan deh paman..soalnya jodoh saya tuh di surga”, masih berusaha tenang walo dalam hati sudah mulai timbul percikan api, ibarat api yang berasal dari korek mancis.

“Lo gak takut jadi perawan tua? Si cece X aja uda nikah lo, dan sekarang dia ada yang jagain, ada teman hidup, gak kesepian lagi..mengapa lu gak seperti dia aja? Tanya paman dengan sedikit menasehati. Saya yang mulai kebakaran jenggot jadi terpancing untuk berceramah di malam yang berbahagia itu, “Paman, jalan hidup setiap orang beda-beda loh! Ada yang emang terpanggil untuk hidup berkeluarga dan ada yang memilih untuk selibat”, jawabku seolah menggurui pamanku sendiri. “Jadi, lu mau jadi suster ya? Aduh, sayang banget ya...” sahut paman yang kemudian dilanjutkan dengan perdebatan panjang soal hidup menikah dan hidup selibat.

Menjadi single buat saya adalah saat yang tepat untuk mengisi tangki cinta saya dengan cinta Tuhan. Saat sendiri, saya seperti emas yang dilebur dengan berbagai masalah kesendirian, misalnya: sendiri menanggung kelaparan ketika uang sudah menipis karena keasyikan shoping, makan dan tidur sendiri tanpa ada yang nemenin, kerja sendiri membersihkan rumah tanpa ada yang bantuin, berangkat dan pulang kerja sendiri tanpa ada yang jemput, tertekan karena masih sendiri, malu karena masih sendiri, ke pesta sendirian rasanya sesuatu banget, ibarat kucing yang berada dalam kawanan Harimau yang siap-siap menelan si kucing, dan masalah lainnya.

Melalui perasaan dan masalah yang kurang nyaman tersebut, saya dibentuk menjadi emas murni karena masalah-masalah di waktu sendiri pasti akan muncul setelah kita menikah/hidup selibat. Masalah sewaktu single membentuk saya menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam berpikir dan bersikap sehingga membuat saya semakin mengerti arah dan tujuan hidupku.. Tidak semua orang loh bisa menerima kesendiriannya. Banyak yang menjadi jomblo ngenes dan akhirnya terpaksa nikah karena umur sudah hampir expired (dalam hidup bekeluarga).

Ajaran teologi tubuh oleh St.Yohanes Paulus II banyak mengubah konsep pemikiran saya soal single. Single bukan suatu kutukan melainkan suatu anugerah, suatu kesempatan untuk berbenah diri menjadi seseorang yang siap untuk dicintai dan mencintai. Harus memenuhi diri sendiri dulu dengan cinta yang melimpah, barulah terjun ke percintaan yang sesungguhnya. Bagi single yang memilih untuk selibat, perlu disadari bahwa kehidupan selibat itu bukan karena takut kawin (trauma), bukan karena tidak laku, bukan sebagai topeng untuk menyembunyikan sesuatu. Kehidupan selibat adalah karena kesadaran bahwa diri ini menjadi pengantin perempuan milik Yesus sang mempelai lelaki sejati. Jadi,dalam kehidupan selibat prinsip perkawinan tetap berlaku.

Sekilas tentang prinsip perkawinan (karakteristik cinta) adalah: Bebas, Setia, Total dan Berbuah. Selibat yang bebas adalah seseorang yang tidak terikat oleh hal apapun yang mampu bergerak bebas untuk melakukan hal (kehendak, pikiran dan tindakan) yang baik. Bebas yang dimaksud bukan bebas yang lepas dari tanggung jawab melainkan kebebasan dalam melakukan kehendak baik. Contoh jomblo yang ingin menjadi misionaris akan bebas dari perasaan bersalah karena meninggalkan keluarga untuk menjadi pewarta Firman di mana dia ditempatkan, sementara jika dia merasa takut untuk meninggalkan keluarga berarti dia belum bebas dalam memutuskan dan melakukan kehendak baik yang diinginkan Allah. John Paul II said: “freedom consists not in doing what we like, but in having the right to do what we ought”

Selibat yang setia adalah seseorang yang komit dan konsisten melakukan sesuatu yang diinginkan yang selaras dengan hakikatnya sebagai manusia yang secitra dengan Allah. Ada perjuangan yang harus dilakukan guna bertahan sampai akhir. Contoh: seseorang yang ingin menjadi pewarta Firman akan berusaha mengisi dirinya terus menerus dengan ilmu dan cinta Tuhan, di dalam kehidupan setiap hari membawa misi Tuhan walaupun mungkin penolakan dan caci maki harus diterimanya. Sebaliknya jika, seseorang dengan mudah berbalik arah ketika dia mengalami masa pemurnian maka prinsip setia tidak ada dalam hidupnya.

Selibat yang total adalah sesorang yang memberikan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan yang dicintaiNya. Tidak ada yang tersembunyi yang tidak diberikannya kepada Tuhan yang dicintai. Contoh: seseorang yang rela mengabdikan diri demi terselenggaranya sebuah acara yang berhubungan dengan kemuliaan nama Tuhan. Tidak ada hitung-hitungan waktu, materi dan tenaga yang dicurahkan demi terlaksananya acara tersebut. Sementara jika seseorang masih memberlakukan kalkulator untuk menghitung untung dan rugi, maka dimana letak totalitasnya?!

Selibat yang berbuah adalah seseorang yang menghasilkan buah dari hasil kehidupannya bersama Tuhan. Bisa dalam bentuk karya, anak,saudara/saudari rohani, atau sesuatu yang berguna bagi kehidupan orang lain yang merupakan ciptaan Tuhan (misalkan:rumah singgah untuk anak jalanan, rumah retret, gedung serba guna, dll). Sementara jika seseorang tersebut tidak menghasilkan buah-buah rohani berarti selibat yang dilakukannya bukan untuk Tuhan dan lebih cocok jika dia disebut single/jomblo tanpa embel-embel selibat.

Jadi, sudah jelas bahwa kehidupan selibat bukan seperti kehidupan orang-orang yang memilih hidup sendiri untuk dirinya sendiri. Contoh dari kelompok single dan tidak selibat adalah: para single fighter, tidak menikah, yang bekerja giat, sebagian workholic, menikmati hidup sebagai motto hidupnya yang nampak dari hobi jalan-jalan, shoping kemana saja sesuai keinginan pribadi. Kelompok inilah yang sering dikategorikan sebagai jomblo ngenes. Mengapa? Karena mereka sebenarnya melarikan diri dari kenyataan hidup, berusaha menghindari sesuatu yang buruk dengan jalan mengingkari keinginan hati untuk menikah. Mereka yang berada dikelompok ini rentan dengan penyakit depresi dan stres karena kehidupan sendiri tanpa berbagi dengan orang lain hanya akan membuat diri sendiri menjadi sakit dan terluka. Karena hakikat manusia adalah memberi dan menerima cinta, jadi; jika tidak seimbang maka KETIDAKBAHAGIAANLAH sebagai hasil akhirnya.

Selibat sendiri terdiri dari dua yaitu: selibat awam dan selibat religius. Selibat awam adalah seperti yang saya ceritakan di atas, sedangkan selibat religius adalah para kaum berjubah yang terikat pada suatu ordo/tarekat, yang menjalankan visi dan misi tempat mereka mengabdikan diri. Mereka adalah para imam, suster, frater dan bruder. Jadi, dalam kehidupan selibat seseorang menyadari betul akan hakikat perkawinan surgawi yang mempersiapkan dirinya seutuhnya untuk dipersembahkan kepada mempelai lelaki yaitu Yesus Tuhan Raja yang sejati. Setiap kaum selibat tidak hidup untuk dirinya sendiri melainkan hidup bersama dengan mempelai lelakinya dalam membina kehidupan rumah tangga seperti yang dikehendaki bersama. Jadi, selibat TIDAK SAMA dengan jomblo yang hidup untuk dirinya sendiri.

Malam itu, saya dan paman tidak membahas detail tentang kehidupan selibat, karena dari mereka sendiri merasa sudah mengenal kehidupan selibat itu seperti apa. Obrolan kami dilanjutkan dengan sejarah percintaan paman dan tante yang ideal menurut saya, dan akan saya bahas di tulisan lainnya.

Jadi, jangan pernah mengisi kesendirian kita dengan tangki cinta yang kosong karena, jika tangki kita kosong, dimanakah letak kelayakan kita untuk menjadi pasangan?

Hal yang Terlupakan di Zaman Sekarang Ini

 Ditulis Oleh: Irse Wilis

Waktu saya remaja, tindakan bully tidak begitu sering terjadi karena anak-anak pada zaman saya memiliki kehidupan sosial yang baik. Interaksi dengan sesama manusia begitu terasa nyata dan akrab. Berbagai permainan kampungpun menjadi sarana pembentukkan psikologi yang manusiawi karena berhubungan dengan kerjasama, kekompakkan, pertemanan, kompetisi, dan hiburan. Contoh permainannya: kelereng, congklak, ular tangga, layangan, dsb.


Berbeda dengan anak zaman sekarang yang kurang berinteraksi dengan sesama manusia. Terutama di lingkungan keluarga aristokrat yang mana papa dan mama sibuk bekerja seharian, demi mengumpulkan harta yang berlimpah. Manusia mengalami gangguan psikologi entah karena terlalu dikekang (kasih berlimpah) atau karena kurangnya perhatian dan kasih dari keluarga. Rata-rata masalah kenakalan remaja terjadi karena KASIH yang tidak seimbang yang dialami oleh remaja yang bersangkutan.

Pelaku bully juga memiliki masalah yang sama, akibat kekurangan atau kelebihan kasih yang diperolehnya, sehingga mendorong mereka untuk berperilaku TIDAK MANUSIAWI terhadap sesama manusia. Dan korban bully pun perlu dinilai apakah memang terlihat sebagai manusia sejati atau malah terlihat seperti manusia yang lemah, yang menjadi sasaran empuk para PENCARI JATI DIRI dengan cara yang salah.

MANUSIA remaja perlu dibina agar kedepannya tidak semakin salah langkah. Perlu kembali berinteraksi dengan sesama manusia, untuk mengfungsikan kembali saraf-saraf kemanusiaan yang telah rusak akibat ketidakseimbangan kasih. Untuk itu, perlu wadah pertemanan yang tepat untuk menjadi manusia yang berkarakter KUAT.

Komunitas di kalangan gereja, hadir untuk menjadi tempat bertumbuh di dalam iman kepada Yesus Kristus, seorang Pribadi yang berkarakter KUAT, yang bisa MENGAMPUNI ketika ditolak, dihina, disiksa, disakiti, yang bisa BERTEMAN dengan siapa saja, dan tidak hanya berteman dengan para petinggi saja, buktinya: Yesus berteman dengan semua orang..!!! yang sakit, yang miskin dan yang berdosa (pemungut cukai, perempuan samaria, dll, yang penuh KASIH terhadap semua yang ada di dunia ini.

Manusia ketika kehilangan cinta.. akan berusaha mencari cinta, entah itu cinta murahan (jual diri), cinta yang menghanguskan (pertemanan, pacaran, hubungan yang tidak sehat), cinta yang salah (homoseksual), cinta yang aneh (kekerasan, bully,dll). 

Ketika Saya dan Anda mencari-cari cinta...mengapa tidak datang ke sumber cinta aja? Daripada repot berjalan kesana kemari tidak ada tujuan...?

1 Yohanes 4:8: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih”. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah itu kasih. Allah itu sumber cinta, jadi..kalau mencari cinta sejati, carilah wajah Allah! Karena cinta yang Dia janjikan nampak jelas dalam ayat ini: Yohanes 6: 35 “Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup ;  barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya  kepada-Ku, ia tidak akan haus  lagi.
Yesus berjanji akan memuaskan kita dengan cintaNya. Kita tidak akan kekurangan cinta, ketika Yesus hadir nyata dalam hati, pikiran dan perbuatan kita setiap harinya. Tangki cinta kita akan penuh bersama dengan Yesus.

Untuk mengenal cinta, tangki cinta, cinta cintaan dan seksualitas manusia dalam balutan teologi, mari mengenal dan memahami serta mempraktekkan ajaran teologi tubuh (TOB) yang digagaskan oleh St. Yohanes Paulus II.