Analogi Rujak Dalam Kehidupan Manusia

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Rujak adalah makanan yang pas jika dikonsumsi disaat hari terasa terik dan gerah. Rujak banyak jenisnya, namun jenis yang sangat familiar adalah rujak manis, dimana bumbunya terdiri dari kacang goreng, gula merah, buah sirsak, dan cabe rawit. Walaupun rujak banyak jenisnya, namun satu hal yang sama diantara semua jenis rujak ini adalah memiliki berbagai jenis buahan. Ada yang manis, seperti jambu, pepaya, semangka, melon dan ada yang asam seperti nenas, mangga, kendondong, belimbing, dan lain sebagainya.

Melihat seporsi rujak mengingatkan saya kepada sosok manusia yang memiliki banyak mood, perasaan, sikap dan sifat. Manusia tidak pernah sama, tidak pernah ada yang abadi dalam diri manusia karena semua yang ada dalam diri manusia cenderung dinamis dan berubah-ubah. Semenit bisa tertawa, menit berikutnya bisa marah dan menit berikutnya bisa bahagia lagi. Banyak kejadian yang terjadi dan bisa mengubah kondisi kejiwaan/perasaan seseorang.

Jika seorang manusia diibaratkan seperti sepiring rujak, berarti seorang manusia sudah seharusnya terdiri dari berbagai jenis sifat, sikap dan perilaku; dan hendaknya kita sebagai sesama manusia, mampu menikmati rujak tersebut (lebih toleran terhadap perbedaan yang ada). Karena, sama seperti sepiring rujak yang tidak akan enak jika terdiri dari satu jenis buah doang (misalkan buah manis doang), begitu juga seorang manusia yang tidak akan pernah manis (sikap/tindakan) selamanya. Ada saatnya, manusia menjadi sedih, gelisah, semangat, putus asa, bahagia, marah, kecewa, dan lain-lain. Sebagai bagian dalam masyarakat yang majemuk hendaknya perilaku orang lain, tidak menjadi bensin yang membakar habis semua kebaikan dalam diri kita.

Jangan biarkan keburukan orang lain mengotori niat baik kita untuk berteman dan bersosialisasi dengan siapapun. Marilah lebih toleran terhadap perbedaan sikap, sifat dan perilaku manusia lainnya; sebagai sebuah warna warni yang indah di dalam kehidupan ini.

Marilah menikmati sepiring rujak dengan berbagai rasa buah yang terkandung di dalamnya yang pastinya akan menambah kenikmatan, ketika bumbu rujaknya (kasih dalam diri kita) melimpah ruah dan menenggelamkan berbagai jenis rasa asam, manis, dan asin tersebut.

Ketelanjangan Asali (Original Nakedness)

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Selain aspek kesendirian asali dan kebersatuan asali; manusia masih memiliki aspek ketiga sebagai akhir dari kisah penciptaan dalam kitab kejadian 2; dimana manusia memiliki aspek ketelanjangan asali. Kejadian 2:25: …Mereka, keduanya telanjang, manusia dan istrinya itu, tapi tidak merasa malu”.
Santo Yohanes Paulus 2 merefleksikan kata telanjang dan tidak merasa malu dan menemukan suatu pengertian baru tentang tubuh manusia yang sungguh agung dan ilahi. Tubuh manusia sangat indah dan berharga dimana manusia pada awalnya melihat sesamanya sebagai subjek, lebih melihat ke pribadi seorang manusia sehingga menjadikan keduanya tidak merasa malu.

Berbeda halnya jika manusia memandang sesamanya sebagai objek maka, pasti akan tersirat rasa malu karena salah satu pihak akan merasa dimanfaatkan dan dijadikan sebagai objek/alat pemuas nafsu bagi manusia lainnya. Manusia awalnya diciptakan tidak seperti itu, manusia awalnya diciptakan dengan sempurna dan mampu melihat manusia lainnya sebagai subjek; sehingga tidak ada perasaan malu karena keduanya sungguh memiliki pesona yang indah yang patut untuk disyukuri dan dihargai.

Namun, karena dosa yang dilakukan oleh manusia pertama; manusia pada zaman sekarang ini tidak mampu bersikap dan bertindak seperti aspek ketelanjangan asali ini. Setiap manusia selalu melihat objektif terhadap sesamanya, sehingga hal ini menimbulkan kejahatan serius dan membuat manusia gagal untuk menampilkan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Dosa membuat manusia melupakan aspek ketelanjangan asali, sehingga lewat teologi tubuh yang digagaskan oleh Santo Yohanes Paulus 2; manusia diharapkan kembali sadar akan hakikatnya sebagai manusia yang secitra dengan Allah, dan berusaha untuk memandang seseorang sebagai subjek dan bukan sebagai objek/barang. Sehingga diharapkan agar tubuh sesama dipandang sebagai sesuatu yang agung dan ilahi karena; merupakan cerminan kehadiran Allah di dunia ini.

Aspek ketelanjangan asali ini tidak membenarkan nudisme yang suka bertelanjang bulat di depan umum. Karena manusia zaman ini sudah tercemar dosa sehingga cenderung memandang sesama manusia sebagai objek, sehingga dengan budaya nudisme malah membuat dosa semakin bertambah banyak; karena tubuh tidak dihargai dan dicemarkan dengan dipertontonkan di hadapan publik seperti sesuatu yang tidak berharga.

Manusia awalnya adalah telanjang karena tidak tercemar dosa, berbeda dengan manusia setelah pengusiran dari taman Eden, dimana manusia sudah tercemar dosa, sehingga ketelanjangan setelah keberdosaan ini akan membuka pintu dosa lainnya (jika manusia tidak kembali ke aspek ketelanjangan asali). Kita yang hidup di zaman sekarang ini perlu menyadari akan aspek ketelanjangan asali untuk mencegah dan mengurangi dosa akibat penyalahgunaan tubuh manusia; sehingga setiap kita diharapkan mampu untuk melihat manusia lainnya sebagai pribadi yang memiliki Allah dalam dirinya masing-masing (memandang manusia sebagai subjek).

Demikianlah ketiga aspek dasar penciptaan manusia di dunia ini oleh Sang Pencipta (Allah) yang menjadikan manusia sungguh unik, berharga, agung dan ilahi sehingga, sudah sepantasnya untuk dicintai bukan untuk digunakan demi kepentingan diri sendiri.

Marilah menjadi manusia seutuhnya seperti rancangan yang telah ditetapkan Allah bagi diri kita masing-masing sebagai manusia yang memiliki tubuh.

Kebersatuan Asali (Original Unity)

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Setelah Allah menempatkan manusia di tengah taman Firdaus tersebut, TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Ketika manusia melihat alam di sekitarnya dan tidak menemukan suatu makhluk yang sepadan dengan dia; Allah yang mengetahui isi hati manusia tersebut menjadikan penolong bagi manusia pertama tersebut. Mulai dari ayat 21-24 (Kejadian 2:21-24), diceritakan bagaimana manusia kedua tercipta dan merupakan bagian dari manusia yang pertama -> Kejadian 2:23" Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.".


Manusia pertama yang dinamakan Adam melihat manusia kedua tersebut sebagai seseorang yang memiliki pesona, dan mampu melengkapi kesendiriannya, sehingga pada Kejadian 2:24: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”. Karena rasa ketertarikan itu, maka Adam memiliki hasrat untuk bersatu dengan hawa sesuai dengan apa yang difirmankan Tuhan pada Kejadian 2:24.

Atas dasar kisah inilah, Santo Yohanes Paulus 2 menegaskan bahwa dalam diri manusia terdapat keinginan untuk bersatu dengan orang lain. Karena dalam kebersatuan tersebut manusia akan berhasil memperlihatkan apa yang tidak kelihatan; artinya manusia mampu menampilkan Allah ketika kedua manusia tersebut bersatu. Santo Yohanes Paulus II mengatakan: “…manusia menjadi sebuah gambar Allah baik dalam saat-saat kesendirian maupun dalam saat persatuan…” (TOB 9:3; 14 Nopember 1979).

Tidak ada seorang manusiapun yang mampu hidup sendiri tanpa kehadiran manusia lainnya; karena jika manusia terus menerus sendiri dan tidak bersosialisasi dengan manusia lainnya, maka dalam diri yang bersangkutan akan mengalami masalah yang berdampak pada pola perilaku yang tidak lazim; yang jauh dari karakter manusia awal; yang telah dirancang dan diciptakan Allah untuk hidup bersama dengan manusia lainnya.

Karena aspek kebersatuan asali inilah, makanya manusia senang dan selalu berhasrat untuk berkumpul dan bersama dengan manusia lainnya; karena lewat kebersamaan dan kebersatuan dengan orang lain, Allah sungguh hadir dan menjadi pemersatu diantaranya. Aspek kebersatuan asali juga erat kaitannya dalam hubungan persetubuhan antara pria dan wanita yang harus menghadirkan Allah; dengan cara menjadikan tindakan tersebut sebagai sesuatu yang kudus (sadar akan makna dan tujuan) dan bukan sebagai ajang untuk mengumbar nafsu.

Demikianlah aspek kebersatuan asali sebagai salah satu aspek dasar manusia dalam hidup di dunia ini; yang tidak pernah bisa sendiri dan cenderung memiliki ketertarikan untuk bersatu dan bersama dengan manusia lainnya.

Bersambung...ke aspek ketiga yaitu Ketelanjangan Asali...

Kesendirian Asali (Original Solitude)

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Dalam Teologi Tubuh yang digagaskan oleh Santo Yohanes Paulus 2, memuat 3 aspek penting dalam diri seorang manusia yang menjadi dasar penciptaan manusia tersebut di dunia ini. Ketiga aspek yang dimaksud adalah kesendirian asali (original solitude), kebersatuan asali (original unity) dan ketelanjangan asali (original nakedness) [1].

Sebelum membahas ketiga aspek di atas, kita akan melihat bagaimana Santo Yohanes Paulus II pada awalnya; ketika membaca dan merenungkan Injil Matius 19:8 yang berbunyi: Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian”. Santo Yohanes Paulus II merenungkan tentang kalimat terakhir dari ayat tersebut, yang membawanya memasuki kisah penciptaan dunia pertama sekali untuk mencari tau apa arti sejak semula tidaklah demikian.

Dalam Kitab Kejadian pasal 1 dan 2 merupakan gambaran kisah penciptaan dunia pertama sekali oleh Allah yang maha Agung. Dalam dua versi kisah penciptaan tersebut, Santo Yohanes Paulus 2 melihat betapa sempurnanya hasil ciptaan Allah pada awal mulanya, sehingga benarlah yang Yesus katakan bahwa sejak semula tidaklah demikian. Mari kita lihat dan baca Kitab Kejadian pasal 1 (1:1-31) klik dan dilanjutkan pasal 2  (2:1-25) klik

Dalam pasal 1 dari Kitab Kejadian diceritakan tentang kisah penciptaan dunia dan segala isinya mulai dari hari pertama sampai hari yang terakhir. Pada ayat ke 27 (Kejadian 1:27), Allah mulai membentuk manusia secitra dengan Dia. Kisah penciptaan manusia lebih detail di jelaskan di pasal kedua dari Kitab Kejadian mulai dari Kejadian 2:7 “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Manusia pertama kali dibentuk adalah seorang diri saja. Kemudian lanjut ke ayat berikutnya, dimana Allah menempatkan manusia pertama itu di tengah taman hasil ciptaanNya yang sempurna (Kejadian 2:15).

Pada bagian awal kisah penciptaan ini, Santo Yohanes Paulus 2 menangkap makna bahwa manusia memiliki aspek kesendirian asali dimana manusia itu diciptakan pertama sekali dalam keadaan sendiri dan istimewa, karena merupakan gambaran rupa Allah dan memiliki nafas kehidupan Allah dalam dirinya. Seorang manusia akan memiliki sisi kesendirian yang masih terbawa sampai saat ini, di dunia modern sekarang ini. Contohnya, seorang aktivis kampus yang gemar kegiatan sosial dan organisasi begitu menyukai kegiatan yang padat, aktif dan memiliki banyak teman akan membutuhkan suatu waktu dalam hidupnya, untuk menyendiri dan jauh dari kebisingan dan aktivitas rutinitasnya. Dalam diri manusia tersimpan sisi kesendirian yang erat kaitannya dengan aspek lahiriah yang merupakan dasar penciptaannya yang memang pada awalnya diciptakan sendiri.

Lebih jelasnya, dapat terlihat dalam diri seorang manusia yang terdampar di suatu pulau/tempat karena suatu bencana/kecelakaan, maka manusia tersebut akan mampu bertahan hidup sendiri karena dibekali dengan aspek kesendirian asali yang istimewa yang berbeda dibanding makhluk lainnya yang menjadikan manusia tersebut mampu bertahan hidup meskipun dalam keadaan seorang diri.

Dalam aspek pertama ini, Santo Yohanes Paulus 2 menemukan salah satu dasar manusia yang kiranya akan mampu membuat kita mengerti, mengapa dalam kehidupan ini terkadang kita merasa berada dalam kesendirian, menyukai kesendirian, yang semuanya itu pertanda bahwa diri kita sedang membutuhkan sesuatu untuk menghilangkan rasa kesendirian tersebut. Maka aspek kedua setelah kesendirian asali adalah kebersatuan asali.

Bersambung...

Sumber:
[1] Penjelasan ini disarikan dari buku Christopher West, Theology of The Body for Begginers. A Basic Introduction to Pope John Paul II’s Sexual Revolution, West Chester. PA: Ascension Press, 2004, hal. 19-30. Selain itu dari buku Deshi Ramadhani, SJ, Lihatlah Tubuhku, Membebaskan Seks Bersama Yohanes Paulus II, Yogyakarta: Kanisius, 2009, hal. 50-70

Beberapa Godaan Setan yang Sering Berkamuflase

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Di zaman sekarang ini, kebanyakan godaan setan tidak dalam bentuk yang menakutkan seperti mitos dan film horor yang sering terlihat di tv. Godaan setan cenderung hadir dalam hal-hal yang tidak kita sadari, yang jelas merupakan penolakan kita terhadap undangan Allah.

Banyak orang yang sukses dan rajin menyumbang di dalam suatu lingkungan gereja bahkan, mereka rutin menyumbang sebagai ucapan syukur atas kemurahan Tuhan yang telah memberinya rezeki berlimpah. Tapi, ketika gereja memerlukan dana untuk suatu kegiatan tertentu misalnya bantuan dana untuk retret, seminar, pembangunan gereja, renovasi gereja, mereka pada umumnya sering lupa, kalaupun ada niat mau nyumbang; terselip juga keinginan untuk mendapat balasan seperti membeli kupon bazaar dimana, sebagian dana bazar tersebut akan disumbangkan untuk kegiatan tertentu. Hal ini, mengingatkan saya pada Markus 10:25 :"Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah"; hal ini dapat diartikan betapa terikatnya manusia tersebut kepada hartanya; yang menjadikannya hamba dari harta tersebut yang membuat dia, begitu menyayangi harta tersebut sehingga membuat dia sukar masuk ke dalam kerajaan surga.

Godaan lainnya adalah ketika seseorang telah menjadwalkan untuk mengikuti kegiatan ibadah namun pada hari h tiba-tiba yang bersangkutan kebanjiran job sehingga, dia lebih memilih menikmati berkat Tuhan dibandingkan mengucap syukur kepada si Pemberi berkat tersebut. Tuhan telah ditukar keberadaannya dengan segala aktivitas, kenikmatan atau kemewahan dunia.

Tanpa sadar manusia berulang kali menolak undangan Tuhan dalam bentuk undangan untuk doa bersama, doa lingkungan, perayaan Ekaristi/Misa, kegiatan krk, retret, seminar yang bertujuan untuk mendekatkan manusia dengan Sang Pencipta. Manusia lebih memilih kegiatan duniawi dibanding, berada dekat Tuhan dan menimba air kehidupan dari sumber Air kehidupan sejati.

Kepandaian manusia malah membuat manusia jatuh ke dalam kesombongan yang seolah-olah mampu membedakan panggilan surgawi dan panggilan duniawi, yang justru sering menjatuhkan manusia ke dalam tipu muslihat si jahat yang menyulap kegiatan duniawi seakan-akan menjadi kegiatan surgawi. Contohnya, ketika seorang anak sibuk dengan gadget ketika misa berlangsung, dengan tujuan agar update status untuk menegaskan yang bersangkutan sedang beribadah kepada Tuhan, dengan harapan orang muda lainnya dapat tergerak untuk misa bareng, atau mengikuti jejaknya yang teratur/rajin beribadah. Mungkin bagi dirinya, kegiatan promosi iman tersebut adalah baik adanya, karena bertujuan untuk mengajak rekan muda lainnya untuk ikut aktif dalam kegiatan gerejani namun, dia lupa bahwa dia sedang berada di rumah Tuhan yang kudus dan seharusnya jauh dari gadget yang dapat mengganggu kekhusyukan misa.

Contoh lainnya adalah, ketika seseorang sibuk mengadakan acara sosial untuk menjamu anak yatim atau orang kurang mampu lainnya. Bagi dia, kegiatan sosial ini adalah untuk kemuliaan Tuhan, namun disatu sisi dia enggan untuk terlibat dalam kegiatan gerejani yang juga membutuhkan tambahan dana dari umat yang berkecukupan. Disini, timbul tanda tanya yang besar apakah niat sesungguhnya dari kegiatan amal yang dilakukannya apakah murni untuk kemuliaan Tuhan, atau sekedar pamer bahwa yang bersangkutan peduli dengan kemanusiaan yang juga membutuhkan bantuan dana.
 
Godaan dari si jahat di zaman sekarang ini sungguh sangat cerdik dan menggoda. Kita sering tidak mampu membedakan yang mana yang merupakan kehendak Tuhan dan yang mana yang merupakan kehendak si jahat. Manusia sering jatuh ke dalam pencobaan lantaran terlalu mengandalkan diri sendiri dan lupa untuk menjalin persahabatan yang intim dengan Tuhan yang merupakan sumber kebijaksanaan. Akibatnya, manusia sering jatuh ke dalam kehendak setan/dunia dibandingkan dengan kehendak Tuhan.

Seperti nelayan yang sudah berteman akrab dengan keadaan laut, angin, kondisi kapal dan cuaca; hendaknya setiap manusia pekah terhadap tanda-tanda kehadiran Allah yang sering tersembunyi dalam diri orang miskin, rendah dan hina. Hendaknya, setiap orang percaya senantiasa menimba kasih Tuhan setiap harinya lewat ibadah harian, guna meningkatkan kepekaan hati nurani terhadap kehendak Tuhan sehingga, kita tidak gampang terkecoh dengan kehendak setan yang sungguh ingin memisahkan kita dari kasih Bapa di surga.

Terburu-Buru Menjalani Kehidupan - Part 2

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Aktivitas selama masa sekolah selalu ngangenin. Dulu, sewaktu masih duduk di bangku sekolah, rasanya ingin sekali untuk cepat-cepat tamat dan menjadi seorang mahasiswa; karena dalam pikiranku: “menjadi seorang mahasiswa pasti menyenangkan karena sangat santai, tidak harus bangun pagi dan ngak perlu hafal satu buku untuk menjawab soal-soal ujian".

Sesampainya di bangku kuliah, rasanya penelitian ilmiah dan tugas akhir bagaikan batu berat yang harus di pikul untuk menyelesaikan studi di bangku kuliah. Rasanya seperti mayat hidup ketika harus menghadapi dosen penguji sewaktu meja hijau. Grogi yang dirasakan, nyaris bisa membuat lupa tentang tugas akhir yang disusun sendiri.

Dalam benakku, belajar adalah sesuatu yang membosankan, buku itu seperti sesuatu yang memuakkan yang enggan untuk di buka dan dipelajari kembali.

Kemalasan dan budaya terburu-buru pernah aku alami yang membuatku tak pernah sabaran dalam menunggu sebuah proses. Hal ini terus berlangsung bahkan di saat aku sudah dewasa dan memasuki dunia kerja. Aku ingin segala sesuatunya instan dan terjadi seperti kehendakku dan inilah yang menjadi batu sandungan buatku, sehingga aku harus ketinggalan kereta menuju kesuksesan seperti teman-teman seangkatanku.

Mungkin kesuksesan itu relatif tergantung dari cara pandang seseorang terhadap diri sendiri, tapi buatku sendiri sukses itu masih jauh karena aku perlu menyembuhkan diri dari budaya terburu-buru yang turut membentukku menjadi pribadi yang tidak tahan banting. Kemajuan teknologi belakangan ini juga turut mengambil peranan penting dalam menyebarluaskan budaya instan ini. Tanpa disadari, manusia sedang berjalan menuju budaya instan yang dapat merubah kepribadian seseorang menjadi agresif, iri hati, jahat, dan super duper egois.

Kebanyakan manusia enggan menaiki tangga untuk mencapai lantai atas. Maunya naik lift supaya cepat sampai. Kalau di bangunan tersebut ada lift,.. syukurlah! Tapi kalau tidak ada? Masa kita harus pindah rumah dan membuang kesempatan emas yang mungkin tersimpan di lantai atas bangunan tersebut...? Aku menyadari dulu, pernah melakukan banyak kesalahan karena menyia-nyiakan kesempatan untuk meraih kesuksesan dalam karir, dan saat ini aku hendak mengingatkan mereka yang sedang menuju lantai teratas dalam karir yang sedang dia bangun, untuk terus semangat dan bertahan sekalipun tantangan dan masalah sedang menumpuk.


Sukses itu ngak gampang dan perlu pengorbanan, dibutuhkan juga ketekunan dan keteguhan agar mampu bertahan dalam setiap badai yang dihadapi. Dan salah satu kiat untuk bertahan adalah keseimbangan dalam iman dan intelektual. Mengapa kita perlu iman yang terus bertumbuh? Jawabnya, agar intelektual yang kita miliki tidak menyesatkan kita dan membuat kita jauh dari kebahagiaan dan sukacita di balik kesuksesan. Karena salah satu kunci kebahagiaan adalah bersyukur dan bersyukur itu identik dan erat kaitannya dengan iman yang bertumbuh dan dewasa. Sementara, intelektual yang bertumbuh dan berkembang juga penting, karena tanpa ilmu pengetahuan maka mustahil untuk menciptakan inovasi dan kreatifitas yang terus berkembang dan maju.

Aku berdoa bagi kamu dan diriku sendiri yang sedang meraih tangga teratas dari sebuah kesempatan yang sedang kita jalani masing-masing; jangan berhenti melangkah, jangan berhenti berjuang dan bertindak, dan barengilah semuanya dengan iman pada Tuhan agar sekalipun tidak sukses dalam hal materi di dunia; setidaknya kita bisa sukses dalam meraih mahkota surgawi.

Mari kita berjuang !!!

Cerita-1 untuk Xinxin

Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
07 Desember 2013, bayi mungil hadir di keluarga adikku tersayang. Seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Aku ingat betul kesibukan menjelang kelahiran putri cantik ini. Menentukan nama dan tanggal kelahiran adalah hal yang paling membingungkan. Maklumlah, saya sendiri belum jadi seorang ibu yang tidak mengerti akan kehebohan mempersiapkan kelahiran seorang anak.

Xin Claire Brigitta Willis adalah nama putri cantik ini. Dia merupakan anak pertama dari adik kandungku, sehingga boleh lah saya memanggil dia anak. Heheheheh ^_^.  Anak cewek ini lahir dengan keadaan yang sangat kurus mirip seperti ibu kandungnya, memiliki kulit kemerahan yang bisa saya tebak bakalan putih minimal sawo mateng seperti kulit saya ketika dia beranjak dewasa nantinya.

Xinxin nama panggilannya. Ini adalah nama yang diberikan oleh mamanya, dan bapaknya memberi nama Claire dan ako nya memberi nama Brigitta. Jadi, Xinxin adalah anak kami bersama. ^_^.  Mungkin, Brigitta adalah nama yang tidak familiar, tidak terkenal dan susah disebut. Sayapun tidak tau mengapa mengusulkan nama ini, karena sebelumnya saya berpikir nama yang cocok adalah Jean atau Helena, nama yang sangat familiar dan gampang diingat.

Saya sangat jarang bertemu dengan Xinxin karena tempat kerja saya yang sekarang tidak memiliki sistem cuti. Kalau bisa, semua kalender adalah hitam alias gak ada liburnya. Tahun lalu, saya cuti 4 hari dan itupun masih kena marah bos seolah-olah karyawan tidak mempunyai hak untuk mengurus urusan pribadi. Ada-ada aja alasan orang kota dalam menilai karyawan, namun saya tidak mau menjudge bos saya karena dia berhak menentukan aturan ditempat saya bekerja kini.

Pertemuan terakhir dengan XinXin adalah bulan Mei 2015 lalu, saat transaksi penjualan tanah bokap yang diproses di Pulau Nias tercinta. Saat itu, Xinxin masih berumur kurang lebih 1,5 tahun. Usia yang sangat belia dengan gaya manja khasnya, dia tidak mendekatiku. Mungkin dia merasa asing dengan orang yang baru ditemuinya saat itu. Antara Xinxin dan ako tidak sering terjadi komunikasi lantaran omakbapaknya juga jarang menghubungi akonya.

Xinxin anak yang sangat cantik, manja dan terkadang mandiri. Bisa makan sendiri, minum susu sendiri, nonton sendiri dan main sendiri. Xinxin kecil sangat feminim yang menunjukkan sisi feminim yang tinggi dan semoga dapat diterapkan sebagai wanita seutuhnya ketika dia dewasa kelak.

Banyak harapan yang ku impikan pada Xinxin, makanya namanya selalu ku sebut disetiap doaku. Dia adalah sesuatu yang sangat berharga di dalam dunia ini yang menjadi semangat bukan hanya bagi omakbapaknya, tetapi untukku juga. Melihat Xinxin tumbuh dewasa adalah hal yang indah sekaligus tanggungjawab yang berat untuk menuntun dia dekat dengan Tuhan Yesus sebagai satu-satunya sumber harapan dan kekuatan dalam hidup di dunia ini.

Brigitta nama pelindung Xinxin ku harapkan menjadi inspirasi baginya untuk meneladan Santa Brigitta, yang saleh dan memiliki kerendahan hati, serta wajah yang selalu tersenyum meski kehidupan yang dilaluinya gak gampang. Biografi Santa Brigitta dapat dilihat pada link berikut: klik

Xinxin kecil yang terpisah jarak denganku selalu bertemu denganku dalam doa-doaku. Semoga anak ini menjadi sumber kegembiraan dan sukacita di tengah keluarga dan semoga bertumbuh menjadi anak yang cerdas secara intelektual dan spritual. Saya yakin, Tuhan akan menjaganya seperti Tuhan menjaga Santa Brigitta dari setiap kesulitan yang dilaluinya.

Xinxin kecil, jangan pernah lupa akan sejarahmu ^_^