Mengenal dan Memahami Kebenaran Relatif

 Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Jika kita mengikuti perkembangan berita belakangan ini, ada hal-hal yang sangat membuat bingung karena yang namanya kebenaran sudah menjadi kebenaran subjektif yang, artinya sebuah kebenaran itu akan menjadi benar dan baik menurut orang tertentu tapi, hal tersebut tidak berlaku bagi orang lain.

Beberapa kasus diantaranya seperti masalah LGBT dimana terdapat dua sudut pandang yang saling bertolak belakang; bagi kaum LGBT hal ini adalah normal, tapi bagi kaum awam religius fanatik dan awam pada umumnya, LGBT itu adalah penyakit dan penyimpangan. Untuk lebih dalam mengenai pembahasan topik ini bisa dilihat pada artikel lainnya, namun disini yang mau saya sampaikan adalah bahwa nilai kebenaran subjektif peningkatannya sudah sangat tinggi.

Kasus lainnya seperti masalah aborsi, dimana dunia medis menghalalkan tindakan aborsi pada situasi dan kondisi tertentu sementara gereja Katolik melarang dengan tegas. Kasus lain yang lebih sederhana adalah kasus permohonan maaf Mulan Jameela kepada Maia Estianti yang sangat kontroversial. Sebagian orang akan mengklaim tindakan Mulan adalah salah, sebagian akan mendukung tindakan Mulan, yang terlihat di publik adalah kebenaran subjektif yang sangat menghakimi dalam sebuah kasus.

Di dalam keluarga sendiri, bisa juga terjadi perselisihan akibat kebenaran subjektif ini; sebagai contoh seorang anak yang meminta izin bermain video game sesaat setelah selesai makan malam. Ibu, akan melarang keras anak tersebut untuk bermain video game berhubung besok akan ujian, sementara ayah memperbolehkan anak tersebut bermain video game dengan catatan memiliki batas waktu misalnya setengah jam aja; karena jika di paksa belajar terlalu keras maka anakpun bisa bosan, jenuh dan besoknya bakalan lupa semua yang telah dipelajari lantaran terlalu keras dalam belajar. Apa yang dianggap baik oleh ibu, belum tentu baik bagi anak, demikian juga apa yang dianggap baik oleh ayah belum tentu baik bagi anak; anak otomatis akan mengiyakan pendapat ayah yang sejalan dengan keinginannya, dan apakah ini benar?!

Sebagai seorang ibu yang tau akan kebutuhan dan kondisi anak pasti akan merasa bahwa pendapatnya adalah benar sementara ayah yang jarang di rumah dianggap tidak tau kebutuhan dan kondisi anak, dan tentu saja pendapatnya pasti salah demikian pikiran si ibu tersebut, apalagi jika dikaitkan dengan masa lalu ibu tersebut yang memang anak rumahan, kutu buku dan suka belajar. Disini kebenaran menurut ibu tersebut sangat bersifat subjektif karena didasari keinginannya untuk mengendalikan orang lain (anak) sesuai dengan latar belakang si ibu. Ibu menutup kehadiran hiburan di waktu belajar si anak, karena menganggap konsentrasi anak akan buyar ketika anak tersebut bermain game. Namun, jika dikaitkan dengan kondisi anak yang sudah jenuh belajar, hal ini tidaklah benar sehingga pendapat ibu tersebut termasuk kategori kebenaran subjektif.

Banyak hal seperti kasus di atas menjadi kebenaran relatif dan sangat membingungkan karena apa yang kita anggap baik dan benar, belum tentu baik dan benar menurut orang lain. Namun sebagai seorang Katolik yang telah dibaptis berarti sudah mengikat diri dengan hukum dan tradisi gereja Katolik. Hendaknya setiap orang Katolik mencerminkan kekatolikannya dalam bersikap sehingga kebingungan itu tidak sampai menggoyahkan iman. Karena kebenaran relatif yang bersumber dari kebenaran subjektif dapat membuat kita menyimpang dari iman kita.

Sebagai contoh, ketika bertemu kasus pelecehan seksual dengan korban utamanya wanita dan ternyata hamil, jika kita berada pada sisi kemanusiaan, empati yang kita rasakan bisa saja membenarkan tindakan aborsi yang dilakukan oleh wanita yang mengalami pelecehan seksual tersebut. Karena dari sisi medis sendiri sudah memiliki syarat-syarat aborsi yang dilegalkan, jadi kalau sebagai seorang katolik yang tidak mengerti hukum gereja katolik, maka tindakan aborsi tersebut bisa menjadi kebenaran subjektif dan berakhir pada kebenaran relatif; yang pada akhirnya membuat seorang Katolik menyimpang dari iman yang diyakininya.

Di gereja Katolik hukum tentang seksualitas sangat tegas dan jelas. Walaupun banyak perdebatan panjang tentang beberapa hukum gereja Katolik misalkan aborsi, perkawinan, seksualitas (kb alamiah), dll; namun apa yang ditetapkan gereja Katolik adalah bersifat de facto. Seorang Katolik harus menerapkan hukum kanonik dengan sadar dan waras, artinya tidak berdasarkan perasaan-perasaan tertentu yang berhubungan dengan kasus tertentu. Karena ketaatan terhadap pemimpin tertinggi gereja Katolik merupakan ketaatan terhadap Kristus sendiri, seperti ada tertulis dalam Matius 16:18 : ”Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya”. Dan Perlu diingat kembali bahwa Pemimpin tertinggi gereja Katolik adalah penerus rasul Petrus.

Jadi, kebenaran relatif dengan kebenaran subjektif sangat berkaitan erat karena yang membuat manusia merasakan kebenaran relatif adalah karena dia berada dalam kebenaran subjektif yang keluar dari hakikatnya sebagai umat Katolik. Sikap menghakimi dalam kebenaran subjektif sangat bertentangan dengan Firman Tuhan yang mengharuskan kita untuk saling mengasihi satu sama lainnya sebagai wujud kasih kepada Tuhan. Yohanes 13:34: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”.

Untuk itu, apabila kita menginginkan kebahagiaan dalam hidup ini, hendaknya kita berlaku sesuai dengan kodrat sebagai manusia yang memancarkan keilahian Sang Pencipta, dan jangan sampai jatuh ke dalam kebenaran relatif, yang dapat membuat diri kita jauh dari kebahagiaan yaitu jauh dari Tuhan sang sumber kebahagiaan sejati di dalam hidup ini.


Putus Cinta

 Ditulis Oleh: Irse Wilis

Banyak hal yang bisa mejadi pemicu berakhirnya sebuah hubungan cinta. Yang paling fatal dan tidak bisa ditolerir adalah ketika komitmen dilanggar dengan sengaja. Ketika komitmen dilanggar dan diakhiri sepihak atau oleh kedua belah pihak maka, tidak ada kelanjutan lagi untuk hubungan yang telah terbentuk.

Kedewasaan pribadi diperlukan dalam sebuah hubungan cinta, karena tanpa kedewasaan maka konflik yang timbul dapat menjadi permasalahan besar bagi diri yang bersangkutan. Karena tidak dewasa identik dengan sifat dan sikap manja dan egois yang dapat menjadi sumber permasalahan dalam suatu hubungan.

Jika putus cinta sudah terjadi, tidak perlu menutup diri sampai seabad lamanya. Tidak perlu menangis sampai bertahun-tahun, sebab yang membuat kamu memasuki rasa ini adalah kamu sendiri. Bukan orang lain!

Setiap orang pernah salah dalam mengambil keputusan. Mungkin terlalu terburu-buru, mungkin terlalu mabuk sehingga tidak sadarkan diri saat menjalin hubungan cinta dengan kekasih hati.

Untuk itu, sedari awal perlu disadari akan kehadiran Tuhan yang menopang. Ingat loh bahwa Tuhan yang mempertemukan dan Dia juga berhak memisahkan kita. Jadi, ketika Dia melihat orang yang kita sayangi kini tidak baik, tidak seperti Dia yang adalah CINTA SEJATI, mungkin Tuhan memberi perpisahan sebagai suatu jalan terbaik untuk masa depan kita. Mungkin, saat ini hati penuh amarah, kesedihan terlalu memuncak, kekecewaan menghujam bak pisau belati yang tajam, tapi sadarlah bahwa kamu berharga.

Adalah lebih baik berpisah sekarang daripada entar sudah nikah dan baru ketahuan buruknya kek apa. Belajarlah bersyukur dan pandanglah Yesus yang mencintaimu lebih besar daripada cinta kedua orang tuamu. Yesus tidak akan meninggalkan kita bahkan disaat tergelap di dalam hidup ini.

Bicaralah dengan pembimbing rohani ketika masalah terlalu berat dan membebanimu, dan yakinilah bukan kamu satu-satunya yang pernah merasakan pedihnya putus cinta.

Agar mengurangi resiko putus cinta, maka perlu pemahaman yang benar tentang jatuh cinta dan cinta agar tidak terjerat dalam hubungan yang sementara.

Marilah bertumbuh dalam cinta sejati pada Yesus sang Cinta Sejati.

Hubungan Cinta

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Setelah mengenal jatuh cinta maka tahapan setelahnya adalah memutuskan untuk komit dalam mencintai orang yang membuat kita jatuh cinta tersebut. Disinilah sebuah hubungan terbentuk yang sering disebut, hubungan pacaran dimana, manusia yang telah jatuh cinta mulai serius dalam membina perasaan jatuh cinta tersebut menjadi cinta sejati. Cinta sejati merupakan cinta yang mengikat, cinta yang bertanggung jawab, cinta yang komplit. Cinta yang membuat seseorang merasa penuh karena kebutuhan cintanya terpenuhi oleh orang yang tercinta.

Tidak jarang dalam hubungan cinta ini, manusia sering salah kaprah akibat terlalu di mabuk cinta dan menduakan Allah dalam kehidupannya sehari-hari. Sehingga cinta yang harusnya menjadi murni, ternodai oleh nafsu yang menjerat dan mengikat.

Memutuskan untuk mencintai seseorang adalah hak bebas setiap manusia. Tidak ada yang memaksa untuk tetap dalam perasaan cinta tersebut, atau malah meninggalkan perasaan jatuh cinta menjadi pertemanan doang. Saat memutuskan untuk mencintai seseorang harus jelas tujuan akhirnya apa, karena jika seperti daun yang bertiup kesana kemari, mending hubungan yang dibentuk adalah hubungan pertemanan doang, daripada bermain api yang hanya menghangatkan sejenak; tapi ujung-ujungnya malah membakar diri sendiri.

Tujuan akhir dalam suatu hubungan cinta sangat penting karena kita harus sadar betul akan resiko dalam sebuah hubungan cinta. Apabila hubungan cinta yang terbentuk sudah jelas tujuan akhirnya tapi malah menjadi bubar, maka perlu ditinjau kembali apakah kalian berdua masih fase jatuh cinta atau sudah sampai ke tahapan komit dalam cinta (hubungan cinta sudah terbentuk). Karena apabila sudah komit, maka kata bubar itu tidak akan berlaku, karena masing-masing pihak akan berpegang teguh pada komitmen yang telah disepakati bersama.

Untuk itu tidak perlu terburu-buru untuk memutuskan komit mencintai seseorang karena tanggung jawabnya sangatlah besar. Cinta itu tidak seperti cerita sinetron, atau drama yang berakhir bahagia atau menyedihkan. Cinta itu seperti nano nano yang kadang manis, kadang asin, kadang asam, yang sangat ramai rasanya. Komitmenlah yang membuat cinta mampu bertahan, karena komitmen membantu orang yang jatuh cinta untuk menikmati setiap rasa yang telah terbentuk.

Jika, hubungan cinta telah terbina dengan baik, maka hubungan cinta tersebut akan berujung pada pernikahan agar dapat membina cinta yang total, setia, bebas dan berbuah. Tanpa ikatan pernikahan maka hubungan cinta masih seperti bayi yang baru lahir yang tidak tau kapan akan dewasa dan mandiri sendiri.  Sebaliknya, jika hubungan cinta berakhir karena salah langkah atau salah persepsi atau salah mengambil keputusan, maka tahapan selanjutnya adalah patah hati yang dapat dilihat pada tulisan berikutnya.

Bersambung..... next Putus Cinta

Jatuh Cinta

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Tidak ada seorangpun yang dapat mengatur untuk jatuh cinta sama siapa. Tidak ada seorangpun yang bisa tau mengapa harus jatuh cinta sama seseorang. Perasaan itu datang begitu saja, dan berlalu begitu saja. Setiap manusia akan mengalami fase ini. Fase jatuh cinta, hubungan cinta ataupun putus cinta.

Nah, sebagai langkah awal, mari kita melihat apa itu Jatuh Cinta, cekidot:

JATUH CINTA

Menurut Profesor Universitas Syracuse, Stephanie Ortigue, yang mengadakan sebuah studi meta-analisis, jatuh cinta hanya memerlukan waktu sekitar seperlima detik. Setiap orang bisa dengan gampangnya jatuh cinta kepada seseorang yang pertama kali dijumpainya. Ini murni sebagai sebuah perasaan cinta dari Sang Pencipta yang menganugerahkan kita perasaan untuk saling mencintai.

Bahkan mereka yang sudah menikah konon bisa merasakan jatuh cinta lagi kepada pihak lain, yang bukan pasangan hidupnya. Apakah ini salah?! TIDAK! perasaan ini tidak salah sampai manusia yang bersangkutan memutuskan, apakah akan meneruskan perasaan ini ke tahapan yang lebih lanjut, atau tidak. Jika sudah berpasangan dan jatuh cinta lagi dan kemudian menjalin hubungan lagi, ini jelas merupakan sebuah DOSA besar yang mengingkari pernikahan tersebut. Mengenai pernikahan, itu bukan suatu ritual belaka untuk mengsahkan dua sejoli. Pernikahan dalam gereja Katolik adalah KUDUS dan merupakan  bentuk keterikatan dengan Kristus sendiri sebagai Kepala sesungguhnya dalam suatu keluarga. (Pembahasan lebih lanjut dapat diikuti di kelas TOB/ artikel lainnya).

Jatuh cinta adalah hal yang sangat indah karena hormon bahagia dalam diri manusia akan terlepas otomatis, hormon inilah yang membantu terciptanya rasa bahagia yang cenderung berlangsung tidak lama sampai hubungan tersebut masuk ke jenjang berikutnya. Beberapa hormon yang dimaksud adalah: Pheromones : bikin naksir seseorang, bikin ngelamun.. dan membayangkan dia terus, hormon Oxytocin : bikin kangennn, pengen liat orangnya bentar ajah, liat doang beberapa detik, hormon Vasopressin : bikin setia, “you know you are the only one..” dan hormon Norepinephrine : bikin semangat, hepi, ceria, bahagia, pengen senyum terus, jadi makin cantik/tampan. Sumber, silahkan klik

Jatuh cinta adalah proses awal bagaikan pintu utama untuk masuk ke dalam sebuah rumah, dimana rumah itu merupakan hati dari seorang gebetan .

Jadi, penting sekali untuk mengenali pintu ini. Apakah layak di buka dan dimasuki ataukah dianggap berlalu saja. Hal ini menjadi penting karena apabila langkah awal salah, maka dapat dipastikan jalan yang akan ditempuh bakal berliku dan panjang. Untuk itu perlu tetap logis dalam fase jatuh cinta agar tidak salah langkah.
Logisnya seperti ini: berdoa dan minta tuntunan Roh Kudus apakah yang bersangkutan layak dijadikan pacar atau teman doang, pelajari backgroundnya seperti apa, keluarganya bagaimana, tinggal dimana, bagaimana dia menghadapi masalah, bagaimana kesehariaannya, dll. Cara logis lainnya adalah berteman lebih lama dan lebih banyak dengan teman-teman gebetan untuk menilai calon pengisi hatimu. Jangan malah mabuk cinta dan terbuai mimpi yang malah akan menjauhkan kita dari realitas kehidupan.

Yang lagi jatuh cinta, jangan lupa berdoa ya.. dan bawa Tuhan dalam setiap keputusanmu.

Bersambung..... next Hubungan Cinta

Analogi Resleting-2 dalam Hubungan antar manusia

 Ditulis Oleh: Irse Wilis
 
Resleting memiliki banyak bentuk dan warna yang berbeda-beda, ada yang berwarna merah, biru, hitam, kuning, dll. Ada yang ukurannya pendek, ada yang ukurannya sedang dan ada yang ukurannya panjang. Ada yang berbahan keras seperti besi, dan ada yang berbahan lembek seperti kain.

Seperti juga hubungan keluarga; ada keluarga besar, ada keluarga mini, ada keluarga orang kaya, ada keluarga sederhana, dan ada juga keluarga miskin, banyak jenis hubungan di dunia ini yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Apabila separoh dari resleting kain, digabungkan dengan separoh resleting tas.. apakah itu menjadi paduan yang pas? Bisakah kepala tesleting menutup dengan mudah? Saya pikir tidak!  Dan bentuknya pun akan menjadi aneh.

Sama seperti seseorang Katolik yang berusaha masuk ke lingkungan hidup orang beragama lain. Pasti TIDAK akan selaras! Pola pikir dan perbuatannya pasti bertentangan. Memang keberagaman itu indah. Tapi tidak untuk mencampuradukkannya. Setiap orang, berdiri dengan keyakinan yang dia anut. Tanpa berusaha memaksa untuk mengubah orang lain menjadi seperti dirinya.  Sama seperti resleting tadi, kalo resleting kain, pasti akan ideal jika ketemu kain yang pas. Bukan malah dipasangkan ke celana jeans atau tas ransel. Itu tidak akan berfungsi dan mungkin malah memperburuk penampilan.

Jadi, jika seseorang mirip seperti resleting kain, janganlah sesekali berusaha masuk ke celana jeans atau koper. Itu tidak akan pas karena bukan pasangan yang pas. Hal ini TIDAK berarti bahwa kita tidak boleh berteman dengan orang lain. Karena sama seperti resleting yang punya bentuk dan warna yang berbeda-beda tapi masing-masing punya peranan tersendiri dan punya tempat tersendiri. Resleting yang berwarna merah, akan apik jika dipasangkan dengan celana yang berbahan dasar merah. Sama seperti seorang Katolik, akan sangat ideal jika dia berkumpul bersama kawanan seiman, sevisi dan semisi yang sama,agar semakin bertumbuh dalam iman.

Apakah resleting biru dan resleting warna lainnya tidak boleh bertemu? Bersama dalam tempat yang sama?

Coba perhatikan toko benang/kancing..  di stelengnya pasti telah tersusun aneka warna dan jenis resleting. Semuanya bisa bersentuhan tapi pemakaiannya harus sesuai pada tempatnya. Seperti kita yang beranekaragam ini, boleh berteman, boleh bersahabat, tapi tidak untuk bersatu (bersatu dalam ikatan pernikahan).

Ingatlah quote yang berbunyi: air dan minyak tidak akan pernah bersatu demikianlah resleting kain tidak akan bisa bersatu dengan segala sesuatu yang berbahan dasar keras seperti koper atau jeans yang tidak sesuai dengan bahan dasar resleting tersebut.

Adiksi yang Perlu diwaspadai dan dihindari

Ditulis Oleh: Irse Wilis
Adiksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kecanduan atau ketergantungan secara fisik dan mental terhadap suatu zat/hal tertentu. Jika seseorang memiliki adiksi, manusia tersebut akan merasakan perasaan terikat yang pastinya TIDAK BEBAS. Manusia seperti robot dan menjadi hamba dari adiksi tersebut. Contoh kasus: Seseorang yang suka main gadget, akan mendewakan gadget tanpa disadarinya. Gadget jadi kebutuhan penting dan yang bersangkutan bisa uring-uringan tak jelas jika jaringan lemot, atau gadgetnya hang lantaran terlalu banyak aplikasi yang dijalankan. Pola perilaku agresif menjadi salah satu hasil akhir dari adiksi gadget. Saya pribadi pernah mengalami adiksi game yang parah sewaktu kuliah dulu. Hasil akhirnya, boleh ditanyain sendiri pada sahabat saya, yang mengakui bahwa tingkah laku saya menjadi aneh setelah kecanduan bermain game. Game yang saya mainkan saat itu adalah game online di aplikasi facebook. Saya bisa tahan duduk berjam-jam di depan laptop hanya untuk mendekor ruangan cafe maya tersebut. Saya sering marah ketika jaringan tiba-tiba lemot, dan nyaris melupakan doa harian yang sudah menjadi rutinitas saya. Dalam segala hal saya menjadi gampang marah, tidak sabaran dan cenderung mati rasa. Fisik sayapun menjadi terganggu, yaitu bahu kanan saya sering pegal jika terlalu lama memegang mouse.

Pengalaman saya di atas merupakan salah satu contoh kecil hasil akhir dari sebuah adiksi. Terlihat jelas bahwa adiksi itu tidak hanya merusak mental tapi juga dapat merusak fisik. Hal yang sama juga berlaku untuk jenis adiksi lainnya dimana, hasil akhir sebuah adiksi sudah pasti tidak akan berbuah manis, selalu ada efek negatif yang merugikan diri sendiri dan pada akhirnya akan berdampak negatif pada lingkungan dan sesama. Adiksi pornografi dan masturbasi contohnya, adiksi jenis ini tidak secara langsung berdampak negatif pada orang lain karena tidak berinteraksi langsung dengan manusia lainnya, namun apabila adiksi ini telah menahun, maka yang bersangkutan bisa terkena kerusakan jiwa yang tidak disadarinya. Hubungan seksual menjadi tidak terpuaskan lantaran telah terbiasa merangsang diri sendiri (masturbasi), sehingga perlu explore ke hal-hal lain agar dapat membangkitkan libido. Perilaku seperti ini, akan sangat mengganggu pasangan yang telah menikah. Hal ini termasuk dalam gangguan seksual sebagai salah satu buah dari adiksi pornografi atau masturbasi.

Adiksi tidak gampang hilang karena menyangkut kesenangan, yaitu sesuatu yang menyenangkan daging manusia. Semua manusia memiliki kelemahan di tubuhnya dimana ketika keinginan daging tinggi, maka suara kebenaran yang muncul dari hati nurani akan pelan-pelan menghilang tertutupi keinginan daging tersebut. Adiksi sangat berbahaya jika tidak segera ditinggalkan, karena adiksi membuat seseorang seperti kecanduan narkotika, yang membuat tubuh senang pada saat ini, namun akhirnya malah merusak tubuh dan bahkan bisa mengakibatkan kematian rohani yang ditandai dengan hilangnya kasih, hilangnya empati, simpati, dan menjadi mati rasa.

Di zaman sekarang ini terdapat berjuta godaan yang menghampiri kehidupan manusia. Iblis tidak hadir dalam bentuk yang menyeramkan. Dia hadir lewat sesuatu yang penampilannya baik namun tujuannya jahat. Sesuatu yang mengikat dan mengekang manusia sehingga manusia menjauhi terang dan lebih mendengarkan keinginan diri sendiri, lebih memilih hidup sendiri dibanding bersosialisasi dengan sesama manusia untuk berbagi pengalaman pahit dan manis dalam menjalani hidup ini.

Tidak akan ada pertumbuhan iman jika kita tidak keluar dari “keakuan” kita. Tidak akan ada terang yang menyinari dunia jika setiap orang hanya berada di dalam tempurung, karena kegelapan dunia sudah sangat pekat sementara anak-anak Tuhan sedang terlena dalam ikatan adiksi yang menimbulkan fantasi menyenangkan tersebut.

Saya teringat suatu quotes yang mengatakan bahwa, takut atau sungkan menolak sesuatu yang salah adalah langkah untuk menyetujui sebuah adiksi, maka tindakan mencoba-coba terhadap sesuatu yang tidak baik adalah suatu bentuk menyetujui kehidupan dosa yang sudah menanti di ambang pintu kehidupan kita. Ketika kita telah menyetujui kehidupan dosa, tentu hal ini akan membuat rahmat Tuhan menghilang dari kehidupan kita, damai dan sukacita akan pergi, karena kehidupan dosa akan menutup akses bahagia dan sukacita yang hanya terdapat dalam hubungan mesra dengan Allah sebagai sumber kebahagiaan sejati.

Jadi, marilah lebih bijaksana dalam menjalani hidup ini dalam memilih hal yang baik dan yang penting dalam hidup ini bukan hanya sekedar hal yang menyenangkan dan menyesatkan.

Kebahagiaan itu adalah milik semua orang, jadi jika Anda tidak bahagia jangan tanya mengapa, tapi lihatlah apakah ketidakbahagiaanmu itu merupakan hasil persetujuanmu; terhadap pilihan untuk tidak bahagia lewat adiksi atau perbuatan dosa lainnya

Marilah kita refleksikan hidup kita masing-masing.

Perempuan Seutuhnya

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Perempuan dikodratkan sebagai penolong kaum Adam. Apakah ini lantas berarti bahwa kita bebas menjadikan perempuan sebagai pembantu? Kan penolong identik dengan pembantu?

Perempuan adalah makhluk Tuhan yang indah sama seperti lelaki. Walaupun lemah dalam hal kekuatan fisik, namun perempuan mempunyai hati yang kuat jika dia mampu menyadarinya. Buktinya, banyak para janda yang membesarkan anaknya sendiri, banyak perempuan yang bisa bertahan dalam pernikahannya yang penuh dengan KDRT, banyak perempuan yang mampu memaafkan sekalipun tersakiti dengan teramat dalam, dan lain-lain.

Perempuan yang seperti itu mungkin kelihatan bodoh. Mengapa masih bertahan jika suami suka memukul? Mengapa bisa memaafkan kalo ternyata suaminya berselingkuh lagi? Kok bodoh kali ya?! Mungkin masih banyak yang menilai perempuan sebagai makhluk yang lemah dan bodoh. Meskipun sekarang ini emansipasi wanita sudah kuat berdengung, banyak perempuan tangguh yang sukses jadi entrepreneur dan banyak tokoh perempuan sukses lainnya, tidak serta merta menghilangkan opini publik tentang kerapuhan  seorang perempuan.

Perempuan membuat dirinya menjadi tidak berharga ketika perempuan tersebut hanya menjadikan tubuhnya sebagai objek kepuasannya sendiri. Hal-hal duniawi dikejar dan melupakan hal-hal surgawi yang seyogyanya menjadi sumber kekuatan dasar dalam diri seorang perempuan. Lihatlah Bunda Maria, betapa kuat dan suci hatinya. Kekuatannya berasal dari Allah, sehingga dia dipilih menjadi Bunda Penebus dunia. Kekuatan hatinya memampukan dia bertahan menghadapi kenyataan bahwa anaknya dibunuh dengan kejam. Hatinya tegar sekalipun keinginan hatinya mungkin bertentangan dengan kehendak Tuhan. Ibu mana sih..? yang rela melahirkan dan membesarkan anak kalo toh ujungnya akan dibunuh demi penebusan manusia? Seorang ibu pasti memiliki harapan untuk bisa hidup dan tinggal lebih lama dengan anaknya dan melihat anaknya tumbuh dewasa dan beranak cucu (maksud dari keinginan hati yang bertentangan dengan kehendak Tuhan). Tapi Bunda Maria sungguh menghadirkan Allah dalam dirinya sehingga dia mampu memikul salibnya dengan melahirkan, membesarkan dan menerima kembali jasad Yesus di pangkuannya. Inilah contoh kerendahan hati, ketaatan yang penuh pada kehendak Tuhan sehingga hidup Bunda Maria sungguh kuat dan tegar.

Sebagai perempuan yang dikodratkan untuk menjadi seorang penolong, hendaknya setiap perempuan sadar bahwa menjadi perempuan adalah menjadi penolong bukan menjadi pemimpin (dalam konteks kehidupan berumah tangga). Penolong tidak sama dengan pembantu. Penolong adalah seseorang yang memiliki kesetaraan dengan pihak yang ditolongnya. Penolong melengkapi kekurangan dan kelebihan orang yang ditolongnya, sehingga penolong ini merupakan suatu hal yang penting yang tidak bisa terlupakan apalagi terabaikan. Karena tanpa penolong, maka Adam sama seperti Adam yang pada mulanya hanya seorang diri dan tidak memiliki penolong yang setara dengannya. Penolong memiliki sifat yang setia untuk tetap mendampingi karena ketergantungan dengan pihak yang ditolong. Penolong juga akan bertahan sekalipun pihak yang ditolongnya mengacuhkan atau mengabaikan dirinya, karena penolong memiliki kasih yang besar kepada pihak yang ditolongnya.

Jadi, emansipasi wanita bukan berarti mendorong setiap perempuan untuk bertingkah diluar kodratnya dengan menjengkali kaum Adam, seakan-akan kuat berdiri sendiri; tanpa Adam sang pemimpin yang menjadi wakil Kristus di dunia ini. Wanita yang terlalu independen akan mengakibatkan dirinya terluka sendiri karena mengikari sebuah kenyataan bahwa dia membutuhkan pemimpin yang mampu menolong dia ketika dia sedang lemah dan jatuh.

Baik laki-laki atau perempuan tidak akan mampu berdiri sendiri tanpa kerjasama diantara keduanya. Karena persekutuan antara keduanya merupakan tanda kehadiran Allah yang menghidupkan, menguatkan dan memberi harapan bagi manusia lainnya. Karena Allah sungguh hadir di dalam diri laki-laki atau perempuan yang taat kepadaNya.

Jika ingin keluar dari opini publik yang menjatuhkan harkat dan martabat perempuan, sudah seharusnya para perempuan kembali ke kodrat asalnya sebagai penolong yang menghidupi Kristus dalam kehidupannya sehari-hari. Kristuslah yang akan menuntun perempuan menjadi seperti bundaNya yang kuat dan setia kepada Allah; sehingga mampu bertahan meskipun badai kehidupan begitu kuat menerjang.