Analogi Rumah Dalam Konteks Kehidupan Manusia

 Ditulis Oleh: Irse Wilis

Ketika memasuki dunia ini, kita seperti sedang berjalan masuk ke dalam sebuah rumah; dimana rumah tersebut memiliki ruangan-ruangan khusus sesuai fungsinya. Ada rumah mewah, ada rumah sederhana dan ada rumah yang sangat sederhana. Beranekaragam bentuk rumah menggambarkan keluarga tempat kita dilahirkan apakah keluarga kaya, menengah atau miskin. Kita tidak dapat memilih mau memasuki rumah yang mana karena semua sudah diatur oleh Sang Pencipta, yang mengutus kita untuk masuk ke tiap-tiap rumah sesuai dengan kehendakNya.

Hal ini, bukan berarti bahwa Allah tidak adil dengan menganugerahkan kesempatan berbeda bagi tiap manusia. Allah adil, termasuk saat Dia menempatkan kita di dalam rumah yang sangat sederhana. Kita hanya perlu tau, apa maksud Tuhan dalam kehidupan ini di dalam rumah ini. Pengetahuan tersebut hanya akan terpenuhi jika kita bergaul akrab dengan Dia sumber pengetahuan dan kebijaksanaan. TuntunanNya, akan mampu menjadikan kita sebagai mutiara yang berharga di suatu keluarga/komunitas tertentu.

Keberagaman di dunia ini adalah akibat dari manusia yang memilih untuk berjuang sendiri tanpa Allah (Ingat kembali kisah pengusiran Adam dan Hawa dari Taman Eden; dimana saat itu manusia telah memberontak pada Allah dan mulai hidup seperti Allah yang tau akan apa yang baik dan yang jahat). Pemberontakan manusia terhadap Allah adalah langkah awal manusia yang memilih untuk berjuang sendiri dalam mengarungi kehidupan ini. Dosalah (dosa asal), yang membentuk perbedaan-perbedaan dalam kehidupan manusia; antara orang kaya, orang miskin, dan orang berkecukupan.

Rumah tempat kita berada saat ini ibarat sebuah kehidupan yang memiliki tempat-tempat khusus. Ada lorong yang menghubungkan antar ruangan dan ada tangga untuk mencapai bagian rumah/ bagian kehidupan yang lebih tinggi; dimana semakin tinggi kita melangkah ibarat seperti mencapai lantai atas dari sebuah gedung tinggi, dimana langit dapat dipandang dengan luas (mampu merasakan Allah lebih dekat dan nyata).


Di sebuah rumah terdapat banyak ruangan; ada ruangan keluarga tempat dimana rasa bahagia, kebersamaan, keakraban terjadi dan terbentuk. Seperti suatu sisi kehidupan dimana kita berada di tempat yang menerima kita sebagai sebuah pribadi dan menyayangi kita dengan kasih yang tulus. Selanjutnya, ada ruangan untuk memasak, dimana aktivitas untuk mematangkan sesuatu terjadi di ruangan ini, sama seperti suatu fase dalam hidup dimana kita diuji dengan berbagai permasalahaan dan penderitaan yang bertujuan untuk mendewasakan kita dalam hidup ini. Ruangan lainnya adalah ruang tamu tempat kita berkumpul bersama tamu-tamu yang datang dalam rumah kita, seperti sebuah fase kehidupan dimana kita bertemu banyak orang dan bergaul dengan mereka dalam komunitas/ hubungan khusus lainnya. Di ruang tamu ini terdapat banyak sukacita dan kadang dukacita terutama jika tamu yang datang tidak menciptakan keharmonisan melainkan, menjadi seteru dalam dunia sosial kita. Tempat lainnya dalam sebuah rumah adalah kamar mandi, dimana kita membersihkan segala kekotoran kita dengan air yang segar dan sabun yang wangi; sama seperti suatu fase dalam hidup ini dimana kita membutuhkan pengampunan dosa, untuk membersihkan diri kita dari sedosa-dosa, sehingga menciptakan kesegaran baru dan pertumbuhan iman yang lebih dewasa. Ruang tidur adalah tempat dimana kita mengistrahatkan diri kita sejenak dari segala aktivitas dunia, sama seperti retret/rekoleksi yang kita ikuti yang bertujuan untuk memulihkan kembali bagian rohani kita yang mungkin mengalami kekeringan atau keletihan.

Lorong-lorong di setiap rumah ibarat seperti waktu dan kesempatan untuk merasakan sesuatu sesuai dengan ruangan yang kita tuju; dimana tujuan kita hendaknya selalu mengarah ke lantai atas untuk lebih dekat dengan pemandangan langit; yang tentunya lebih indah dan tenang, sama seperti suatu fase kehidupan yang telah mengalami kedewasaan iman dan kebijaksanaan; sehingga mampu mengolah setiap persoalan/permasalahan dari sudut pandang kacamata rohani.

Tangga yang menghubungkan lantai bawah dan lantai atas ibarat tempat dimana kita dididik untuk lebih mengenal Dia; seperti komunitas doa, atau kelompok kategorial lainnya dimana tempat itu merupakan wadah dan perantara kita, untuk masuk dalam tahapan pertumbuhan iman yang lebih dewasa.

Begitulah, bagian-bagian dari sebuah rumah yang beranekaragam bentuk dan warna yang menciptakan sebuah keindahan dalam dunia ini. Seseorang perlu mampu memahami arti dirinya sendiri, agar mampu bertahan hidup dalam sebuah rumah dalam setiap lorong dan ruangan yang akan dilewatinya.

Semoga kita semua hidup semakin mengarah ke atas dan jangan stuck di tempat yang nyaman terus menerus; karena hal itu tidak baik bagi diri kita sendiri. Sama seperti jika kita terus berada di dalam kamar mandi, kita tidak akan mampu menikmati bagian rumah lainnya dan tidak akan lebih sehat; karena berada di dalam kamar mandi dalam jangka waktu yang lama, bisa membuat badan menggigil kedinginan; sama seperti manusia yang terlalu religius yang dapat berujung pada fanatisme dan jauh dari logika.

Nikmatilah rumah dimana kita berada, dalam setiap ruangan yang harus kita lewati dan tempati, dan percayalah bahwa kita akan menemukan sesuatu yang berharga di setiap sudut dalam rumah tersebut. Semoga Tuhan menyertai langkah kita selalu dan memberikan pengertian akan arti kehidupan bagi kita pribadi lepas pribadi.Semoga...Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar