Cerita dan Analogi Pohon di Suatu Taman

Ditulis Oleh: Irse Wilis

Di suatu desa, yang masih sangat asri dan hijau terdapat banyak pepohonan dan tanaman rindang lainnya. Tampak dari jauh, sebuah pohon cendana yang telah dipagari. Di sekelilingnya terdapat pagar yang membuat jarak pemisah antar pengunjung taman itu dengan pohon tersebut. Pohon tersebut begitu rindang dan sangat indah sehingga banyak sekali yang ingin mendekati pohon tersebut atau hanya sekedar untuk berfoto di pohon indah tersebut.

Di suatu siang yang terik, pohon tersebut menggerutu kepada langit yang ada di atasnya. Diam-diam, ternyata pohon cendana tersebut menyimpan amarah kepada pemilik yang telah memeliharanya sampai saat ini.

Dalam desiran bayu yang menggerakkan daun-daunnya..si pohon cendana berteriak, "Aku benci keadaanku ini!, aku tidak dapat disentuh dan menyentuh mereka yang ada di sekeliling ku, pagar ini membatasi ruang gerakku!"

Langit yang diatasnya cuman tersenyum dan semakin membiru akibat pantulan biasan sinar matahari di siang itu.

Samar-samar terdengar dan terasa oleh si pohon cendana, seorang anak kecil yang memeluknya dari bawah.

Anak tersebut begitu nakal, dan berusaha memanjati pohon cendana yang begitu tinggi menjulang.
Di tengah peristrahatannya sambil memeluk si pohon cendana,  si anak kecil berkomentar. .katanya:
"Hai pohon cendana..kamu sangat indah dan begitu besar, aku ngak mampu menggapaimu, aku ingin ke atas..ke rantingmu untuk melihat dunia yang ada di sekitarku..aku iri padamu..karena kamu begitu besar..begitu kuat..dan begitu indah, seandainya kamu bisa mengerti perkataan ku..ketahuilah aku iri.." dengan suara kecilnya dia berteriak seolah menjadi tarzan hutan yang perkasa.

Si pohon cendana membalas omongannya dengan gemerisik dedaunan yang dihembus sang bayu di siang yang terik itu.

Perlahan..si anak kecil tersebut mencapai dahan pertama dan duduk bersandar di batang pohon yang telah menguras seluruh energinya di siang itu.

"Wahh..pemandangan sangat indah ya.. di atas sini..! Aku ngak pernah menyangka dunia ternyata sangat luas..! Selama ini yang ku tau hanyalah..rumah dan sekolah..tempatku mondar mandir di setiap harinya" celoteh bibir mungil anak kecil tersebut.

Dalam diam, pohon cendana, kembali berkeluh kesah dalam hatinya:" aku iri padamu bocah! Kamu bisa kesana kemari, sementara aku teronggok diam di tanah ini.., malah dibatasi oleh pagar yang membatasi ruang gerak ku. Aku ngak bisa bersosialisasi dengan tanaman dan pepohonan yang ada di taman ini"

Anak kecil yang seakan mendengar suara hati si pohon cendana tersebut kembali berceloteh sendiri.."aku iri padamu pohon cendana! pemilik taman ini begitu menyayangi mu..memelihara mu dengan baik..memberi pupuk sehingga daunmu rindang dan buahmu banyak.. aku iri karna selama ini, aku tidak pernah dipelihara dengan baik karena kedua orangtua telah pergi meninggalkanku! Kamu dipagari..supaya kamu tidak rusak..oleh tangan-tangan usil yang bisa saja menyayat batangmu..karena kami iri dengan keperkasaan mu! Sudah sepatutnya nya kamu berbahagia..pohon!".

Dalam kemarahannya yang semakin menjadi-jadi..pohon tersebut berbisik lagi dalam hatinya:" aku jenuh dengan keadaan ku ini, yang bagai di sangkar emas. Segala sesuatu begitu terlihat sempurna, padahal aku sangat buruk! Kulit ku berkerut tidak seperti batang pohon pisang yang halus, tidak ada satupun yang sungguh menyayangiku, mereka cuman memanfaatkan aku, menggunakan buahku untuk memperkaya diri mereka, dan menjadikan aku pajangan di balik pagar ini, di taman ini".

Si anak kecil dalam sorot mata yang penuh semangat, mulai mendekati buah pohon cendana. .menciumnya dan menikmati aromanya..wuah..sangat wangi..tidak ada loh...pohon yang menghasilkan buah sewangi ini. Batangmu sangat nyaman..membuatku gampang untuk memanjatimu..coba seandainya batangmu seperti pohon pisang..aku ngak kan sampai sejauh ini.. Kamu indah banget, pohon cendana... !Si anak kecil memeluk pohon tersebut dalam dekapan tangannya yang kecil, seolah-olah menemukan tempat dan teman yang nyaman di siang itu.

Percakapan yang terjadi di siang itu, seolah dua arah, yang saling sahut menyahut sampai senja memisahkan mereka, dan si anak kecil masih terus bermain di taman itu sampai sekarang. Dalam keheningan bersama antara si anak kecil dan pohon cendana terselip perasaan damai yang tidak pernah mereka sadari, baik oleh pohon ataupun oleh anak kecil tersebut ketika dia bermain bersama teman yang lain. Dan si pohon cendana pun mulai menyadari bahwa, dia ngak pernah sendiri; karena kelakuan dan omongan si anak kecil perlahan membuka pikirannya dan menyadarkan dia, bahwa selama ini, hatinya beku sehingga tidak mampu membuka matanya untuk melihat dan menyadari bahwa dia terlalu indah, dan punya banyak teman yang senantiasa berkunjung ke dahan maupun rantingnya; termasuk anak kecil yang bawel ini.

-end-

Manusia itu ibarat pohon, Orang tua adalah pihak yang menabur benih pohon tersebut, yang bertugas untuk menjaga, memelihara dan merawat benih tersebut. Setiap hari benih tersebut di siram dan dipupuk supaya tumbuh subur.

Tidak gampang untuk memelihara sebuah benih sampai bisa tumbuh besar dan subur. Perlu ketekunan, ketabahan dan kekuatan untuk merawatnya.

Kadang dalam perjalanan pertumbuhan benih tersebut, banyak hal yang dianggap buruk oleh benih tersebut.  Contoh, siraman pestisida yang mematikan hama yang dapat menimbulkan penyakit. Seperti omongan kasar, penuh amarah ketika anak berbuat salah. Kadang omongan seperti ini dipandang ngak layak untuk diucapkan.  Mengingat resiko jika larangan tersebut tidak diutarakan, maka omongan kasar tetap dianggap penyelamat, yang mampu membatasi kelakuan anak supaya tidak semakin liar dan brutal. Ada orang yang dari sananya memiliki tutur kata yang lembut, sopan dan bersahaja, dan ada pula yang sebaliknya.  Jika kita mengenal orang tua  kita dengan baik, sudah sepantasnya kita dapat memaklumi perlakuan kasar seperti itu.

Namun, mungkin kita berbantah dan mengatakan, sampai kapan manusia bisa tahan jika dikasari terus?
Nah..kalo ngak tahan dengan omongan kasar tersebut, silahkan diomongkan dengan orangtua karena jika tidak ngomong, maka ngak bakal ada yang tau bahwa kamu terusik dengan kelakuan mereka. Banyak solusi yang tercipta jika komunikasi terjadi secara dua arah.  Jika hal ini masih tidak memungkinkan, mungkin kamu perlu pihak ketiga sebagai penengah atau perantara yang menyampaikan perasaanmu tersebut.

Contoh hal buruk lainnya yang dipandang oleh benih, adalah: pagar yang mengelilingi pohon tersebut.  Dalam cerita pohon cendana di atas, pagar sering dipandang sebagai batasan yang tidak perlu. Anak terkadang tidak sadar betapa liarnya kelakuan mereka, yang dapat membahayakan diri mereka sendiri. Sudah selayaknya orangtua memagari anaknya, agar tidak masuk dalam pergaulan yang salah.

Pagar yang memagari tersebut bukanlah penghalang untuk bersosialisasi. Karena, akan ada pihak-pihak yang mampu menembus pagar itu dan meraih apa yang tersembunyi di balik pagar tersebut. Pihak tersebut adalah teman, sahabat, saudara, saudari atau pasangan hidup.
Sekalipun pagar tersebut mengelilingi pohon cendana; jangan lupa, bahwa pohon tumbuh ke atas bukan ke samping, jadi, dia akan tetap mampu meraih dahan ataupun ranting pohon yang berseberangan atau berdampingan dengan dia, yang artinya bahwa pribadi yang terkekang tetap dapat menjadi seseorang yang berhasil dan mampu meraih kebahagiaan jika dia mau, untuk memulai dan mencoba sesuatu yang mendukung perkembangannya menjadi pribadi yang dewasa secara jasmani dan rohani.

Dan yang terakhir, jangan pernah melupakan, bahwa pertumbuhan itu adalah hak dan kuasa Tuhan. Berserulah selalu kepada Tuhan agar pertumbuhanmu, menghasilkan buah yang baik bagimu dan orang-orang di sekitarmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar